Current Issues

Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?

Dwiwa

Posted on September 28th 2020

Sebuah penelitian terbaru mengungkap jika saat ini kita mungkin sudah memasuki era pandemi. Dan pandemi Covid-19 yang saat ini menyebar di berbagai penjuru bumi mungkin hanya awal dari pandemi global.

Sebuah penelitian yang ditulis oleh ahli penyakit menular Amerika dokter Anthony Fauci dan sejarawan medis dokter David Morens mengungkap hal ini di jurnal Cell. Menurut para pakar di Institut Nasional Alergi dan Penyakit menular ini, akan ada pandemi yang lebih banyak di masa depan.

“Aku tidak memiliki bola kristal, tetapi apa yang kami lihat sangat mirip seperti percepatan pandemi,” ujar Morens kepada BuzzFeed News. Menurutnya, yang menjadi penyebar termasuk diantaranya adalah penggundulan hutan, kepadatan di kota dan pasar basah untuk hewan liar.

Lalu bagaimana perubahan iklim berdampak pada pandemi di masa depan?

Menurut ahli meteorologi Jeff Masters yang menulis untuk Yale Climate Connection, virus bertahan lebih lama dalam suhu dingin dibanding panas. Ini berarti jika semakin hangat sebuah planet akan memperlambat penyebaran virus.

Namun di sisi lain, dia mengatakan jika gelombang panas membuat orang-orang jadi lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup dengan lingkungan ber-AC, dimana penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.

“Florida telah mengalami masa sulit akibat Covid-19 di musim panas ini, terlepas dengan kenyataan bahwa beberapa bagian di Florida mencatat rekor musim panas terpanas. Kompleksitas ini membuat sulit untuk menilai bagaimana perubahan iklim berpengaruh pada Covid-19,” ujarnya kepada USA Today.

Namun beberapa ilmuwan meyakini jika pemanasan global akan memainkan peran yang lebih besar dalam pandemi di masa depan.

“Kami tahu bahwa perubahan iklim mengubah cara kita berhubungan dengan spesies lain di bumi dan itu penting bagi kesehatan dan risiko kita terhadap infeksi,” ujar dokter Aaron Bernstein, direktur Harvard University program T.H. Chan C-CHANGE.

Dia mengatakan ketika planet memanas, hewan-hewan besar dan kecil, di darat dan di laut, menuju ke kutub untuk menghindari panas. Itu berarti hewan akan melakukan kontak dengan hewan lain yang normalnya tidak terjadi, dan itu memberi kesempatan untuk patogen masuk inang baru.

Selain itu, Master mengatakan penyakit yang paling memprihatinkan secara global yang diperburuk dengan perubahan iklim adalah yang disebarkan oleh nyamuk, yang secara alami menyukai tempat yang panas dan basah, kondisi yang semakin umum karena pemanasan global.

Menurutnya, Malaria, Zika, chikungunya, demam dengue, dan virus West Nile diperkirakan akan menyebar ke wilayah yang saat ini tidak endemik. Penyakit yang ditularkan melalui kutu seperti penyakit Lyme juga akan menyebar.

Bornstein mengatakan perubahan iklim telah membuat kondisi yang lebih menguntungkan untuk penyebaran beberapa penyakit menular, termasuk penyakit Lyme, penyakit yang ditularkan melalui air seperti Vibrio parahaemolyticus (penyebab muntah dan diare), dan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti malaria dan demam berdarah.

“Risiko di masa depan tidak mudah untuk diramalkan, tetapi perubahan iklim menghantam banyak hal yang menjadi barisan depan yang berkaitan dengan kapan dan dimana patogen muncul, termasuk suhu dan pola curah hujan,” ujar Bernstein.

“Untuk membantu membatasi risiko penyakit menular, kita harus melakukan apapun untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan membatasi pemansan glogal hingga 1,5 derajat,” lanjutnya.

Terkait kemungkinan apakah perubahan iklim akan memperburuk pandemi di masa depan, Morens mengatakn kepada USA Today jika masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan yang pasti.

“Orang mungkin membayangkan bahwa jika perubahan iklim menyebabkan degradasi dan perubahan lingkungan (melampui apa yang sudah dilakukan manusia), maka kemungkinan kita akan melihat lebih banyak penyakit ini,” kata Morens.

Tetapi dia juga mengatakan jika di sisi lain orang bisa berargumen kita akan melihat lebih sedikit. Pertanyaan ini masih menjadi tanda tanya besar yang mungkin tidak akan memiliki jawaban selama berpuluh-puluh tahun atau bahkan berabad-abad yang akan datang.

Seorang ahli meteorologi Michael Mann dari Penn State University bahkan menyebut jika perubahan iklim merupakan pengganda ancaman. Ini berarti akan membuat ancaman dan tantangan yang ada menjadi lebih kuat dengan meningkatkan kerentanan dan mengurangi adaptasi manusia.

Dia mencontohkan situasi di Puerto Rico, dimana banyak orang meninggal akibat Covid-19 karena alasan sederhana. Mereka belum pulih, dalam hal infrastruktur kesehatan masyarakat, dari dampak dahsyat Badai Maria tiga tahun lalu.

“Tidak ada keraguan dalam benakku jika badai menjadi lebih merusak karena suhu permukaan laut Atlantik tropis yang luar biasa hangat, yang memberikan lebih banyak energi dan kelembaban untuk badai. Pemanasan yang tidak wajar ini hanya dapat dijelaskan dengan memperhitungkan perubahan iklim yang diakibatkan oleh manusia,” ujarnya.

Dia juga menyebut jika kasus bisa terjadi karena hubungan tidak langsung antara Covid-19 dan perubahan iklim. Degradasi lingkungan, termasuk penggundulan hutan, perusakan hutan hujan dan habitat asli untuk pembangunan, dapat mengusir makhluk eksotik pembawa penyakit melalui cara yang mendukung peningkatan kontak dengan manusia.

“Kegiatan yang sama, terutama penggudulan hutan, juga meningkatkan emisi karbon yang menjadi alasan di balik perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia,” ujar Mann. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO: 1 Dari  10 Orang Mungkin Sudah Tertular Covid-19

Current Issues
Penyakit-Penyakit Ini Bisa Bikin Covid-19 Makin Parah, Cek Yuk Apa Saja!

Current Issues
Ahli Penyakit Menular AS Peringatkan Covid-19 Bisa Bermutasi Jadi Lebih Menular