Lifestyle

Yang Lain Susah Saat Pandemi, tapi Kita Merasa Baik-Baik Saja? Wajar kok...

Kezia Kevina Harmoko

Posted on August 23rd 2020


(Darin Lammers via Dribbble) 

Ketika pandemi mulai merebak ke seluruh dunia, mungkin beberapa di antara kita jadi khawatir tentang masa depan. Duh, gimana kalau kita juga terjangkit? Masih bisa sekolah nggak ya? Bisa masuk universitas impian gak ya?

Tapi, di balik kondisi yang serba tidak pasti ini ternyata kita justru masih bisa bertahan dan justru mulai menikmati kondisi saat ini. Jadi lebih menghargai hubungan dengan teman yang sebelumnya diremehkan, ketemu hobi baru, atau bonding dengan keluarga. Bersyukur banget masih bisa hidup dengan baik hingga saat ini.

Tapi, pernah nggak sih rasa bersyukur ini justru jadi bumerang yang bikin kita khawatir? Orang-orang di sekitar kita kesulitan, mungkin ada keluarga yang terjangkit coronavirus atau keadaan finansialnya kurang baik. Mungkin ada teman kita yang nggak punya fasilitas yang cukup buat belajar jarak jauh.

Kok kita baik-baik aja padahal orang di sekitar kita menderita?

Kok jahat banget sih kita hidup tenang-tenang aja di tengah keadaan serba sulit kayak begini?

Mendadak overthinking. Tiba-tiba merasa bersalah. Itu berarti kalian merasakan meta-emosi.

Apa itu meta-emosi

Sebenarnya, rasa bersalah merasakan sesuatu yang baik itu wajar lho. Kondisi ini biasa disebut meta-emosi, perasaan yang muncul sebagai respons dari perasaan lain. Bisa juga disebut sebagai emosi kedua. Misalnya kita senang karena bisa ikut kelas bahasa tambahan, lalu sedih karena ingat ada teman kita yang pengin banget masuk kelas tersebut tapi gagal.

Dilansir dari NYTimes, seorang lulusan psikologi klinis bernama Natasha Bailen berkata bahwa meta-emosi sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Penolakan terhadap emosi bisa berujung pada kondisi depresi, gangguan kecemasan, bahkan menurunkan nilai diri.

“Penelitian kami menunjukkan kalau seseorang cenderung lebih banyak merasakan meta-emosi ketika mereka lebih memperhatikan emosi mereka secara umum. Apalagi di masa pandemi, di mana orang-orang cenderung punya lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang mereka rasakan. Meta-emosi jadi lebih normal di masa pandemi Covid-19,” jelasnya.

Faktor yang mempengaruhi meta-emosi

Cara kita merasakan sesuatu dipengaruhi oleh masa kecil kita lho. Sejak dulu, kita secara nggak langsung belajar cara untuk bereaksi terhadap suatu hal. Misal kita harus menolong kalau ada teman yang jatuh atau keharusan-keharusan lainnya.

Akibatnya, ketika kita merasakan suatu emosi dan perasaan tersebut tidak pas dengan apa yang seharusnya kita rasakan, hasilnya adalah rasa bersalah atau malu. Tekanan lingkungan juga mempengaruhi tentang apakah apa yang kita rasakan ini “salah” atau “benar”.

Selain itu, manusia pasti nggak suka menjadi out-group atau berbeda sendiri dengan mayoritas grup masyarakat. Kebanyakan lagi kesusahan, eh kok kita tenang-tenang aja sih? Jadi deh kita merasa jadi monster dan ada yang salah dengan kita karena nggak merasakan hal yang sama dengan kebanyakan orang.

Cara menghadapi meta-emosi negatif

Kalau kita terus-menerus merasakan meta-emosi yang negatif, dampaknya bisa buruk untuk kesehatan mental kita. Kemungkinan kita akan berkonflik dengan diri sendiri karena terus merasa bersalah.

Nah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah jangan menganggap emosi tersebut tidak ada. Memang, yang paling terasa mudah adalah nggak memedulikan emosi tersebut. Tapi, ketika kita berusaha menghilangkannya, emosi tersebut justru muncul di tempat-tempat yang lain. Jadi, akui aja kalau emosi itu ada. Jangan termakan omongan “positive vibes only!”.

Kedua, anggap emosi negatif ini hal yang lumrah. Jangan hakimi diri sendiri karena merasakan perasaan negatif, tapi sadari kalau kita memang mampu merasakan berbagai emosi, bukan hanya yang positif. Miriam Kirmayer, seorang psikolog klinis asal Kanada berpendapat bahwa hal tersebut dapat mengurangi intensitas perasaan bersalah tersebut dengan adanya sebuah validasi diri.

Penting juga untuk membicarakannya terhadap orang yang kita percaya, agar kita bisa saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Mulai juga sebuah diskusi bagaimana cara mempertahankan keadaan baik yang kita punya dan memanfaatkannya untuk menolong orang lain lebih lagi.

Ingat, it’s okay to be not okay tapi juga it’s okay to be okay!

Related Articles
Lifestyle
Lagi Susah Menemukan Hal Untuk Disyukuri? Ini Waktunya Bikin Gratitude Journal

Lifestyle
Languishing: Keadaan Gak Baik-Baik Aja, tapi Juga Bukan Gangguan Mental

Lifestyle
Sering Merasa Gelisah? Hilangkan 5 Mindset Negatif Ini Untuk Lawan Anxiety