Lifestyle

Doomscrolling, Kebiasaan Scrolling Medsos Tanpa Tujuan Bisa Berujung Depresi

Kezia Kevina Harmoko

Posted on September 26th 2020

(Matthew Waring via Dribbble)

Pasti deh pernah (atau mungkin sering?) scrolling media sosial entah itu Instagram, Twitter, atau mungkin YouTube tanpa tujuan jelas, pokoknya jempol bergerak terus mata melihat sesuatu yang terus berubah. Nggak ada tujuan yang jelas. Itu namanya doomscrolling.

Dan di masa pandemi seperti sekarang, kemungkinan kita melakukan doomscrolling bisa jadi lebih sering karena kita punya lebih banyak waktu luang dan lebih jarang interaksi sosial secara langsung. Padahal, berita negatif juga lebih sering beredar di masa seperti sekarang, jadi nggak heran kalau scrolling media sosial kayak begini jadi tidak menyehatkan bagi mental.

Dilansir dari Psychology Today, beberapa riset menunjukkan kalau selama masa pandemi, peningkatan berita tentang Coronavirus juga membuat penggunaan smartphone meningkat pada mahasiswa di Amerika Serikat dan tingkat anxiety juga ikut naik.

Jadi jelas, doomscrolling ini benar-benar nggak baik buat kesehatan mental kita. Tapi, ketika kita sudah melakukan ini, susah banget buat berhenti. Menurut Jade Wu, psikolog asal Amerika Serikat, ada beberapa alasan nih kenapa kita susah banget berhenti dari doomscrolling ini.

Alasan doomscrolling susah dihentikan

1. Doomscrolling memberi kita rasa kendali

Di tengah pandemi yang belum jelas titik terangnya, kita pengin punya kontrol terhadap situasi sekarang. nah, ketika kita scrolling media sosial atau berita, tindakan ini bikin kita merasa menerima informasi dan kita berpikir bakal membuat rencana untuk menghadapi pandemi ini.

Wajar kalau hanya beberapa waktu. Tapi kalau sudah susah untuk berhenti dan terus-terusan merasa wajib mencari informasi—ini masuk ke doomscrolling. Bukan mencari info lagi, tapi kita cenderung melakukannya karena kita khawatir. Terus-terusan scrolling hanya memberi kita perasaan kontrol yang semu.

2. Sesuatu yang “rewarding” bikin kita senang

Misalnya lagi scrolling berita terus ada komentar lucu, meme segar, atau cerita menarik yang nggak biasa. Sebenarnya, hal-hal seperti ini juga bikin kita pengin terus scrolling karena berharap ketemu lebih banyak hal serupa.

Di psikologi, ada yang namanya variable reinforcement schedule. Ketika ada reward setiap beberapa waktu melakukan hal tersebut, pola ini bakal bikin orang tersebut tertarik dan terus melakukan hal itu. Sama kayak permainan tiket dan juga scrolling di timeline Twitter.

3. Kita pengin ada interaksi sosial

Jelas di masa pandemi interaksi sosial secara langsung jadi berkurang banyak. Di media sosial, yang sudah mengandung kata “sosial”, kita bisa merasakan hubungan sosial dengan berbagai konten ada. Awalnya sih mengomentari unggahan teman, eh keterusan scrolling unggahan lain.

Cara menghentikan doomscrolling

Nah, jadi gimana nih biar kita bisa berhenti doomscrolling? Bukan dengan cara sama sekali menghindari portal berita atau berhenti aktif di media sosial, tapi kita harus punya batasan terhadap apa yang mau kita lihat.

1. Tentukan kita mau cari informasi apa

Daripada scrolling tanpa tujuan jelas, kita harus atur kita mau melihat apa di media sosial atau portal berita. Misalnya mau mencari berita tentang kesehatan mental, fokus ke satu itu aja. Mau ke Instagram, niatnya mau post story teman ulang tahun, ya fokus ke itu aja. setidaknya dengan begini kegiatan scrolling kita bakal fokus ke satu tujuan, bukan ke sana-sini tanpa arah.

2. Bikin limit scrolling setiap hari

Sebuah penelitian di Rusia menunjukkan kalau masyarakat dewasa setempat yang membaca berita tentang Coronavirus lebih dari 30 menit meningkatkan anxiety. Mangkanya, penting buat kita atur waktu scrolling media sosial atau baca berita biar kesehatan mental kita tetap terjaga. Usahakan jangan lakukan ketika akan tidur karena berita buruk dapat mengganggu kualitas tidur.

3. Bersosialisasi langsung

Karena doomscrolling bisa jadi tanda kalau kita butuh interaksi sosial, lakukan sosialisasi secara langsung dan nyata. Langsung mengontak orangnya, bukan lewat unggahan media sosial. Mungkin agak awkward di awal, tapi manusia kan memang makhluk sosial? Tapi ingat, hindari pertemuan fisik karena masih pandemi.

Bisa lewat telepon, video conference biar ramai-ramai, atau mungkin… main Among Us sambil ngecall. Tapi jangan sampai bertengkar karena saling menuduh juga~

4. Pergi ke luar rumah!

Pernah nggak sih ketika selesai sekolah atau kelas, dunia luar berasa terang dan bikin mood naik? Berasa lepas dari kegelapan. Nah, ini adalah respons otak ketika ada cahaya menerpa mata kita. Ini dianggap sebagai alarm untuk otak menganggap hari sudah terang dan memberi kita energi, mood yang bagus, dan kewaspadaan. Pastinya jauh lebih terang di luar rumah kan daripada di dalam?

5. Be mindful

Ketika kita doomscrolling, kita cenderung nggak menyadari apa yang terjadi, apa yang kita rasakan, baik fisik atau mental. Bisa-bisa kita gak tau kalau kita lapar atau kesepian saking asyiknya scrolling.

Dan, menjadi mindful artinya kita menyadari semua yang terjadi dan memberikan situasi yang terjadi perhatian sebagaimana mestinya. Ketika kita lapar, harusnya makan. Ketika kita kesepian, seharusnya kita bicara pada orang di sekitar kita. (*)

Related Articles
Lifestyle
5 Dampak Scrolling Media Sosial Terus-Menerus, Bikin Kita Jadi Gak Realistis

Lifestyle
Lima Alasan Media Sosial Bikin Kita Merasa Insecure dan Benci Diri Sendiri

Lifestyle
Kenapa sih Kita Sering Sedih? Mungkin Tiga Alasan Ini Jawabannya