Current Issues

Pelacakan Kontak Pasien Covid-19 di Indonesia Masih Rendah, Apa Sebabnya?

Dwiwa

Posted on September 5th 2020

Tren kenaikan kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali meningkat. Setelah selama beberapa minggu angkanya berada di kisaran 2 ribu, minggu ini jumlah penambahan kasus harian mulai menembus angka 3 ribu.

Lonjakan kasus tertinggi terjadi pada Kamis (3/9) di mana terdapat 3.622 kasus baru yang diumumkan pada hari itu. Para ahli berpendapat ada banyak faktor yang menyebabkan lonjakan kasus di Indonesia masih belum ada tanda-tanda melandai. Beberapa bahkan menyarankan agar Indonesia segera mengganti taktik agar kasus tidak semakin membludak.

Salah satu yang cukup menjadi perhatian adalah pelacakan kontak dekat yang dinilai belum maksimal. Dilansir dari CNA, Kementerian Kesehatan Indonesia menargetkan setidaknya 30 kontak dekat yang harus diuji dari setiap pasien positif.

Kontak dekat ini adalah orang-orang yang melakukan kontak fisik secara langsung atau interaksi tatap muka lebih dari 15 menit dengan pasien Covid-19. Waktunya dihitung 48 jam sebelum pasien positif menunjukkan gejala dan 14 hari berikutnya.

Dari data Kementerian Kesehatan, sebanyak 20.481 kasus baru tercatat dari 27 Agustus sampai 2 September. Di periode yang sama, jumlah individu yang dilakukan swab tes untuk Covid-19 hanya 121.159. Ini artinya kurang dari 6 orang yang dilakukan pengujian untuk setiap kasus positif.

Bahkan menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tenaga kesehatan hanya mampu menguji enam orang setiap kasus terkonfirmasi. Rasionya bahkan lebih rendah di wilayah lain di Indonesia dengan beberapa provinsi hanya menguji kurang dari satu kontak setiap kasus yang dikonfirmasi, menurut data dari KawalCOVID-19.

Lalu mengapa pelacakan kontak di Indonesia masih rendah? Seorang dokter yang tidak ingin diungkap identitas aslinya dan memilih untuk dipanggil sebagai Yakub mengungkapkan pada CNA beberapa alasannya.

Dia bercerita jika pekerjaan mereka sudah hampir sama seperti detektif. Setiap ada kasus positif, pasien akan ditanyai kemana saja dia pergi dan siapa saja yang ditemui. Pekerjaan akan mudah jika semuanya mau bekerja sama dengan baik.

“Masalahnya adalah, terkadang mereka tidak mau bekerja sama. Mereka tidak mau mengisolasi diri, mereka tidak mau memberikan detail kontak apapun. Semua energi kami terbuang percuma ketika berurusan dengan orang-orang seperti itu,” jelasnya.

Dokter Mawar, yang juga enggan diungkap identitas aslinya, menyebut jika dibutuhkan kesabaran ekstra untuk melakukan pelacakan kontak pada setiap kasus positif.

“Kita harus memiliki simpati. Mereka sudah cukup sulit menerima jika diri maupun orang-orang yang dicintai terkena Covid-19. Kami tidak bisa mendesak mereka saat melakukan wawancara. Kemudian kami menghubungi keluarga pasien, teman, rekan kerja. Awalnya melalui WhatsApp kemudian kami telpon,” ujar dokter yang juga merupakan pelacak kontak senior.

Tentu saja tidak semuanya mau bekerja sama. Tidak sedikit yang memberikan reaksi keras ketika dia bersama tim datang berkunjung. Bahkan tidak jarang dia dimarahi saat mendatangi rumah mereka.

“Ada kalanya nomor yang diberikan tidak aktif. Saat itu terjadi, kami harus berkunjung ke rumahnya. Kadang mereka sudah pindah atau mencoba bersembunyi dari kami dengan tinggal di rumah saudara atau hotel,” jelasnya.

Salah seorang volunter pelacakan kontak, Anggara Widyartanto, juga mengalami pengalaman serupa. Dia mengatakan sekitar 20 persen dari orang yang dihubunginya menolak untuk bekerja sama maupun melakukan tes.

Alasannya pun beragam. Ada yang takut dikucilkan oleh sekitarnya jika melakukan tes. Alasan lain, mereka takut jika hasilnya positif dan disuruh untuk melakukan isolasi mandiri, terutama pada orang-orang yang bekerja di sektor informal yang tidak boleh bolos kerja.

Mahasiswa kesehatan masyarakat ini juga mengatakan jika masih ada yang percaya dengan hoax yang selama ini beredar. Mulai dari klaim bahwa rumah sakit akan mendapat insentif dari pemerintah untuk setiap pasien Covid-19 yang dirawat atau ditemukan hingga swab tes lebih berbahaya dari Covid-19.

Bahkan masih ada yang percaya jika Covid-19 hanyalah ilusi dan sama sekali tidak nyata. Dokter Yakub yang bekerja di wilayah Jakarta bahkan juga mengalami hal tidak jauh beda dimana pasien menyangkal kebenaran.

“Mereka merasa baik-baik saja dan tidak percaya hasilnya positif. Keluarganya juga sama dan menolak dites atau mengisolasi diri. Mereka menuduh kami memanipulasi diagnosis. Mereka menuduh kami dibayar untuk menyatakan seseorang positif,” jelasnya.

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan jika semua orang harus bekerja sama memerangi hoax. Memberitahukan orang-orang untuk segera melakukan tes agar cepat mendapat penanganan sebelum semakin parah.

Memberikan pemahaman jika isolasi mandiri berguna melindungi orang-orang yang kita cintai dan orang di lingkungan kita. Dan tentu saja menghapuskan stigma agar pasien yang sudah sembuh tidak dikucilkan.

Pemerintah sendiri, pada 6 Agustus melalui juru bicara satuan tugas Covid-19 Wiku Adisasmito telah mengakui jika saat ini pelacakan kontak masih rendah. Tetapi dia meyakinkan jika jumlahnya akan terus ditingkatkan sehingga bisa semakin agresif.

Selain pelacakan kontak yang masih kurang, kapasitas pengujian Indonesia juga masih jauh di bawah standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menetapkan Indonesia harus menguji satu orang dari setiap 1000 orang setiap minggu. Tetapi dengan jumlah penduduk 267 jiwa, jumlah pengujian yang dilakukan bahkan kurang dari setengah pada Rabu (2/9).

“Jika orang tidak kooperatif, semua orang akan menderita. Fasilitas isolasi hampir penuh, rumah sakit sudah kewalahan dan itu mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengobati penyakit lain. Jika masyarakat tetap tidak kooperatif, pandemi tidak akan pernah berakhir,” ujar Yakub.(*)

Related Articles
Current Issues
Coronavirus Bisa Hidup dan Menular di Air, Jika...

Current Issues
Pedoman Baru CDC Akui Covid-19 Menular Melalui Udara

Current Issues
Google Doodle Aja Pakai Masker, Masa Kamu Enggak?