Hobi

Tinggalkan Cara Lama, US Army Kini Promosikan Karier Militer dengan Bermain Game

Ahmad Redho Nugraha

Posted on September 10th 2020

Ada berbagai cara yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat, US Army untuk merekrut anggota baru. Salah satunya yang paling tidak biasa adalah dengan membuat tim e-sports untuk menarik perhatian remaja AS.

Tim e-sports US Army berisikan beberapa anggota tentara yang aktif memainkan game-game third-person shooting seperti Call of Duty, Apex Legends dan Fortnite, sembari menayangkannya secara langsung via saluran streaming.

Saluran streaming ini diputar sepanjang hari untuk menarik penonton dari kalangan remaja, dan pada akhirnya mempromosikan manfaat dari menjadi anggota militer AS kepada mereka.

Tim ini berisi 16 orang yang dipilih dari 6.500 orang tentara pelamar, dan tugas mereka adalah bermain game sepanjang waktu. Januari lalu, tim ini menghadiri pertemuan Pax South di San Antonio, salah satu pameran game terbesar di dunia untuk berinteraksi dengan gamers lainnya dari seluruh dunia.

Tujuan lainnya, tak lain tentu saja untuk menarik minat gamer dari kalangan remaja untuk bergabung dengan US Army. Misi tersebut tampaknya cukup berhasil.

"Tim e-sports ini membuatku ingin bergabung dengan tentara," ujar Argelio Arto Guajardo, salah satu siswa SMA 18 tahun yang hadir di pameran tersebut. "Cita-cita semua gamer adalah bergabung dengan tim profesional, menang, lalu memperoleh teman-teman baru di sepanjang karier tersebut."

 

Namun Guajardo juga menambahkan jika menjadi tentara adalah pilihan terakhirnya.

"Oh ya, tentu saja aku takut," tambahnya. "Aku tidak mau tertembak, atau terkena ledakan. Kehilangan lengan atau kaki adalah hal yang menakutkan."

Tim e-sports US Army kini kembali menayangkan live streaming permainan mereka setelah mereka rehat sejenak untuk mengevaluasi kebijakan internal mereka. Pada Juli lalu, mereka mendapatkan kritik pedas terkait tindakan mereka memblokir akun-akun yang menanyakan tentang kejahatan perang AS di kolom chat Twitch mereka

Awal tahun lalu, anggota Dewan AS, Alexandria Ocasio-Cortez memperkenalkan sebuah amandemen baru yang melarang militer AS merekrut anggota lewat penggunaan e-sports. Meski amandemen tersebut tidak diloloskan, kini US Army mengembangkan petunjuk dan panduan baru dalam menayangkan live streaming mereka menjadi hanya dapat ditonotn oleh pemain berusia 18 tahun ke atas.

"Tentu saja ada beberapa orang (pemain game) yang tidak bisa kami rekrut karena usia  mereka terlalu muda," terang Letkol Kirk Duncan, salah satu anggota tim e-sports US Army.

"Tapi jika kami bisa membangun minat itu di dalam diri mereka sejak mereka masih muda, maka saat tiba waktunya nanti mereka menentukan langkah mereka di masa mendatang, kami harap pengalaman mereka selama berinteraksi dengan anggota e-sports dapat menumbuhkan minat untuk menjadi tentara."

Tim e-sports US Army aktif menayangkan permainan mereka di Twitch selama 24 jam, meski dalam beberapa waktu, jam kerja mereka menjadi lebih pendek, yaitu dari pukul 9 pagi hingga 10 malam.

"Hal yang kami lakukan hanyalah menunjukkan siapa diri kami sebenarnya, sebagai orang biasa," ujar Serda Christopher Jones, general manager tim e-sports US Army.

Program e-sports mulai diinisiasikan oleh US Army pada 2018 lalu, setelah mereka gagal memenuhi target minimal jumlah rekrutmen tentara, untuk pertama kalinya dalam 13 tahun. US Army mulai beranggapan jika perekrutan dengan cara lama, seperti career fair di universitas, sudah tidak efektif lagi.

Sebagai gantinya, kini US Army mengutus tim e-sports ke seluruh SMA dan universitas yang ada di Amerika Serikat untuk mencari bibit-bibit tentara baru. Target mereka adalah merekrut hingga 66.000 tentara baru pada 30 September mendatang. 

Salah satu anggota tim e-sports US Army adalah Serda Joshua David, alias "Strotnium" yang sudah pernah berpartisipasi dalam pertempuran di dunia nyata. Dia pernah ditempatkan di Divisi Army Ranger, dog handler dan sniper sebelum tergabung di tim e-sports. David juga merupakan pemain Call of Duty terbaik di US Army.

"Biasanya kami hanya akan mengobrol dengan lawan main kami selama live streaming," tutur David. Hanya dengan menyebutkan jika di anggota tentara, mereka biasanya akan mulai menarik rasa penasaran semua orang.

"Lalu semuanya mengalir begitu saja. "Bagaimana? Mengapa? Coba ceritakan lebih banyak, kami mau tahu"," David menirukan percakapannya dengan salah seorang penonton livestreaming-nya.

Penonton tayangan e-sports di paltform Twitch meningkat hingga dua kali lipat di masa pandemi Covid-19, menjadi 17,5 juta penonton dalam sehari. 72% laki-laki dan 49% perempuan yang berusia di bawah 30 tahun di dunia kini bermain video games, sehingga potensi jangkauan tim e-sports dalam mempromosikan karier militer pun meningkat dengan signifikan. (*)

Related Articles
Hobi
Gamer "Ninja" Akhirnya Kembali ke Platform Twitch

Hobi
Covid-19 Bikin Perilisan Game Digimon Survive Tertunda Lagi

Hobi
Ulang Tahun ke-4 Pokemon GO Catatkan Penghasilan Rp 52 triliun