Current Issues

Peneliti: Perjalanan Panjang dengan Pesawat Bisa Munculkan Klaster Covid-19 Baru

Dwiwa

Posted on September 19th 2020

 

Traveling telah menjadi salah satu hal yang sulit dilakukan sejak pandemi Covid-19 menyebar luas di berbagai belahan bumi. Selain karena beberapa negara memberlakukan lockdown, orang-orang juga khawatir akan tertular ketika melakukan perjalanan.

Dan menurut dua buah penelitian yang dipublikasikan pada Jumat (18/9), kekhawatiran ini tampaknya adalah hal nyata. Penelitian tersebut mengungkap jika telah terjadi penularan Covid-19 dalam sebuah pesawat yang melakukan perjalanan panjang dari Eropa dan Amerika ke Asia.

Dalam penelitian pertama, para peneliti mengungkap riwayat perjalanan seorang pengusaha perempuan yang sempat melakukan kunjungan ke Milan, Italia, Paris, Perancis, dan London Inggris pada saat Covid-19 mulai merebak di Eropa awal tahun ini.

Perempuan ini bersama dengan saudara perempuannya kemudian kembali ke Hanoi Vietnam pada 1 Maret. Dalam perjalanan tersebut, perempuan ini mengambil kelas bisnis dan sepanjang perjalanan mengalami sakit tenggorokan dan batuk.

Tiga hari setelah tiba di Vietnam, dia dinyatakan positif terpapar virus SARS-Cov-2. Pejabat kesehatan pun langsung melakukan pelacakan kontak pada 217 penumpang dan awak dalam penerbangan yang sama.

Hasilnya, 12 penumpang kelas bisnis, dua penumpang kelas ekonomi, dan satu awak positif terinfeksi. Laporan yang ditulis Nguyen Cong Khanh dari National Institute of Hygiene and Epidemiology di Hanoi bersama rekan-rekannya pun menyebut jika semua orang yang terinfeksi kemungkinan besar tertular dari pasien yang sakit.

“Rute penularan yang paling mungkin selama penerbangan adalah aerosol (melalui udara) atau penularan droplet dari kasus pertama, terutama para orang-orang yang duduk di kursi bisnis,” jelas penelitian tersebut.

Mereka pun menyimpulkan jika risiko penularan Covid-19 dalam perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang adalah nyata dan berpotensi menimbulkan klaster baru berukuran besar, bahkan dalam pengaturan tempat duduk berjarak seperti di kelas bisnis.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Emerging Infectious Disease ini menyarankan agar dilakukan tindakan pencegahan infeksi yang lebih baik untuk membuat penerbangan jadi lebih aman. Salah satunya adalah memperketat prosedur skrining saat pemeriksaan kedatangan.

Kemudian pada penelitian kedua, ada pasangan yang terbang dari Boston ke Hong Kong dengan menggunakan kelas bisnis pada 9 Maret. Setelah tiba di Hong Kong, keduanya menunjukkan gejala dan didiagnosis positif virus corona. Dalam pelacakan kontak, ditemukan dua pramugari juga positif terpapar Covid-19.

“Satu-satunya lokasi di mana keempat orang ini berada dalam jarak dekat untuk waktu yang lama adalah di dalam pesawat,” tulis Deobarah Watson-Jones dari London School pf hygiene & Tropical Medicine bersama rekannya dalam penelitian kedua di jurnal US Center for Disease Control and Prevention Emerging Infectious Disease.

Hasil pengurutan genetik dari keempat kasus ini pun saling terkait. Mereka menyebut jika genom virus yang hampir lengkap dari empat orang ini 100 persen identik.

Waduh, serem juga ya kalau begini. Harus lebih berhati-hati lagi nih kalau ingin bepergian menggunakan pesawat. Pilihan untuk diam di rumah rasanya masih tepat untuk dilakukan jika tidak ada keperluan penting.

Tapi jika kalian terpaksa harus pergi keluar dan bepergian dengan pesawat terbang, selalu patuhi protokol kesehatan yang berlaku ya. Selain itu, kalian juga harus memastikan jika maskapai penerbangan yang digunakan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.(*)

Related Articles
Current Issues
Mendekati Musim Dingin, Kasus Covid-19 Makin Melonjak di Eropa dan Amerika

Current Issues
Sistem Ventilasi Pesawat Modern Tidak Menyebarkan Covid-19, Tapi ...

Current Issues
Kecerdasan Buatan Bisa Jadi Solusi untuk Perjalanan Lebih Aman Saat Pandemi