Hobi

Blackshark, Perusahaan di Balik Desain Realistis Game Flight Simulator

Ahmad Redho Nugraha

Posted on August 18th 2020

 

Diantara semua game simulator, sejauh ini Flight Simulator buatan Microsoft sepertinya menjadi yang paling canggih. Game ini memberikan sensasi menerbangkan pesawat secara virtual dengan teknologi dan tampilan visual yang detail.Ini berkat kolaborasi Microsoft dengan Asobo Studios dan Blackshark.

Blackshark layak mendapatkan kredit lebih dalam proyek pembuatan game ini karena merekalah yang bertanggung jawab di balik desain realistis dari semua kota, negara dan bandara yang ada di Flight Simulator. Startup yang beranggotakan tim sebanyak 50 orang ini memanfaatkan teknologi AI dan sumber komputasi masif dari sistem cloud.

Blackshark pada awalnya adalah spin-off dari studio game Bongfish yang mengerjakan World of Tanks : Frontline, Motocross Madness dan serial game Stoked Snowboarding. Michael Putz, co-founder sekaligus CEO Blackshark mengatakan jika serial Stoked adalah game yang mengantarkan mereka hingga menjadi Blackshark. 

"Salah satu game paling awal yang kami kerjakan di 2007 adalah game snowboarding bernama Stoked dan Stoked Bigger Edition, salah satu game pertama yang memiliki sudut pandang 360 derajat. Pemain game ini dapat terbang berkeliling gunung es menggunakan helikopter dan terjun bebas, lalu mendarat dimana pun," terang Putz.

"Gunung es itu sendiri dibuat secara prosedural, termasuk peletakan rintangan seperti tumbuhan, peluncur es lain dan hewan-hewan kecil, semua dilakukan secara berangsur-angsur. Setelahnya, kami mulai sering mengerjakan game balapan, menembak dan berkendara." 

Karena proses peletakkan setiap rintangan di game secara manual benar-benar menghabiskan waktu, maka Bongfish mulai membuat dan mendayagunakan tim AI.

Tim ini menggunakan sejumlah teknik machine-learning untuk membanguan sebuah sistem yang mempelajari sendiri bagaimana para desainer game membuat peta, lalu kemudian menciptakan peta mereka sendiri secara otomatis. Teknik inilah yang kemudian digunakan oleh Bongfish pada Flight Simulator, serta beberapa game lain sebelumnya.

"Aku secara tak sengaja bertemu seseorang dari Microsoft yang mencari studio untuk membantu mereka membuat Flight Simulator. Ide utama dari game ini adalah menggunakan Bing Maps sebagai medan permainan, sebagai peta maupun latar belakang," terang Putz.

Meski demikian, programetri data pada Bing Maps hanya menampilkan replika 100 peta kota di dunia dalam skala 1 : 1. Bahkan Bing Maps tidak memiliki data sebagian besar tempat di planet ini. Microsoft dan Asobo perlu membuat sisa peta itu dengan bantuan sebuah sistem, dan disinilah peran Blackshark. Reinkarnasi dari Bongfish ini merekonstruksi 1,5 miliar bangunan dari gambar satelit dua dimensi.

"Merekonstruksi bangunan 3D dari peta dua dimensi tentunya sulit. Bahkan kami kesulitan menentukan garis luar bangunannya secara tepat," timpal Putz. Meski Blackshark dapat mengandalkan data yang diperoleh dari Bing Maps dan sumber-sumber lainnya, mereka harus menentukan sendiri informasi khusus mengenai bangunan tersebut, seperti tinggi bangunan dan karakteristik bangunan tersebut.

Jika sistem mereka mengetahui jika tinggi rata-rata pusat perbelanjaan di suatu wilayah adalah tiga lantai, maka mereka dapat menjadikannya dasar untuk dipelajari dalam mendesain pusat perbelanjaan.

Blackshark mengakui jika mereka sangat mungkin membuat kesalahan dalam rekonstruksi yang mereka lakukan di Flight Simulator. Putz mengatakan jika tantangan terbesar mereka dalam menjalankan proyek ini adalah meyakinkan para mitra kerja mereka, terutama Microsoft, agar mereka diizinkan menggunakan pendekatan seperti ini dalam melakukan pekerjaannya.

Karena game ini dimainkan secara live-streaming, sistem yang dipergunakan di dalamnya akan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Microsoft akan memasukkan lebih banyak data ke game-nya via Azure, dan pemain akan melihat peningkatan kualitas game seiring dengan waktu.

Selain Microsoft, Blackshark juga bekerjasama dengan berbagai perusahaan di dunia dalam merekonstruksi pemandangan kota, salah satunya untuk keperluan simulasi mengemudi otomatis.

"Visi kami yang lebih besar adalah memciptakan versi kembaran digital dari planet kita, permukaan planet lebih tepatnya," sambung Putz.

"Game seperti Assassin's Creed dan GTA kini mencapai kapasitas pekerja hingga ribuan orang untuk mengerjakan game mereka, dan tentu saja sangat sulit untuk mengendalikan semua itu demi menghasilkan produk dengan tepat waktu. Kami yakin ada cara yang lebih otomatis atau semi-otomatis untuk melakukannya (membuat game dengan map nyata)."

Meski Blackshark mempelajari hal tersebut dari dunia game, mereka sebenarnya tidak akan terlalu berfokus kepada permainan, melainkan lebih kepada hal-hal lain seperti analisis geografis dan sistem pengendara otomatis. (*) 

 

Related Articles
Hobi
Hideo Kojima dan Junji Ito Dikabarkan Garap Game Horor Bareng

Hobi
Microsoft Rilis Game Flight Simulator 2020 pada 18 Agustus Nanti

Hobi
Inilah 7 Game Paling Dinantikan yang akan Rilis Tahun 2021!