Current Issues

Infeksi Coronavirus Jenis Lain Mungkin Bisa Memicu Imunitas Terhadap Covid-19

Dwiwa

Posted on August 12th 2020

 

Virus SARS-Cov-2 telah menginfeksi lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, tidak semuanya mengalami sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit . Beberapa diantaranya bahkan tidak bergejala dan tidak menyadari jika sudah terinfeksi virus yang pertama dilaporkan di Wuhan, Tiongkok tersebut.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Science bulan ini cukup menjanjikan untuk memahami bagaimana orang-orang yang terpapar Covid-19 memiliki reaksi yang berbeda. Mereka menemukan ada tanda-tanda kekebalan potensial pada orang-orang yang sebelumnya terpapar virus corona jenis lain.

Menurut penelitian yang didanai oleh National Institute of Allergy dan Infectious Disease AS, sistem kekebalan dari sekitar setengah subyek penelitian memiliki ingatan paparan masa lalu terhadap virus corona jenis lain, termasuk jenis flu biasa.

Temuan ini menawarkan wawasan baru yang dapat digunakan untuk membantu pengembangan vaksin dengan melihat sel T yang sudah dikenal membantu melawan virus. Saat ini, semua kandidat utama vaksin virus corona yang tengah diuji klinis berfokus pada pemanfaatan antibodi protein yang dapat menetralkan virus.

Semenjak pandemi Covid-19 menyebar luas, para peneliti termasuk ahli penyakit menular kenamaan Amerika Serikat dokter Anthony Fauci, memiliki banyak pertanyaan mengapa virus corona jenis baru ini dapat menyerang orang dengan parah tetapi sebagian lainnya tetap baik-baik saja.

“Salah satu hal yang saya pikir tidak banyak ditekankan dalam upaya mengatasi pandemi Covid-19, secara ilmiah, dan pengembangan serta pengujian vaksin adalah bahwa kami terlalu fokus pada tes antibodi. Padahal ada komponen penting lain di dalam sistem imun,” ujar Fauci kepada McClatchy dalam sebuah wawancara.

Penelitian ini juga menjadi salah satu yang pertama dalam mengidentifikasi “reaktivasi silang” pada individu yang sebelumnya pernah terpapar pada salah satu dari empat strain virus corona endemik, SARS, atau MERS.

Sebuah sel yang dikenal sebagai sel T yang  berasal dari timus, berfungsi sebagai garis pertahanan sekunder dalam sistem kekebalan setelah antibodi gagal atau musnah.

“Ibaratnya sebagai tentara dengan tingkat pertahanan yang berbeda, antibodi mencegah virus masuk. Jadi itu seperti garis pertahanan pertama. Untuk virus yang berhasil lolos dan menginfeksi sel, sel T akan datang dan membunuh sel terinfeksi atau memblokirnya,” ujar dokter yang juga memimpin National Institute of Allergy dan Infectious Disease AS ini.

Sel T individu dalam penelitian ini dapat mengenali virus corona jenis baru ketika diperkenalkan dengan sistem imun untuk pertama kalinya. Angela Rasmussen, ahli virus dari Columbia University, juga menjelaskan sistem imun dengan istilah militer, menyamakan antibodies dengan infantri dan sel T sebagai kavaleri.

“Tidak ada tentara kita yang dilatih sebelumnya. Tetapi Sel T memperlihatkan, mungkin kavaleri benar-benar siap menghadapi virus ini. Mungkin mereka telah mengetahui sedikit cara untuk melawannya. Dan mungkin ini dapat membantu seluruh tentara untuk mencegah virus menyerang,” ujar Rasmussen.

Meski Rasmussen juga menyetujui jika temuan ini adalah kabar baik, dia mengingatkan agar tidak menanggapinya secara berlebihan. Sebab, tingkat perlindungan pada ingatan sel T atas virus corona jenis lain masih belum diketahui.

Fauci juga menyebut jika meski sel T bisa bertahan lebih lama dibanding antibodi, mereka tidak permanen. Semakin barus seseorang terinfeksi dengan jenis virus corona lain, maka kemungkinan perlindungan terhadap Covid-19 juga semakin besar.

Ini mungkin menjelaskan adanya perbedaan besar yang terjadi pada orang berusia lanjut, dimana para peneliti telah melacak kasus asimptomatik dan juga kematian dalam jumlah besar. Bisa jadi salah satu lansia baru-baru ini terinfeksi virus corona yang lebih umum sementara yang lain tidak terpapar selama berpuluh-puluh tahun dan tidak memiliki ingatan sel T yang mungkin memberi perlindungan.

Dokter Shane Crotty, ahli virus di La Jolla Institute for Imunologi dan penulis senior di penelitian Science mengatakan jika temuan ini mungkin berarti jika ingatan sel T individu terhadap flu biasa membuat respon keparahan terhadap Covid-19 menurun karena sistem imun merespon infeksi baru dengan lebih cepat.

“Sebagian besar orang setidaknya terkena empat jenis virus corona flu selama hidup mereka, dan sekitar setengahnya memiliki ingatan imun yang bereaksi silang antara virus corona flu dengan virus corona jenis baru ini,” ujarnya.

Meski begitu, dia menyebut jika masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat dampak keseluruhan dari apa yang telah ditemukan. Apalagi belum ada bukti langsung terkait dampak sel ini dalam keparahan penyakit.

“Kami telah mengambil langkah-langkah kritis untuk mengujinya, menunjukkan jika sel ini ada, dan sekarang memperlihatkan jika sel ini tidak sama pada setiap orang, dan itu, tentu saja, beberapa di antaranya memiliki ingatan dari paparan flu biasa,” tambahnya. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Ilmuwan Temukan Imunitas Terhadap Covid-19 Bisa Tahan Lama Pasca Infeksi

Current Issues
Mengapa Tes Antibodi Disebut Tidak Terlalu Berguna Dalam Pandemi Covid-19?

Current Issues
4 Vitamin Ini Bantu Perkuat Sistem Imun Tubuh Loh!