Current Issues

Ada Virus Corona di Makanan Beku, Bisakah Membuat Kita Sakit?

Dwiwa

Posted on August 15th 2020


(Nataliia Rumiantseva/Alamy via The New York Times)

Kemunculan virus corona jenis baru di makanan beku yang diimpor Tiongkok dari Brasil membuat banyak orang khawatir. Kekhawatiran ini wajar mengingat virus SARS-Cov-2 ini memang bisa hidup lama di permukaan benda dan masih bisa menular.

Namun para ahli pada Kamis (13/8) menyebut jika kemungkinan tertular virus dari makanan, terutama makanan beku dan kemasan, sangat rendah. Pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga menyebut jika tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa menangani makanan atau mengonsumsi makanan berkaitan dengan Covid-19.

Penyebaran utama dari penyakit yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok ini melalui semburan droplet yang keluar ketika orang bersin, batuk, berbicara, atau bahkan hanya sekadar bernapas.

“Aku tidak menghubungkan ini dengan ketakutan apa pun bahwa ini adalah penyebab dari setiap peristiwa penularan jarak jauh,” ujar C. Brandon Ogbunu, seorang ekologi penyakit di Universitas Yale.

Ketika virus berhasil melewati batas internasional, hampir pasti virus ini disebarkan oleh manusia dibanding dengan produk-produk komersial yang mereka kirimkan.

Temuan virus corona di makanan beku ini terjadi kala pejabat di distrik Longgang Shenzhen, Tiongkok melakukan pengujian barang impor untuk melihat apakah ada materi genetik virus corona, atau RNA. Beberapa sampel dari kemasan paket makanan beku dinyatakan positif RNA SARS-Cov-2, yang beberapa diantaranya dikirim dari Ekuador.

Prosedur laboratorium yang mencari RNA juga menjadi dasar dari sebagian besar tes virus yang dilakukan pada manusia. Tetapi RNA hanyalah penunjuk keberadaan virus, yang dapat meninggalkan sedikit materi genetiknya meskipun sudah dihancurkan. “Ini hanya mendeteksi jika virus telah ada di sana,” ujar Ogbunu.

Untuk membuktikan jika virus tersebut berbahaya dan dapat hidup di makanan atau kemasan, para peneliti perlu mengisolasi mikroba dan melihat di dalam laboratorium jika ini masih bisa menggandakan diri. Penelitian ini menantang secara logistik dan membutuhkan orang yang terlatih secara khusus dan bukan merupakan bagian dari jalur pengujian biasa.

Adanya temuan ini juga membuat pejabat setempat melakukan tes pada beberapa orang yang dicurigai melakukan kontak dengan paket. Barang-barang kemasan lain juga turut diuji. Menurut rilis dari Kantor Pusat Pencefahan dan Pengendalian Epidemi Shenzen, semua sampel yang dianalisis sejauh ini memberikan hasil negatif untuk RNA virus corona.

Tetapi di pernyataan yang sama, ada juga peringatan terhadap para konsumen terkait produk impor beku lain, dan laporan awal temuan ini memicu kekhawatiran di sosial media. Di Selandia baru, dimana outbreak baru menyebabkan lockdown, para pejabat sedang meneliti kemungkinan masuknya virus melalui produk beku yang diimpor dari luar negeri.

Namun Angela Rasmussen, virologi dari Universitas Columbia, dan dokter Ogbunu mengatakan ada kejadian luar biasa yang tidak normal yang dibutuhkan agar virus dapat ditularkan melalui produk daging beku.

Darimana pun virus berasal, virus perlu bertahan melewati perjalanan melintasi benua dalam kondisi beku – kemungkinan meleleh dan dibekukan kembali setidaknya sekali dalam perjalanan – kemudian menemukan jalannya ke tangan tanpa perlindungan dan melanjutkan perjalanan ke hidung atau mulut.

Skenario lain yang lebih tidak mungkin adalah virus dapat bertahan pada makanan setelah dipanaskan, bertahan ketika ditelan ke dalam saluran pencernaan manusia yang sangat asam, kemudian bersarang di jalan nafas.

“Risiko itu sangat kecil bisa terjadi,” ujar Rasmussen. Beberapa virus mungkin bisa mengatasi perjalanan yang begitu berat ini. Tetapi virus corona mungkin bukan salah satunya mengingat ini disebut sebagai virus berselubung, terlindungi cangkang luar yang rapuh dan rentan terhadap semua gangguang lingkungan, termasuk perubahan suhu ekstrim.

Virus memang sering dibekukan di laboratorium untuk menjaga persedian patogen dalam penelitian. Tetapi untuk melakukannya, para ahli virologi harus memantau proses secara hati-hati untuk menghindari penghancuran kuman yang rentan.

“Tindakan membekukan adalah sejenis proses termodinamika yang keras. Virus, dengan segala ketangguhan dan kekokohannya, adalah peralatan infeksi yang sangat sensitif,” ujar Ogbunu.

CDC sendiri menyebut jika ada kemungkinan jika virus corona menyebar melalui permukaan terkontaminasi, termasuk makanan atau kemasan makanan. Tetapi itu bukan menjadi jalur utama penyebaran.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis juga mengatakan jika orang-orang tidak perlu terlalu khawatir dengan temuan ini.

“Orang tidak perlu takut pada makanan atau kemasan makanan atau makanan siap saji. Tidak ada bukti jika makanan atau distribusi makanan ambil bagian dalam penularan virus ini. Orang-orang dapat merasa nyaman dan aman,” ujar kepala program kedaruratan WHO Mike Ryan seperti dilansir dari Reuters.

Selain itu, epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove juga mengatakan jika dari ratusan ribu paket yang diperiksa Tiongkok, hanya sedikit yang terbukti positif mengandung virus tersebut. Jumlahnya bahkan tidak mencapai 10.

Ogbunu mengatakan cara terbaik untuk menghindari infeksi virus corona ini adalah dengan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain. Selain itu, rajin mencuci tangan dan juga berhati-hati dengan permukaan yang disentuh banyak orang.

“Tetapi berada dekat dengan orang lain adalah hal yang benar-benar dapat menjadi jalan untuk penularan,” ujar Ogbunu.

Related Articles
Current Issues
WHO Sebut Penularan Covid-19 oleh Orang Asimptomatik Jarang Terjadi

Current Issues
WHO Berjanji Lakukan Evaluasi Jujur Terkait Bagaimana Dunia Menangani Covid-19

Current Issues
WHO Minta Dunia Melakukan Segala Cara Dalam Perang Melawan Covid-19