Current Issues

Angka Kematian Covid-19 di Singapura Terendah di Dunia, Apa Rahasianya?

Dwiwa

Posted on September 18th 2020

Jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia sudah hampir mencapai satu juta. Di Asia Tenggara, Indonesia memegang rekor tertinggi jumlah kematian akibat Covid-19 dengan total 9.222 jiwa.

Angka ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di negara tetangga, Singapura. Negara kecil yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini justru mencatatkan angka kematian paling rendah di dunia.

Dilansir dari Reuters, jumlah kematian di Singapura hingga 17 September tercatat hanya 27 kasus dari total lebih dari 57 ribu orang yang telah terinfeksi Covid-19. Hal ini membuat Singapura memiliki angka kematian hanya 0,05 persen.

Menurut data yang dikumpulkan Reuters dari negara-negara di dunia yang memiliki kasus lebih dari seribu, angka ini jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 3 persen. Jika dibandingkan dengan negara yang memiliki populasi hampir sama, ada perbadaan yang mencolok. Denmark mencatat angka sekitar 3 persen sedangkan Finlandia 4 persen.

Menurut kementerian kesehatan setempat, selama lebih dari dua bulan, negara ini juga tidak mencatat adanya kematian baru akibat dari Covid-19. Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

Pertama, 95 persen demografi infeksi Covid-19 di negara ini terjadi di lingkungan pekerja migran yang berumur 20-an dan 30-an tahun yang tinggal di asrama sempit. Menurut sejumlah penelitian yang sudah dilakukan terhadap penyakit ini, Covid-19 memiliki dampak lebih ringan pada orang muda dan banyak yang tidak bergejala.

Selain itu, Singapura juga berhasil menekan penyebaran dengan melakukan deteksi awal dengan melakukan pelacakan kontak dan pengujian secara agresif yang berhasil mendapat pujian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut data resmi, mereka telah melakukan uji swab pada hampir 900 ribu orang atau lebih dari 15 persen dari 5,7 juta populasi yang ada. Ini menjadi salah satu tingkat pengujian perkapita tertinggi secara global.

Penghuni asrama menjalani pengujian. Pihak berwenang melakukan tes massal pada komunitas yang rentan seperti panti jompo. Orang-orang yang berusia lebih dari 13 tahun dengan tanda-tanda infeksi saluran pernapasan akut ditawarkan tes gratis.

“Semakin banyak diagnosis, maka semakin rendah angka kematiannya,” ujsar Hsu Li Yang di Saw Swee Hock School of Public Health di National University of Singapore.

Singapura juga melakukan pendekatan pre-emptive dalam melakukan perawatan. Pasien Covid-19 yang berumur di atas 45 tahun atau memiliki penyakit bawaan yang membuat mereka rentan dirawat di rumah sakit, bahkan meskipun mereka terlihat baik-baik saja.

Singapura telah menjadi pusat pariwisata medis di Asia tenggara dengan banyak rumah sakit swasta dan fasilitas kesehatan umum yang berkualitas tinggi. Mereka juga membangun ruang tidur untuk pasien Covid-19 di ruang pameran luas dan fasilitas sementara lain untuk menampung orang yang bergejala rungan atau tanpa gejala.

Ini mencegah sistem perawatan kesehatan kewalahan sehingga perhatian sumber daya dapat difokuskan pada kasus yang lebih parah. Dilaporkan saat ini Singapura tidak memiliki pasien Covid-19 di ruang intensif, tetapi 42 orang dirawat di rumah sakit dan 409 lainnya di fasilitas sementara.

Selain itu, negeri Singa ini juga telah mewajibkan penggunaan masker di tempat umum sejak bulan April. “Kami telah mengadopsi budaya menggunakan masker di Singapura. Ini membuat penyakit jadi lebih ringan,” ujad Leong Hoe Nam, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth.

Rendahnya angka kematian di Singapura juga dipengaruhi dengan pedoman yang dipegang teguh terkait klasifikasi kematian akibat Covid-19 sesuai dengan definisi kasus dari WHO. Ini tidak termasuk kematian non-pneumonia seperti yang disebabkan oleh masalah darah atau jantung pada pasien Covid-19 dalam penghitungan resminya.

“Saya yakin jika WHO mengubah definisi kasusnya, beberapa kematian non-pneumonia akan diklasifikasikan dan tingkat kematian akan berubah,” ujar Paul Tambyah, presiden Asia Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection. Meski begitu, dia tidak menyebut seberapa besar kemungkinan angka ini bergeser.

Menteri kesehatan mengatakan jika pendekatan yang dilakukan konsisten menggunakan pedoman internasional, meskipun beberapa negara seperti Inggris telah melakukan perhitungan yang lebih luas. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kenapa Sih Masker Scuba atau Buff Dilarang Digunakan Untuk Cegah Covid-19?

Current Issues
Ngeri! 44,9 Juta Warga Indonesia Percaya Kebal Covid-19

Current Issues
Mendekati Musim Dingin, Kasus Covid-19 Makin Melonjak di Eropa dan Amerika