Current Issues

Kecerdasan Buatan Bisa Jadi Solusi untuk Perjalanan Lebih Aman Saat Pandemi

Dwiwa

Posted on September 21st 2020

(Elenium Automation via SCMP)

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal di bumi. Salah satu yang paling terlihat jelas adanya penurunan aktivitas perjalanan orang-orang di seluruh dunia. Penyebabnya adalah adanya lockdown dan anjuran agar orang-orang di rumah aja demi menekan penyebaran virus SARS-Cov-2.

Selain itu, orang-orang juga merasa enggan karena adanya ketakutan jika perjalanan yang mereka lakukan tidak aman. Beberapa aktivitas dalam perjalanan mengharuskan mereka berinteraksi dengan orang lain sehingga kemungkinan untuk terpapar virus menjadi lebih besar.

Keresahan ini rupanya dijawab oleh sebuah perusahaan teknologi Australia melalui sebuah kiosk. Dilansir dari SCMP, perusahaan bernama Elenium Automation ini telah meluncurkan kiosk portable yang berbasis cloud pada April lalu.

Mesin ini memiliki dua fungsi, yakni sebagai alat skrining kesehatan sekaligus chek in mandiri. Teknologi tanpa sentuh ini dapat digunakan untuk menilai tanda-tanda vital penumpang – yang juga bisa dipasang di semua kiosk chek-in yang sudah ada.

Ketika penumpang berdiri di depan perangkat untuk melakukan check in penerbangan, perangkat akan langsung mendeteksi suhu tubuh, detak jantung, dan laju pernapasan untuk mendeteksi kemungkinan gejala penyakit pada orang tersebut.

Penumpang juga bisa mengendalikan layar kiosk tanpa sentuh dengan menggunakan suara atau gerakan kepala. Dengan begitu, penumpang bisa menghindari kontak yang dapat meningkatkan risiko terpapar virus.

Perangkat ini dibuat dengan memanfaatkan kecerdasa buatan (AI), sebuah teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan tugas-tugas seperti pengenalan suaran dan identifikasi biometrik, yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.

Tim dari Elenium Automation melatih perangkat untuk mengenali ucapan, mendeteksi gerakan dan memprediksi perilaku pengguna. Dengan begitu, perangkat mampu berinteraksi dengan pengguna menggunakan alat yang disediakan oleh Amazon Web Services (AWS).

“Kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin sangat baik dalam mengambil pola. Kami menggunakan pengenalan suaran dan pengendalian gerakan (dalam perangkat kami), dan keduanya sangat didukung oleh pembelajaran mesin,” ujar Aaron Hornlimann, CEO Elenium Automation.

Hal itu juga membuat detektor suhu di dalam perangkat menjadi lebih akurat. Perangkat telah dilatih untuk secara otomatis menghentikan proses check in jika terdeteksi adanya kemungkinan gejala suatu penyakit.

Teknologi ini telah diadopsi untuk melakukan skrining oleh Etihad Airways dan Australia Avalon Airport yang melayani kota Geelong dan Melbourne. Hornliman berharap jika teknologi ini dapat menenamkan kepercayaan publik yang lebih besar saat melakukan perjalanan udara.

“Ke depan, mungkin akan ada variasi dari Covid-19 atau musim flu yang parah, jadi teknologi ini dapat diterapkan di luar pandemi yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Bukan hanya Elenium Automation saja yang telah menggunakan teknologi berbasis pembelajaran mesin ini. Perusahaan start-up Grab juga telah mengadopsi teknologi ini ke dalam produknya.

Berkat teknologi tersebut, perusahaan bisa dengan jelas mengidentifikasi kumpulan data yang dapat digunakan untuk melatih komputer, seperti rute yang paling sering diambil pengemudi dan jalan yang sering macet.

Menurut pemimpin tim AWS, Nathaniel Slater, mesin yang telah dibuat oleh Elenium menunjukkan jika pembelajaran mesin bisa diterapkan untuk mengatasi masalah mendesak di masyarakat. Tetapi perlu digarisbawahi jika teknologi ini membutuhkan banyak data untuk bisa membuat prediksi yang akurat.

“Tantangan terbesar untuk banyak perusahaan yang baru memulai adalah jika mereka tidak memiliki data yang tepat. Itu akan membuat mereka tidak bisa melatih model pembelajaran mesin secara efektif,” ujar Slater.

Untuk bisa memanfaatkan teknologi ini secara optimal, Slater menyarankan agar para ahli bisnis bekerja bersama ilmuwan data dalam menganalisa pola data dan menangani masalah. Masukan dari keseluruhan perusahaan juga diperlukan sehingga teknisi data dapat menemukan jenis algoritma paling sesuai untuk memecahkan masalah bisnis yang paling mendesak.

“Pembelajaran mesin pada hakikatnya bersifat interdisipliner. Perpaduan antara keahlian bisnis dengan keahlian teknis lah yang memberi keuntungan dari penggunaan pembelajaran mesin,” ujarnya. (*)

Related Articles
Current Issues
Berencana Naik Pesawat? Pilih Nomor Kursi Ini Agar Tak Tertular Covid-19

Current Issues
Pakar WHO Sebut Tes Harus Lebih Berperan Dalam Perjalanan Internasional

Current Issues
Lagi Liburan dan Nginep di Hotel? Jangan Lakukan Ini Biar Nggak Kena Covid-19