Current Issues

Bukan Hanya Demam dan Batuk, Gejala Covid-19 Ini Juga Umum Dialami Anak-anak

Dwiwa

Posted on September 8th 2020

(University of Kentucky)

Demam telah menjadi salah satu gejala yang saat ini sering dikaitkan dengan Covid-19. Di berbagai tempat umum, seperti pasar atau mall, pengecekan suhu tubuh menjadi salah satu syarat agar seseorang bisa berada di sana.

Tapi tampaknya, kenaikan suhu tubuh akibat infeksi virus corona jenis baru ini tidak selalu berlaku untuk semua umur. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Travel Medicine and Infectious Disease pada Agustus lalu mengungkap jika pada usia 18-25 tahun saat dilakukan pengecekan suhu tubuh sering tidak terdeteksi adanya demam.

Dilansir dari Global News, seorang ahli penyakit menular dokter Isaac Bogoch di Kanada mengatakan jika secara umum gejalanya mirip dengan flu. Tetapi selain mengalami demam, batuk dan sesak napas, ada juga gejala lain yang bisa muncul seperti kelelahan, mual dan diare, termasuk pada anak-anak.

Hal senada juga diungkap oleh penelitian yang dilakukan oleh Queen University Belfast. Dilansir dari BBC, dalam penelitian mereka, anak-anak yang positif corona sebagian besar memang mengalami demam, sementara batuk tampaknya tidak terlalu spesifik dalam penelitian ini.

Tidak hanya demam dan batuk, anak-anak yang positif Covid-19 tersebut juga mengalami gangguan pencernaan seperti diare, muntah dan kram perut yang tampaknya memiliki hubungan signifikan dengan infeksi Covid-19. Sementara itu, sebagian kecil dari mereka juga mengalami kehilangan indera pembau dan perasa.

“Kita tahu, untungnya, sebagian besar anak-anak yang terkena virus ini tidak akan mengalami sakit parah, tetapi kami masih tidak tahu seberapa banyak anak-anak bisa menularkan virus ini,” jelas kepala peneltian dokter Tom Waterfield.

Sementara itu, data dari aplikasi buatan King College juga menemukan lima gejala paling umum yang muncul pada anak-anak saat terinfeksi virus corona. Dilansir dari The Sun, kelima gejala paling umum ini adalah kelelahan, sakit kepala, demam, sakit tenggorokan, dan kehilangan nafsu makan.

Data ini merupakan hasil analisis dari 198 anak yang positif Covid-19 dan sekitar 15.800 yang mendapatkan tes negatif. Selain kelima gejala tersebut, 15 persen diantaranya juga mengalami ruam kulit yang tidak biasa.

“Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengirim anak-anak ke sekolah ketika mereka memiliki gejala. Bahkan jika mereka tidak memiliki gejala sekalipun, lebih baik untuk tetap mengambil langkah aman,” kata Bogoch.

Kekhawatiran terhadap gelombang kedua telah menjadi perhatian bagi banyak negara seiring dengan diperbolehkannya sekolah dan kampus untuk kembali beroperasi. Masih minimnya data terkait seberapa banyak anak-anak dapat menyebarkan Covid-19 pun membuat mereka dikhawatirkan dapat memicu munculnya gelombang kedua ketika sekolah kembali dibuka.

“Jika kita melihat beberapa bulan dari sekarang .. kita mungkin akan melihat adanya peningkatan kasus Covid-19. Seberapa banyak peningkatan itu tergantung dari tindakan kita semua dalam beberapa bulan ke depan,” lanju Bogoch. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Penelitian: 91 Persen Penyintas Covid-19 Masih Rasakan Gejala Jangka Panjang

Current Issues
Jangan cuma Rebahan, Gerak Yuk. Kata WHO, Segini Minimal Waktu Aktivitas Fisik

Current Issues
Penelitian: Depresi Meningkat Selama Sekolah Ditutup Karena Covid-19