Current Issues

Ingin Survive Saat Pandemi, Perbanyak Diam

Dwiwa

Posted on September 1st 2020

Selama berbulan-bulan seluruh manusia di bumi telah diimbau untuk memakai masker demi menghentikan penularan Covid-19. Masker diperlukan karena dinilai efektif dalam mencegah droplet yang mengandung virus menyebar luas.

Tentu saja ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa didukung protokol lain seperti menjaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Tapi pernahkah kalian berpikir jika ada hal lain yang bisa dilakukan dalam upaya menurunkan risiko penularan Covid-19 saat kalian keluar rumah?

Dilansir dari Bestlife, diam alias tidak berbicara atau setidaknya berbicara dengan suara pelan mungkin memiliki dampak besar dalam menghentikan pandemi Covid-19.

“Setiap jalur penularan virus akan menurun saat kita berbicara lebih sedikit, atau berbicara dengan suara pelan, di area publik,” ujar Jose L. Jimenez PhD, seorang profesor di Universitas Colorado yang mempelajari penularan penyakit kepada The Atlantic.

Hal ini tentu terdengar masuk akal dan bukan merupakan sesuatu yang kontroversial. Coba kalian pikir, penyebaran utama Covid-19 melalui droplet saluran pernapasan yang dikeluarkan ke udara ketika orang yang terinfeksi bersin, batuk atau bahkan sekadar bernyanyi.

Menurut analisis dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada BMJ 25 Agustus lalu, berbicara pelan atau diam dikaitkan dengan rendahnya risiko penularan Covid-19 di berbagai lingkungan, baik di dalam maupun luar ruang dimana sekelompok orang beraktivitas.

Sementara faktor lain ikut berperan, termasuk jumlah orang, lama kontak, dan apakah masker digunakan atau tidak selama interaksi, menemukan jika berbicara dengan suara keras atau berteriak meningkatkan risiko penularan dibanding yang berbicara normal atau diam.

“Faktanya adalah jika semua orang berhenti berbicara selama satu atau dua bulan, pandemi mungkin akan berakhir,” ujar Jimenez kepada The Atlantic. Dia pun menyebut jika dibanding dengan berteriak, berbicara pelan mengurangi jumlah aerosol virus hingga lima kali, sementara diam menurunkannya hingga 50 kali.

Donald K. Milton PhD, seorang profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Maryland mengatakan kepada majalah tersebut jika diam dan berbicara dengan tenang adalah intervensi yang masuk akal dalam menurunkan risiko penularan virus corona. Tentu saja ini tetap dibarengi dengan penggunaan masker yang menutup bagian hidung hingga dagu.

Tetapi tentu saja bukan hal yang mudah untuk bisa meminta orang-orang untuk diam selama beberapa bulan agar pandemi ini cepat berakhir. Sekadar untuk menggunakan masker saat keluar rumah saja masih ada yang ngeyel.

“Orang-orang harus memahami jika virus ini ada di udara dan bahwa mereka menghembuskan virus sepuluh kali lebih banyak ketika mereka berteriak dan berbicara dengan keras,” jelas Jimenez. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Segan Menegur Orang Tak Bermasker? Robot Ini Siap untuk Selalu Mengingatkan

Current Issues
Musim Hujan Datang, Wajib Makin Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Current Issues
Ternyata Cewek Lebih Patuh Protokol Covid-19 Daripada Cowok