Current Issues

Mengapa Tes Antibodi Disebut Tidak Terlalu Berguna Dalam Pandemi Covid-19?

Dwiwa

Posted on August 22nd 2020

 Tes antibodi menjadi populer dilakukan oleh banyak orang untuk mengetahui apakah mereka kebal terhadap Covid-19 atau tidak. Namun sayangnya, baru-baru ini para ahli medis menyebut jika sebenarnya ini tidak terlalu berguna.

Dilansir dari The New York Times, sebagian besar tes antibodi ini hanya berguna untuk survei pada populasi besar, diagnosis pada anak-anak tertentu atau ketika diagnosis awal mengalami kegagalan.

Selain itu, banyak tes yang tidak akurat, beberapa bahkan menguji antibodi yang salah atau antibodi yang tepat menghilang.

Menurut para ahli di Infectious Diseases Society of America, tes saat ini tidak bisamenentukan apakah seseorang kebal. Hasilnya tidak dapat menginformasikan keputusan untuk menghentikan jarak fisik atau meminimalkan penggunaan alat perlindungan diri.

Mereka juga menyebutkan jika tes antibodi ini umumnya digunakan hanya untuk survei populasi bukan mendiagnosis individu. Namun ada dua kondisi dimana ini bisa digunakan, yakni ketika tes diagnostik normal untuk virus yang disebut tes PCR gagal atau kemungkinan gagal.

"Kita tidak benar-benar tahu apakah jika hasil tes positif berarti kalian kebal. Jika kalian sakit pada Maret, mungkin saja kalian tidak lagi memiliki antibodi. Dan jika kalian hanya sakit ringan, mungkin tidak ada antibodi," ujar dr Angela M. Caliendo, pakar Brown University Apert Medical School dan anggota panel tersebut.

Dia menambahkan, jika kalian tinggal di daerah dengan prevalensi rendah, kalian memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memperoleh hasil positif palsu. Kalian mungkin berpikir telah terlindungi padahal sesungguhnya tidak sama sekali.

Tes antibodi – yang menganalisis darah untuk mengetahui keberadaan protein yang dapat melawan virus -- berguna untuk survei pada populasi besar untuk melihat gambaran kasar berapa banyak orang telah terinfeksi.

Bahkan untuk tujuan itu pun, ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Hanya yang menunjukkan tes benar-benar positif  lebih dari 96 persen dan benar-benar negatif 99,5 persen saat itu yang bisa digunakan.

Sayangnya, sangat sedikit dari puluhan jenis tes yang dibuat di Amerika Serikat, Eropa dan Asia yang memenuhi standar ini. Tidak ada yang bisa dilakukan di rumah atau klinik dokter dengan segera.

Peralatan tes terbaik untuk pengujian ini dikenal dengan nama Elisa atau CIA (chemiluminescence immunoassay) dan yang kurang akurat adalah strip kertas.

Menurut kelompok tersebut, dengan dua pengecualian, tes antibodi tidak seharusnya digunakan untuk mendiagnosa infeksi pada individu. Namun ketika pasien mengalami semua gejala Covid-19, termasuk rontgen bukti pneumonia, tetapi hasil tes PCR tetap negatif, tes antibodi mungkin berguna.

Sebagai informasi tambahan, menurut Caliendo hasil PCR mungkin bisa negatif ketika virus telah bermigrasi dari hidung dan tenggorokan ke paru-paru. Namun tubuh belum memproduksi cukup antibodi untuk bisa terdeteksi sebelum dua minggu berlalu.

Tes antibodi juga bisa digunakan untuk diagnosis ketika dokter mencurigai seorang anak mengalami sindrom inflamasi multisistem. Sebuah kondisi langka tetapi merupakan komplikasi serius dari Covid-19 pada anak-anak.

Menurut pedoman tersebut, karena tidak diketahui berapa lama setelah infeksi peradangan ini terjadi, tes PCR dan antibodi harus dilakukan.

Kelompok para ahli ini pun merasa kesulitan untuk memberikan rekomendasi tes mana yang layak untuk dilakukan karena banyak tes yang kurang akurat. "Kami dengan naif berpikir ini akan sederhana. Tidak banyak hasil berkualitas tinggi pada tes ini," jelas Caliendo. (*)

Related Articles
Current Issues
Antibodi Covid-19 Mungkin Hilang 2-3 Minggu Setelah Orang Sembuh

Current Issues
Ilmuwan Temukan Imunitas Terhadap Covid-19 Bisa Tahan Lama Pasca Infeksi

Current Issues
Ini yang Terjadi Saat Coronavirus Masuk Tubuh Manusia