Current Issues

Mitos Soal Tes PCR Covid-19 Ini Harus Segera Kalian Lupakan

Dwiwa

Posted on September 23rd 2020

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan belum terlihat akan berakhir telah menimbulkan banyak kekhawatiran. Tidak hanya soal perekonomian yang semakin lesu, hasil pengujian Covid-19 oleh petugas kesehatan pun juga menjadi kekhawatiran tersendiri.

Tidak sedikit orang yang meragukan hasil pengujian Covid-19. Mereka khawatir tentang kemungkinan adanya positif palsu dan negatif palsu dari pengujian ini.

Bahkan menurut ahli epidemiologi Australia Gideon Meyerowitz-Katz, ada klaim yang menyebut jika semua tes positif Covid-19 positif sebenarnya adalah positif palsu, seperti dilansir dari Bestlife.

Lalu benarkah demikian?

Dalam blog kesehatan populernya, Katz pun memberikan klarifikasi jika anggapan itu sepenuhnya adalah salah. Dia menjelaskan jika pengujian utama untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi Covid-19 adalah dengan tes polymerase chain reaction (PCR).

Tes ini biasanya dilakukan dengan mengambil sampel melalui swab hidung atau tenggorokan.Menurut Katz, jenis tes ini memiliki banyak keuntungan meskipun juga ada kelemahannya.

“Masalah dari tes ini muncul saat mengidentifikasi orang-orang yang berada pada tahap awal infeksi. Ini karena sulit untuk mendapatkan cukup virus saat di-swab untuk kemudian digandakan saat tes, yang berarti bahwa orang yang terinfeksi pada hari pertama atau kedua mungkin tidak menunjukkan hasil positif saat dites,” tulisnya.

Akibatnya, kemungkinan terjadinya negatif palsu saat dilakukan tes PCR pada Covid-19 cukup tinggi. Katz memperkirakan bahwa bisa jadi 60 persen diantaranya adalah negatif palsu. Itu lah yang menjadi alasan banyak laboratorium yang melakukan pengujian ulang jika hasil tes negatif tetapi masih menunjukkan gejala beberapa hari kemudian.

Sementara itu, positif palsu adalah cerita lain. Katz mengatakan jika dalam hal tes PCR (yang telah dilakukan selama beberapa dekade), jumlah positif palsu sangat sedikit. Berbagai penelitian dari seluruh dunia juga menunjukkan jika tingkat positif palsu pada tes PCR Covid sekitar 1 dari seribu atau jauh lebih rendah dari 90 persen.

“Dengan kata lain, sangat jarang tes Covid-19 hasilnya positif palsu. Hampir tidak pernah terdengar. Ini terjadi, tetapi sangat jarang, terutama karena banyak tes yang dikonfirmasi atau dilakukan dua kali,” tulis Katz.

Katz mencontohkannnya dengan menggunakan angka. Misalnya pada sebuah populasi dimana 50 dari seribu orang terinfeksi Covid dan mereka melakukan pengujian dengan PCR. Untuk 950 orang yang tidak terinfeksi, hanya akan ditemukan satu tes positif palsu.

Sedangkan untuk 50 orang yang terinfeksi, hanya akan satu orang yang terlewat yang menghasilkan 49 positif benar. Ini berarti 98 persen dari yang positif semuanya adalah positif benar dengan hanya 1/49 yang diuji menghasilkan positif palsu.

“Adalah sebuah kesalahan untuk mengatakan bahwa sebagian besar tes yang kembali dengan hasil positif untuk Covid-19 adalah positif palsu. Pada kenyataannya, kebenaran sederhana adalah jika sebagian besar orang yang mendapatkan hasil positif adalah memang positif,” tulis Katz.

Namun hal ini berbeda dengan pengujian Covid-19 dengan menggunakan rapid diagnostic test (RDT). Berbeda dengan PCR yang mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh untuk saat ini, RDT yang marak digunakan saat ini hanya mendeteksi antibodi yang terbentuk dengan lambat.

Padahal, antibodi sendiri biasanya terbentuk jika seseorang sudah pernah mengalami infeksi dalam beberapa minggu atau bulan sebelumnya. Selain itu, keakuratan dari pengujian ini juga tergolong rendah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sensitivitas dari alat ini hanya 34 persen hingga 80 persen. Kemungkinan terjadinya positif palsu maupun negatif palsu jauh lebih besar. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan oleh WHO dapat memberikan rasa “aman palsu”.

Bahkan Asosiasi Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia menyebut keakuratannya di bawah 50 persen. Orang-orang yang mendapatkan hasil reaktif saat dilakukan RDT berarti mereka pernah terpapar virus, tetapi bagi yang non reaktif bukan berarti tidak memiliki virus. Hingga saat ini, hanya tes PCR lah yang dapat memastikan apakah seseorang positif atau negatif Covid-19.

Nah, jadi kalian harus bisa membedakan yah. Tes mana yang kalian jalani. Kalau itu adalah PCR, Sebagian besar dari hasilnya adalah benar. Artinya jika dinyatakan positif ya memang berarti positif terpapar Covid-19. Tetapi jika itu adalah hasil RDT, harus dilakukan pengujian dengan PCR untuk bisa memastikannya. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO Siapkan Rapid Tes Covid-19 Bagi Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah

Current Issues
Pemerintah Tetapkan Harga Tes Swab Covid-19 Hanya Rp 900.000

Current Issues
Ngeri! 44,9 Juta Warga Indonesia Percaya Kebal Covid-19