Current Issues

Penelitian: 91 Persen Penyintas Covid-19 Masih Rasakan Gejala Jangka Panjang

Dwiwa

Posted on October 2nd 2020

Covid-19 telah menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menginfeksi lebih dari 34,4 juta jiwa, menurut Worldometers. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini pun tidak pandang bulu, tua muda, kaya miskin, rakyat jelata, bahkan presiden Amerika Serikat Donald Trump pun telah terinfeksi.

Para ilmuwan pun masih terus melakukan penelitian untuk mengetahui lebih lanjut tentang virus yang pertama kali dilaporkan muncul di Wuhan, Tiongkok ini. Hal yang sudah diketahui adalah jika virus ini bukan sekadar menyerang paru-paru, tetapi juga organ lain seperti jantung, ginjal, hati bahkan otak yang letaknya jauh dari paru-paru pada sebagian pasien.

Dan fakta lain yang harusnya membuat kita semakin patuh pada protokol adalah jika sebagian besar penyintas Covid-19 mengalami dampak dalam jangka panjang. Dilansir dari Bestlife, sebuah penelitian mengungkap jika 91 persen pasien yang “sembuh” memiliki setidaknya satu komplikasi akibat penyakit tersebut.

Menurut laporan Reuters, temuan ini merupakan hasil survei yang dilakukan pada 965 penyintas Covid-19 di Korea Selatan. Disebutkan jika 879 responden atau sekitar 91,1 persen melaporkan memiliki setidaknya satu gejala jangka panjang yang ada dalam daftar.

Menurut data Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), kelelahan menjadi yang paling umum dirasakan pasien dengan jumlah mencapai 26 persen disusul dengan kesulitan berkonsentrasi pada 25 persen pasien.

Banyak juga yang melaporkan masalah psikologis dan kehilangan indera penciuman dan perasa yang berkepanjangan meski masa rawat inap mereka telah berakhir beberapa bulan lalu. Temuan ini menjadi tambahan bukti bahwa efek pasca-Covid umum dirasakan oleh penyintas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengeluarkan data yang menunjukkan bahwa ada gejala menetap seperti kelelahan, batuk, sakit kepala, kehilangan indera perasa dan penciuman, dan kebingungan masih umum pada orang berusia 18 hingga 34 tahun dua hingga tiga minggu setelah dinyatakan positif.

Laporan yang sama juga mengungkap jika 40 persen pasien yang bertahan dari pandemi SARS pada 2003, yang juga disebabkan oleh virus corona, menunjukkan adanya gejala kelelahan yang bertahan hingga tiga setengah tahun setelah diagnosis awal.

Mereka menyimpulkan jika munculnya bukti-bukti tentang komplikasi jangka panjang yang berdampak pada hati, paru-paru, otak, dan kesehatan mental pasien secara keseluruhan dapat memberikan tekanan berkepanjangan pada sistem medis lama setelah pandemi mereda.

Penelitian lain tentang gejala jangka panjang Covid-19 menghasilkan hal yang serupa. Pada Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC)  menemukan 35 persen dari pasien yang disurvei tidak sepenuhnya pulih dua hingga tiga minggu setelah di tes positif, dan banyak yang melaporkan merasa kelelahan.

Beberapa ahli pun percaya jika penyakit ini dapat menyebabkan sindrom kelelahan kronis yang dikenal sebagai myalgic encephalomyelitis.

”Bahkan setelah virus ini lenyap, masih ada gejala pasa virus. Sangat tidak bisa betapa banyak orang yang memiliki sindrom pasca-virus yang sangat mirip dengan myalgic encephalomyelitis atau sindrom kelelahan kronis,” ujar dokter Anthony Faucy, ahli penyakit menular kenamaan AS dalam wawancara dengan Medscape pada Juli. (*)

Related Articles
Current Issues
Berapa Lama Sih Kita Boleh Nggak Pakai Masker Saat Ngobrol?

Current Issues
Hati-Hati, Covid-19 Mudah Menyebar di Keluarga

Current Issues
Beda Dengan Flu, Covid-19 5 Kali Lebih Mematikan Bagi Pasien yang Dirawat di RS