Current Issues

Oxford-AstraZeneca Lanjutkan Uji Coba Vaksin Covid-19

Mainmain.id

Posted on September 13th 2020

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan University of Oxford dan AstraZeneca dilanjutkan. Pengembangan vaksin itu sempat dihentikan karena adanya sukarelawan yang sakit setelah divaksin.

Rilis terbaru yang dikeluarkan Oxford menyebutkan, uji coba dilanjutkan setelah otoritas kesehatan obat di Inggris kembali memberikan lampu hijau. Sebelumnya, otoritas kesehatan obat Inggris mengirimkan tim independen untuk meninjau uji coba vaksin tersebut pasca adanya sukarelawan vaksin yang sakit.

Sayang, tak diungkapkan detail penyakit si relawan tersebut. Hanya, pada Jumat (12/9), Direktur National Institutes of Health (NIH) Francis Collins mengatakan kepada komite senat bahwa uji coba dihentikan karena ada relawan yang bermasalah dengan sumsum tulang belakangnya. 

Masalah pada uji coba vaksin itu terjadi di Inggris. Sejauh ini, vaksin yang dikembangkan Oxford dan Astra tersebut juga diujicobakan di negara lain seperti Amerika Serikat, Brasil, Afrika Selatan, dan India. Namun, semua uji coba akhirnya dihentikan.

Chief Executive Officer AstraZeneca Pascal Soriot mengatakan, meskipun sempat ada penghentian sementara, vaksin tersebut masih bisa memenuhi target untuk bisa tersedia pada akhir 2020. Sembari uji coba dilanjutkan, dewan keamanan independen juga meninjau apakah penyakit yang diderita relawan memang terkait dengan vaksin itu atau tidak. 

”Tidak jelas apakah relawan yang mengalami kendala itu memiliki kondisi yang disebut myelitis transversa atau diagnosis lain,” katanya. Mengutip situs Alodokter, myelitis transversa merupakan peradangan pada satu bagian saraf tulang belakang. Kondisi itu ditandai dengan rasa nyeri, kebas atau mati rasa, tungkai atau lengan terasa lemah, serta gangguan buang air kecil dan buang air besar. 

Oxford telah mendapatkan 18 ribu relawan untuk menjalani uji coba vaksinnya. Uji coba fase tiga sudah mereka lakukan akhir Agustus. Saat ini mereka sedang mencari lagi 30 ribu relawan untuk uji coba berikutnya.

AstraZeneca adalah satu di antara beberapa perusahaan yang ikut dalam program Operation Warp Speed. Program ​​pemerintah AS itu bertujuan mempercepat vaksin virus korona. Pada Mei 2020, perusahaan tersebut menandatangani kesepakatan senilai 1,2 miliar dolar AS untuk terlibat dalam studi klinis dan memasok 300 juta dosis vaksin.

Oxford dan AstraZeneca kali pertama memulai uji coba ke manusia pada 23 April 2020. Saat itu hampir 1.100 relawan ikut. Kemudian, berlanjut pada Mei 2020, uji coba skala besar dilakukan di Inggris. Sepuluh ribu orang terlibat. Kebanyakan di atas usia 55 tahun.

Pada Juli lalu, Oxford melaporkan hasil awal yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut meningkatkan antibodi penawar pelindung dan sel T kekebalan. Dua hal itu bisa menghancurkan sel yang terinfeksi. Saat itu tak ada laporan efek samping yang serius sehingga uji coba bisa ditingkatkan ke tahap berikutnya.(*)

Related Articles
Current Issues
Brasil Beri Lampu Hijau Uji Coba Vaksin Covid-19 Milik Oxford University

Current Issues
Kabar Gembira! Vaksin Covid-19 Buatan Oxford Bisa Picu Respon Imun

Current Issues
Meski Sedang Uji Coba, Peneliti Inggris Siap Produksi Satu Juta Vaksin Covid-19