Sport

Bhinneka Tunggal Ika Berwujud Maskot Asian Games 2018

Mainmain.id

Posted on August 16th 2018

 

Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Itulah semboyan hidup orang Indonesia yang isi negaranya terdiri dari beragam etnis dengan bahasa yang beda-beda. Para bapak pendiri bahkan menggaungkan semboyan tersebut sejak lama sebagai perwujudan sebuah bangsa yang kuat lewat persatuan dan kesatuannya. Akan tetapi, belakangan ini bangsa Indonesia justru harus menghadapi satu masalah besar yang sempat disinggung Presiden Sukarno bertahun-tahun silam.

Bung Karno dulu pernah bilang, perjuangan dia lebih mudah karena mengusir penjajah sementara perjuangan kita—sebagai generasi baru—bakal lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Nah, kata-kata Bung Karno itu salah satunya kejadian pas kita memasuki tahun politik yang ditandai oleh Pemilu 2014. Waktu itu (dan sebenarnya masih kejadian sampai sekarang) bangsa Indonesia lagi ada dalam kondisi yang pecah belah. Enggak jarang, kan, kita menemukan perdebatan yang lengkap dengan ujaran-ujaran kebencian cuma karena masalah beda pandangan yang bikin capek hati? Apalagi kalau kejadian itu ternyata terjadi di mana-mana, di dunia nyata maupun media sosial kayak Facebook, Twitter, bahkan Instagram; seolah-olah kita enggak pernah mengenal semboyan yang telah lama menjadi kekuatan bangsa ini.

Namun demikian, ketika orang-orang mulai lupa sama Bhinneka Tunggal Ika, Asian Games 2018 yang tengah berlangsung di Jakarta dan Palembang ternyata punya pesan bagus yang patut direnungkan. Pesan itu terwujud dalam slogan “Energy of Asia” dan bentuk tiga maskot mereka.

Enery of Asia

Menurut situs resmi Asian Games 2018 (asiangames2018.id), gelaran multisport empat tahunan kali ini memakai slogan “Energy of Asia” karena jiwa kita sebenarnya terbentang pada keberagaman budaya, bahasa dan peninggalan sejarah yang kita miliki. Saat ini, melalui Asian Games, mereka hendak menyatukan lagi ketiga elemen itu supaya kita bisa menjadi kekuatan utama yang diperhitungkan dunia. Apalagi semboyan kita juga telah mengatakan hal serupa sejak lama.

Maka dari itu, enggak heran jika kemudian Asian Games 2018 mengganti maskot berbentuk cenderawasih (maskot awal Asian Games yang dinilai jelek) dengan maskot baru yang berasal dari keragaman Indonesia. Mereka pun menamai maskotnya sesuai penggalan Bhinneka Tunggal Ika yang masing-masing merepresentasikan sesuatu, seperti: 

Bhin Bhin

Bhin Bhin adalah seekor burung Cendrawasih (Paradisaea Apoda) yang memakai rompi dengan motif Asmat dari Papua. Ia hadir sebagai representasi dari strategi.

Atung

Atung adalah seekor rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) yang memakai sarung dengan motif tumpal dari Jakarta. Ia merepresentasikan kecepatan.

Kaka

Kaka adalah seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang memakai pakaian tradisional dengan motif bunga khas Palembang. Sebagai maskot bertubuh besar, ia merepresentasikan kekuatan.

Nah, dengan adanya tiga maskot di atas, maka di saat Asian Games 2018 yang notabene dihadiri berbagai negara di Asia justru merayakan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman, masih haruskah masyarakat Indonesia berdebat kusir dengan kebencian-kebenciannya di tahun politik selanjutnya?

Apakah semangat Asian Games aja enggak cukup buat bikin Indonesia ingat lagi sama semboyan Bhinneka Tunggal Ika, terutama supaya kita enggak perlu melawan bangsa sendiri dalam perkelahian yang menjemukan seperti yang lalu-lalu?

Penulis: Gagah Nurjanuar Putra

Artikel Terkait
Sport
Adelaide Wongsohardjo, Bintang Muda Harapan Timnas Basket Indonesia  

Sport
Daftar Permainan Yang Bisa Semakin Menyemarakan Asian Games 2018