Current Issues

Ahli Epidemiologi Peringatkan Terjadinya Kluster Baru Ketika Sekolah Dibuka

Dwiwa

Posted on August 17th 2020

Sejak pandemi Covid-19 menyebar luas di Indonesia, pemerintah telah mengambil kebijakan agar seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring. Tanpa tatap muka. Hal ini dilakukan guna menghindari semakin meluasnya penyebaran virus SARS-Cov-2.

Namun setelah berbulan-bulan pembelajaran daring di lakukan, para pembuat kebijakan tampaknya berubah pikiran. Di tahun ajaran baru, pemerintah mulai mengizinkan sekolah di zona hijau untuk dibuka. Tentu dengan beberapa syarat ketat yang harus dipatuhi.

Nah, kemudian di tengah lonjakan kasus yang tidak pernah di bawah seribu setiap harinya, ada revisi yang dilakukan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri. SKB itu tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi.

Dalam keputusan terbaru, tidak hanya sekolah di zona hijau yang boleh menggelar tatap muka. Sekolah di zona kuning pun diizinkan untuk melakukan pembelajaran secara normal tentunya juga harus mematuhi protokol yang ketat.

Ada banyak komentar dari guru dan murid soal ini. Ada orang tua yang merasa lega karena anaknya bisa kembali ke sekolah. Alasannya tentu beragam, satu di antaranya adalah pengeluaran pulsa yang membengkak sejak proses pembelajaran jarak jauh.

Tapi, tak sedikit pula orang tua yang masih tidak rela melepas anaknya ke sekolah mengingat kondisi saat ini. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria, S. Ked, MPH juga menganggap dibukanya kembali sekolah dengan kondisi saat ini cukup berbahaya dan berisiko. Bahkan, pembelajaran tatap muka ini bisa membuat klaster baru bermunculan.

“Sekolah tatap muka memiliki beberapa faktor risiko penularan karena ada kesulitan pengaturan jarak, penggunaan masker, ruang tertutup, waktu yang lama, serta interaksi antar orang secara dekat, terutama pada anak-anak kecil,” ujarnya seperti dilansir dari situs resmi UGM.

Dia pun mengingatkan di zona hijau sekalipun bisa muncul klaster baru ketika protokol tidak dilaksanakan dengan baik dan benar. Diperlukan adanya kesiapan sekolah hingga daerah masing-masing. Mulai dari desain kelas, protokol ketika siswa datang, pengawasan penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak sampai dengan skenario apa yang harus dilakukan jika diemukan kasus positif.

Sekolah harus benar-benar memastikan protokol kesehatan dilaksanakan dengan benar. Hal terpenting adalah memastikan semua siswa dan guru yang datang dalam kondisi sehat. Kejujuran orang tua dan campur tangan Dinas Kesehatan setempat memiliki peran dalam proses ini.

Hal lain yang tidak boleh diabaikan, menurut Bayu, adalah adanya pengecekan terkait kesiapan sekolah dalam melakukan pembelajaran tatap muka oleh pihak eksternal. Dia pun lebih menyarankan pembelajaran daring untuk saat ini, dengan catatan ada kerja sama yang baik dari orang tua dan sekolah.

Bayu juga mengingatkan jika proses pembelajaran daring untuk mencegah penularan Covid-19 jadi sia-sia ketika anak-anak bermain bersama teman-temannya tanpa menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada.

Sementara itu beberapa waktu lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan akan masih minimnya fasilitas cuci tangan di banyak sekolah di dunia. Ini juga yang menjadi kendala sekolah di berbagai belahan dunia bisa dibuka kembali.

Jadi, kembali lagi, kedisiplinan kita semua jadi kuncinya. Tetap jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker.(*)

Related Articles
Current Issues
Lonjakan Covid-19 Seminggu Terakhir Jadi Bukti Jika Kehidupan Normal Masih Jauh

Current Issues
WHO Tinjau Laporan yang Mendesak Revisi Pedoman Terkait Penyebaran Virus Corona

Current Issues
Pemulihan Global Akan Lebih Cepat Jika Vaksin Covid-19 Tersedia untuk Semua