Current Issues

Kasus Terus Melonjak Meski Jakarta Terapkan PSBB Ketat

Dwiwa

Posted on October 1st 2020

(The Jakarta Post)

Lonjakan kasus Covid-19 yang tak terkendali di Indonesia membuat pemerintah memberlakukan peraturan yang semakin ketat. DKI Jakarta sebagai penyumbang kasus tertinggi kembali menjalankan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 14 September lalu.

Penegakan aturan dalam PSBB kali ini pun disebut lebih ketat jika dibandingkan dengan sebelumnya. Bahkan Gubernur DKI Jakarta dan kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, menyerukan aturan yang lebih ketat di wilayah Jabodetabek.

Dilansir dari The Jakarta Post, dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhur Pandjaitan, Anies dan Doni menyoroti fakta bahwa Jakarta masih longgar dalam penerapan social distancing padahal ada pemberlakuan aturan lebih ketat.

Menurut Anies, keputusan pemerintah daerah yang hanya mengijinkan restoran buka untuk memberikan pelayanan take away adalah cara efektif untuk mengendalikan penularan, termasuk pada kota-kota di pinggir Jakarta.

“Kami tidak mengijinkan orang makan di restoran. Ini mungkin sulit pada awalnya tetapi kita harus menelan pil pahit. Tetapi jika kota di pinggir Jakarta mengijinkan orang makan di tempat, maka orang Jakarta akan pergi ke sana dan hanya sedikit manfaat dari apa yang kami lakukan,” ujarnya.

Doni pun memiliki pendapat yang sama bahwa para pejabat di daerah sekitar Jakarta harus menerapkan aturan untuk melarang orang makan di restoran, tempat belanja, dan warung makan. “Saran saya semua wilayah di Jabodetabek dilarang makan di dalam, hanya boleh takeaway saja,” ujarnya.

Kota-kota di sekitar Jakarta seperti Bogor dan Depok hanya menerapkan jam malam untuk mall, kafe, dan restoran. Mereka diijinkan buka hingga jam enam dan melayani pelanggan yang ingin makan di tempat saat siang hari.

Baru-baru ini, Bogor memberlakukan jam malam hingga pukul 21.00 WIB, mengijinkan masyarakat dan pedagang kaki lima tetap di luar hingga jam yang ditentukan.

Perdebatan terkait ijin boleh tidaknya makan ditempat ini mencerminkan kurangnya koordinasi dari para pemangku kebijakan di Jabodetabek dalam upaya menghentikan penylaran Covid-19. Selain itu, debat juga membuat masyarakat mempertanyakan mana yang harus diprioritaskan, ekonomi atau kesehatan masyarakat.

Beberapa menteri dalam Kabinet Presiden Jokowidodo juga menyuarakan kekhawatiran mereka jika pembatasan yang ketat akan memberi pukulan ekonomi yang lebih parah.

Menanggapi saran Anies dan Doni ini, Luhut yang diutus oleh Presiden untuk mengawasi pelaksanaan penerapan kebijakan Covid-19 di 10 provonsi mengatakan jika wilayah penyangga Jakarta masih punya waktu seminggu untuk memutuskan apakah akan diberlakukan social distancing yang ketat atau tidak.

“Dua mingguan ini, Saya ingin pemerintah daerah (di Jabodetabek) untuk mengurangi jumlah orang yang makan di tempat. Kami akan memutuskan minggu depan apakah harus melarang total makan di tempat,” ujar Luhut.

Dia mengatakan jika aturan social distancing yang ketat harus mempertimbangkan lebih dari 300 ribu pekerja dalam industri pelayanan yang akan terdampak. Luhut menyebut pemerintah daerah harus mengambil langkah yang diperlukan berdasarkan kondisi setempat yang memungkinkan mereka mengendalikan penyebaran Covid-19, terutama dalam dua bulan ke depan sebelum vaksin mulai dilakukan pemerintah.

Hal lain yang menjadi kunci dalam menangani pandemi menurut Luhut adalah pengiriman obat yang cepat untuk merawat orang yang terinfeksi. Semenjak mengambil alih kepemimpinan penanganan Covid-19 nasional, Luhut telah menjadikan pengiriman obat Covid-19 ke rumah sakit sebagai prioritas.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan peraturan baru yang memungkinkan pasien dengan penyakit penyerta untuk ditanggung BPJS. (*)

Related Articles
Current Issues
Covid-19 Dapat Mengambang di Udara, Jaga Jarak 1,8 Meter Saja Tak Cukup

Current Issues
Ternyata Cewek Lebih Patuh Protokol Covid-19 Daripada Cowok

Current Issues
Jaga Jarak 1,8 Meter Mungkin Tak Cukup untuk Melindungimu dari Covid-19