Current Issues

WHO Siapkan Rapid Tes Covid-19 Bagi Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah

Dwiwa

Posted on September 30th 2020

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan persetujuan terkait penggunaan rapid diagnostic test (RDT) antigen dalam pendeteksian Covid-19. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut akan ada sekitar 120 juta RDT berkualitas yang disiapkan untuk negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Tes ini disebut dapat memberikan hasil yang bisa diandalkan dalam waktu hanya sekitar 15 hingga 30 menit, bukan berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Selain itu, harganya juga lebih murah dan tidak membutuhkan peralatan yang canggih.

Dilansir dari CNN, Tedros mengatakan pada konferensi pers Senin (28/9), jika tes “vital” ini akan membantu memperluas pengujian di daerah terpencil. Wilayah yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau pun tenaga yang handal untuk melakukan pengujian polymerase chain reaction (PCR).

“Rapid tes berkualitas menunjukkan kepada kita di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk pelacakan dan isolasi kontak secara cepat dan menghentikan rantai penularan. Tes adalah alat yang penting bagi pemerintah dalam upaya membuka kembali perekonomian saat berupaya menghidupkan kembali perekonomian dan keselamatan,” ujarnya.

Pesanan pertama diharapkan sudah dilakukan minggu ini dan akan didistribusikan pada 20 negara di Afrika pada Oktober. Direktur eksekutif Global Fund, Peter Sands mengatakan jika tes ini sangat penting untuk melengkapi tes PCR tetapi mengingatkan jika ini bukanlah peluru perak.

“Meskipun kurang akurat, ini lebih cepat, murah, dan tidak membutuhkan laboratorium. Mampu menghasilkan RDT berkualitas akan menjadi kemajuan yang signifikan yang memungkinkan negara-negara untuk menekan dan memerangi Covid-19,” ujarnya.

Tetapi biar bagaimanapun tes PCR merupakan tes diagnostik yang tersebar luas dan lebih akurat untuk mendeteksi orang yang terpapar virus corona. Tetapi, tes ini membutuhkan pasokan khusus, peralatan mahal, dan teknisi laboratorium terlatih, yang menyebabkan terjadinya kekurangan dan kesenjangan pengujian secara global.

Menurut Sands, tes ini akan membantu negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah untuk dapat menutupi kesenangan dramatis dalam pengujian antara negara kaya dan miskin.

Sands pun menyebut jika saat ini negara-negara berpenghasilan tinggi melakukan 292 tes per hari per 100 ribu orang. Untuk negara berpenghasilan menengah ke atas jumlahnya 77. Sedangkan untuk negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah 61 dan negara berpenghasilan rendah 14.

Juru bicara pemerintah untuk penangan Covid-19 Indonesia Wiku Adisasmito dalam jumpa pers pada Selasa (29/9) menyambut baik adanya hal ini. Menurutnya, RDT ini bisa digunakan sebagai fungsi skrining dan mengantikan tes antibodi yang selama ini banyak dilakukan di Indonesia.

Dia juga berharap jika alat ini akan bekerja lebih efektif untuk deteksi dini Covid-19 sehingga tidak membebani PCR sebagai gold standar. Sebagai informasi tambahan, menurut catatan @LaporCovid19 pada Selasa (29/9), tes harian untuk Covid-19 di Indonesia hanya ada di angka 27.901 orang dari standar minimal WHO yang mencapai 38.100. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Pemerintah Tetapkan Harga Tes Swab Covid-19 Hanya Rp 900.000

Current Issues
Mitos Soal Tes PCR Covid-19 Ini Harus Segera Kalian Lupakan

Current Issues
Aturan Baru Karantina Covid Bagi Pelancong, Indonesia 5 Hari - Hongkong 21 Hari