Current Issues

Kaum Muda Pelanggar Protokol Kesehatan Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Dwiwa

Posted on September 9th 2020

Kembali meningkatnya kasus Covid-19 di berbagai negara menyita begitu banyak perhatian. Beberapa negara yang sempat berhasil menekan lonjakan kasus, harus kembali berjibaku menahan laju penularan Covid-19. Dan kali ini, kaum muda lah yang dianggap menjadi penyebab terjadinya gelombang kedua.

Dilansir dari BBC, Matt Hancock, sekretaris kesehatan Inggris, pun mengungkapkan kekhawatirannya akan datangnya gelombang kedua di negara tersebut. Hal ini dikarenakan bulan ini mahasiswa akan memulai semester mereka sementara sepertiga kasus Covid-19 di Inggris terjadi pada kelompuk umur antara 20 dan 29 tahun.

“Jumlahnya terus meningkat. Dan kita telah melihat negara lain kemana hal ini akan mengarah, dan ini bukan tempat yang baik,” ujar Hancock. Dia pun mencontohkan Perancis dan Spanyol dimana gelombang kedua dimulai sebagian besar dari orang-orang muda dan kemudian menyebar.

“Dan sekarang kita melihat peningkatan tajam soal jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan meninggal di negara tersebut. Itu belum terjadi disini. Dan jika orang-orang mengikuti aturan jaga jarak, kita akan mencegahnya terjadi disini,” lanjutnya.

Jumlah kasus harian Inggris mencatatkan angka tertinggi pada Minggu (6/9) dengan jumlah mencapai 2.988 kasus. Tingkat kasus baru tujuh harian di Inggris juga meningkat hingga diatas 20 kasus untuk setiap 100 ribu orang.

Dalam tujuh hari hingga 7 September, angkanya mencapai 21,3 kasus untuk setiap 100 ribu, naik dari 13,9 dari minggu lalu (tujuh hari hingga 31 Agustus). Pemerintah biasanya akan memberlakukan kebijakan karantina pada orang yang bepergian ke Inggris jika negara lain melaporkan angkanya sudah mencapai 20 kasus per 100 ribu orang atau lebih.

Sekretaris kesehatan pun menekankan betapa seriusnya virus corona mempengaruhi kaum muda. Meskipun kemungkinan mereka meninggal atau sakit parah lebih kecil.

“Covid jangka lama sangat serius. Dan orang bisa mengalami kondisi buruk berbulan-bulan. Pesan kedua yang sangat penting adalah bahwa orang muda menyebarkan penyakit, meskipun mereka tidak mengalami gejala. Jangan bunuh kakek-nenek kalian dengan terinfeksi virus corona dan menularkannya. Dan kalian bisa menularkannya sebelum menunjukkan gejala,” tambahnya.

Dia pun mengingatkan orang-orang agar selalu mematuhi protokol yang berlaku. Di Inggris, orang-orang hanya boleh bersosialisasi dengan satu keluarga lain dan jika beraktivitas bersama di luar ruangan jumlah maksimum hanya enam orang.

“Pesannya sangat jelas. Pertanyaannya, seberapa besar kalian bersedia mempertaruhkan nyawa diri sendiri dan orang lain dengan melanggar aturan jaga jarak?” ujarnya.

Hancook juga menjelaskan sistem pengujian baru untuk orang-orang yang kembali dari liburan. Dia menyebut jika melakukan pengecekan suhu di perbatasan, yang tidak dilakukan di Inggris tetapi di negara lain”, tidak berguna. Hal ini dikarenakan virus dapat berinkubasi dalam jangka waktu tertentu di dalam tubuh yang tidak akan terdeteksi oleh tes tersebut.

Menurutnya, di Inggris mereka akan segera menerapkan pengujian pada orang-orang yang baru kembali ke Inggris delapan hari setelah kepulangan mereka. Hal ini diharapkan bisa mengurangi aturan karantina 14 hari ketika seseorang baru kembali dari negara yang memiliki kasus Covid-19 tinggi. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kasus Covid-19 Eropa Pecah Rekor, Tembus 100 Ribu Dalam Sehari

Current Issues
Peneliti: Penyintas Covid-19 Tidak Mungkin Tertular Lagi Hingga Enam Bulan

Current Issues
Penyakit-Penyakit Ini Bisa Bikin Covid-19 Makin Parah, Cek Yuk Apa Saja!