Current Issues

Uji Klinis Obat Covid-19 Butuh Waktu Lebih Lama dari Perkiraan

Obat Covid-19 Bakal Lebih Lambat daripada Vaksin

Dwiwa

Posted on August 15th 2020

Peratalan untuk pasien baru di fasilitas pengujian klinis untuk antibodi monoklonal di Arizona untuk Regenon dan Eli Lilly. (Adriana Zehbrauskas/The New York Times)

Pembuatan vaksin Covid-19 terus menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan. Beberapa vaksin potensial juga telah memasuki tahap uji klinis fase III sebelum akhirnya bisa diproduksi dan digunakan untuk masyarakat luas.

Ketika semua mata tertuju pada kemajuan pembuatan vaksin, para peneliti di seluruh dunia sebenarnya juga tengah berlomba untuk menemukan obat Covid-19 paling efektif. Dibanding dengan vaksin, obat sebenarnya hanya membutuhkan uji klinis yang lebih kecil. Hal ini berarti prosesnya juga bisa lebih cepat dari vaksin.

Namun ternyata pencarian obat untuk Covid-19 tidak secepat yang dierkirakan. Dilansir dari The New York Times, uji klinis yang dilakukan terhadap obat-obat eksperimental yang paling menjanjikan untuk menyembuhkan penyakit ini memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.

Para peneliti di berbagai fasilitas uji klinis mengatakan jika adanya penundaan pengujian, keterbatasan staf, keterbatasan ruang, dan pasien yang enggan membuat mereka kesulitan untuk menguji antibodi monoklonal. Ini merupakan obat buatan manusia yang meniru tentara molekuler yang dibuat oleh sistem imun manusia.

Hal ini membuat deadline yang ditetapkan sebelumnya meleset. Pembuat obat Regeneron, yang sebelumnya mengatakan dapat menyediakan obat darurat antibodinya pada akhir musim panas, baru-baru ini mengatakan “data awal” mungkin akan tersedia akhir September.

Hal senada juga diungkap oleh perusahaan Eli Lilly yang pada Juni sempat optimis jika obat antibodi mereka siap pada bulan September. Pernyataan itu direvisi baru-baru ini dalam sebuah wawancara dan berharap bisa menghasilkan sesuatu sebelum akhir tahun.

“Tentu saja, Saya berharap bisa lebih cepat. Tidak ada pertanyaan tentang itu. Dalam harapan dan mimpi Saya, kami memperoleh pasien dalam satu atau dua minggu, tetapi ternyata lebih lama dari itu,” ujar Kepala Peneliti Eli Lilly, Dr Daniel Skovronsky.

Seorang juru bicara dari Regeneron, Hala Mirza, mengatakan bahwa semua uji klinis yang dilakukan melibatkan periode pembelajaran awal. Perusahaan saat ini melihat adanya momentum positif dan telah mengeirimkan mesin penguji ke beberapa fasilitas penelitian dan memperluas kriteria agar lebih banyak pasien berpartisipasi.

Eli Lilly dan Regeneron menggunakan dua perawatan yang paling diharapkan: antibodi hasil rekayasa laboratorium yang dapat melawan virus pada pasien yeng sakit atau pun mencegah infeksi pada mereka yang sudah terpapar virus SARS-Cov-2.

Kedua perusahaan ini berlomba mengembangkan produk mereka secepat mungkin dan memulai penelitian lebih besar musim panas ini di belasan rumah sakit dan klinik di Amerika Serikat. Mereka menguji berbagai kelompok yang positif terinfeksi tetapi tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit dan mereka yang telah terpapar virus dari orang yang telah terinfeksi. Semua uji coba membandingkan eksperimental dengan plasebo.

Cepatnya penularan yang terjadi telah menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi para peneliti. Salah satu tantangan terbesar adalah pengujian. Baik pada pasien rawat jalan yang direkrut oleh Eli Lilly dan Regeneron dokter harus berpacu dengan waktu.

Menurut aturan uji coba Regeneron, pasien harus memperoleh perawatan antibodi dalam waktu tujuh hari semenjak timbulnya gejala. Uji coba Regeneron dan Eli Lilly mengharuskan obat diberikan dalam waktu tiga hari setelah dianyatakan positif.

Namun adanya keterlambatan di beberapa daerah hingga lima hari bahkan lebih, membuat kerangka waktu ini sulit di penuhi. Arizona Clinical Trial telah dibanjiri oleh para relawan awal musim panas ini, namun kurangnya pasokan dan keterlambatan hasil membuat perekrutan pasien menjadi sulit.

Peneliti lain menyebut jika menemukan lokasi yang tepat untuk melakukan pengujian perawatan pada pasien rawat jalan sangat sulit. Pasien biasanya diuji melalui drive-thru dan kembali ke rumah. Sangat jarang yang berkunjung ke rumah sakit atau klinik kecuali kondisi memburuk.

Namun tidak semua fasilitas mengalami kesulitan melakukan pengujian. Salah satu tempat pengujian Eli Lilly di Lousiana, Imperial Health, sukses merekrut sekitar 45 pasien. Dokter Jason Morris bersama rekan dokter lainnya menghubungi setiap orang dan memberi tahu tentang penelitian ini.

Mereka menjelaskan jika Eli Lilly tengah menguji antibodi untuk bisa menghentikan virus menyerang dan menggandakan diri. “Ketika aku menjelaskan secara sederhana seperti itu, mereka menjadi ‘oh ayo kita lakukan,” ujar Morris.

Tetapi beberapa pasien menolak. Banyak yang berpikir uji klinis dengan perawatan yang diberikan seperti dalam situasi hidup dan mati dan tidak ingin mengambil risiko menggunakan obat eksperimental untuk penyakit yang mungkin bisa mereka atasi. Beberapa memiliki alasan logis: mereka tidak ingin melalui kerumitan uji coba hanya untuk menerima plasebo.(*)

Related Articles
Current Issues
Dua Bukti Baru Tunjukkan Dampak Buruk Covid-19 Pada Jantung

Current Issues
WHO: Penularan Covid-19 Lewat Airborne Jadi Perhatian, Droplet Masih Paling Umum

Current Issues
Ilmuwan: Mengungkap Asal Covid-19 Penting untuk Cegah Pandemi di Masa Depan