Lifestyle

Travelling Mungkin Tidak Aman, Tetapi Meninggalkan Liburan Juga Tidak Sehat

Dwiwa

Posted on August 13th 2020

Orang-orang mungkin berpikir berkali-kali untuk melakukan perjalanan semenjak pandemi Covid-19 menyebar luas. Apalagi dengan pemberlakuan lockdown  dan anjuran untuk di rumah aja membuat orang makin ragu untuk bepergian.

Namun di sisi lain, pandemi ini membuat kesehatan mental orang-orang jadi terganggu. Orang-orang mengalami kecemasan bahkan sebagian sampai depresi akibat keterbatasan aktivitas yang bisa dilakukan semenjak virus SARS-Cov-2 menginfeksi berbagai penjuru dunia.

Dilansir dari The Washington Post, di Amerika Serikat, Kaiser Family Foundation Health Tracking Poll selalu mendokumentasikan dampak mental dari pandemi ini setiap bulan. Pada bulan Juli, 53 persen orang dewasa mengatakan jika kekhawatiran dan stres akibat pandemi telah mempengaruhi kesehatan mental secara buruk.

Salah satu cara yang biasanya dilakukan, terutama oleh orang Amerika untuk mengelola kesehatan mental adalah travelling, sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan saat ini. Sebuah survei yang dilakukan Linkedln pada Juli terkait pengambilan cuti, menemukan bahwa di tengah pandemi, dua pertiga orang tidak berencana mengambilnya atau apakah mereka akan berlibur atau tidak pada 2020.

Tapi nih, para ahli mengatakan jika penting untuk mengambil cuti sementara dari pekerjaan demi memiliki mental yang sehat, terutama saat pandemi. Apalagi sebuah penelitian menunjukkan jika saat ini rata-rata orang bekerja 48 menit lebih lama.

Menurut para ahli di Society for Human Resource Management, saat ini pekerjaan telah berubah menjadi rumah dan rumah adalah pekerjaan. Hal ini membuat pekerja mungkin tidak bisa memisahkannya dengan benar yang berdampak pada kesulitan untuk bisa bebas dan menyegarkan diri.

Lalu, bagaimana caranya untuk berlibur sejenak dari pekerjaan tanpa harus meninggalkan lingkungan yang aman? Menurut para peneliti liburan di Finland Tampere University mengambil cuti dan tetap tinggal di rumah memiliki dampak yang mirip dengan liburan. Kuncinya adalah benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan.

Perbandingan yang mereka lakukan terhadap aktivitas perjalanan domestik dengan akhir minggu di rumah mengungkap jika sangat sedikit perbedaan dalam hal aktivitas dan pengalaman.

“Lingkungan rumah menimbulkan beberapa tantangan dalam hal melepaskan pekerjaan, terutama ketika rumah telah berubah menjadi kantor selama pandemi. Dan kita tahu dari penelitian (lain) jika melepaskan adalah salah satu komponen terpenting untuk pemulihan dari stres kerja,” ujar salah satu peneliti yang merupakan seorang psikolog klinis, Jessica de Bloom.

Sandro Galea, seorang epidemiologi dan ahli kesehatan mental Universitas Boston pun setuju. Dia juga menyebut jika nilai dari liburan adalah saat menghilangkan semua pemicu stres dari kehidupan sehari-hari.

“Jika hal ini bisa diperoleh hanya dengan tinggal di rumah, manfaat kesehatan mental yang diperoleh akan sama seperti ketika bepergian ke suatu tempat,” ujarnya melalui email.

Ada banyak penelitian yang menunjukkan manfaat medis dari melakukan perjalanan dan cuti sejenak dari pekerjaan, termasuk mengurangi stres, kebiasaan tidur yang lebih baik, dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Menurut De Bloom, pembatasan yang dilakukan seharusnya bukan menjadi penghalang orang-orang untuk cuti, terlepas dari kemana mereka akan pergi.

“Banyak orang membatalkan rencana liburan dan mencabut waktu berlibur. Mereka mengatakan jika tidak ada yang bisa dilakukan dan tidak ada tempat untuk dikunjungi. Ini adalah pemikiran yang berbahaya, karena orang menjadi sangat tertekan akibat pandemi dan membutuhkan pemulihan,” ujar de Bloom.

Dia juga mengatakan jika banyak orang yang menyamakan liburan dengan travelling. Padahal berlibur itu adalah ketika melakukan pelepasan mental dari pekerjaan dalam waktu lama untuk mendapatkan pengalaman pemulihan yang bermanfaat.

Lalu bagaimana caranya agar tetap bisa menikmati libur dan cuti di masa pandemi? De Bloom merekomendasikan model “DRAMMA” agar pemulihan berhasil. DRAMMA merupakan kependekan dari detachment (perasaan kebebasan emosional karena minimnya keterlibatan dalam suatu hal), relaxation (relaksasi), autonomy (otonomi), mastery (penguasaan), meaning (pemaknaan) dan affiliation (afiliasi).

Tidak peduli dimana kalian menghabiskan waktu libur, de Bloom mengatakan keadaan ini penting untuk memulihkan diri dari stres pekerjaan dan mengisi ulang baterai, seperti yang dilakukan saat tidur.

Meski tidak semua kondisi ini perlu dicapai untuk memulihkan kesehatan mental dari stresor pandemik, semuanya merupakan strategi yang telah terbukti untuk mencapai pemulihan. Menghabiskan waktu beberapa hari untuk liburan dengan metode ini dapat berdampak positif pada kondisi mental di tengah banyaknya kabar simpang siur dan tekanan saat bekerja dari rumah.

Pemicu stres di 2020 berbeda dengan apa yang pernah ada dalam ingatan kita. Tidak dibutuhkan perjalanan dengan pesawat, atau bahkan mobil, untuk bisa mendapatkan suasana liburan dan istirahat. Kita hanya perlu mengambil cuti sejenak dari pekerjaan yang menumpuk. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Pakar WHO Sebut Tes Harus Lebih Berperan Dalam Perjalanan Internasional

Current Issues
Transaksi Online, Pilihan untuk Kurangi Risiko Tertular Covid-19 Saat Liburan

Current Issues
Asyik, Thailand Berencana Buka Pintu untuk Turis Asing Mulai Minggu Depan