Current Issues

Mengenal 'Ekologi 101', Ketika Disinfeksi Mengancam Kehidupan di Alam Liar

Ahmad Redho Nugraha

Posted on August 10th 2020

Pada masa awal pandemi Covid-19, banyak dinas kesehatan di seluruh dunia yang meyakini jika penyemprotan cairan disinfektan di tempat umum dapat membantu mencegah penyebaran virus korona. Negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Perancis, Spanyol dan Indonesia adala contoh negara yang melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum, seperti taman, pasar dan jalanan kota.

Indonesia menyemprotkan disinfektan dengan menggunakan pesawat drone, sementara Tiongkok memanfaatkan teknologi robot. Spanyol bahkan menyebarkan ratusan galon cairan disinfektan ke pantai publik.

Meski demikian, banyak pakar penyakit menular di dunia, termasuk WHO memperingatkan jika penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum bukan hanya tidak efektif dalam menghalau penyebaran Covid-19, tetapi juga berpotensi membahayakan kehidupan satwa liar.

Kandungan di dalam disinfektan, seperti pemutih dan amoniak dapat membahayakan jika dihirup atau dikonsumsi. Pendapat senada juga disuarakan oleh ahli biologi pada awal Agustus ini lewat jurnal Environmental Research. 

Tiongkok adalah negara pertama di dunia yang melakukan penyemprotan disinfektan pada Januari lalu. Tak lama setelahnya, Biro Kehutanan Chonqing melakukan investigasi di wilayah Selatan Tiongkok, lalu menemukan 135 kasus kematian hewan dari 17 jenis spesies, di antaranya babi hutan, musang siberia dan burung.

Komposisi disinfektan seperti sodium hipoklorida, klorin dan pemutih bersifat sangat toksik, baik terhadap hewan darat maupun hewan air, demikian terang Dongming Li, profesor di bidang ekologi dari Universitas Hebei Normal, sekaligus salah satu penulis jurnal Envirenmenta Research.

"Kematian karena penggunaan disinfektan berlebihan dapat mengontaminasi habitat dari hewan liar di wilayah perkotaan," tambahnya.

Kini, Li memperingatkan para pemimpin dunia untuk meregulasi penggunaan dan pembuangan sisa disinfektan di wilayah perkotaan yang selama ini digunakan tanpa ketelibatan komunitas ilmuwan.

Disinfektan kimia mampu membunuh virus, bakteri dan mikroorganisme lainnya dengan menghancurkan lapisan terluar selnya dan merusak proteinnya lewat proses oksidasi. Jika terhirup maupun tercerna oleh manusia dan hewan, senyawa ini dapat mengiritasi lapisan mukus pada organ pernapasan dan percernaah. Pada tingkat yang lebih ekstrem, hal tersebut dapat berujung kematian.

"Jika seseorang memasukkan unsur beracun ke dalam sebuah sistem, maka unsur tersebut akan menyebar lewat rantai makanan," terang Christopher J. Schell, profesor di bidang ekologi urban di Universitas Washington. Hal ini dinamai 'Ekologi 101'.

Di Brickell Key, sebuah pulau buatan di Miami, Florida, beberapa penduduk lokal dan anjing peliharaan mereka jatuh sakit tak lama setelah Brickell Key Master Association, lembaga yang mengelola pulau tersebut melakukan program sanitasi di luar ruangan. Dalam program tersebut, pekerja dengan seragam hazmat menyemprotkan disinfektan setiap hari di taman, tempat pejalan kaki dan tempat duduk umum. Satu pekan setelah program tersebut dilaksanakan, beberapa orang masyarakat mulai mengalami sakit kepala berat, dua ekor anjing muntah-muntah.

Belum diketahui apakah hal tersebut berhubungan dengan program disinfeksi, namun tidak sulit menduga jika penyemprotan disinfektan secara berlebihan di tempat umum dapat menimbulkan bahaya kesehatan seperti itu.

Di sisi lain, penyebaran Covid-19 sebenarnya lebih rentan terjadi lewat percikan bersin yang membawa virus korona di udara, bukan karena sentuhan pada permukaan benda di tempat umum. Pada Mei lalu, WHO menyarankan agar tidak ada lagi yang melakukan disinfeksi di luar ruangan, karena jalanan dan trotoar bukan "rute utama" dalam penyebaran Covid-19.

Selain itu penyemprotan disinfektan secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, seperti iritasi pada mata, saluran pernapasan dan kulit. Meski demikian, WHO pada waktu itu belum memperingatkan bahaya disinfektan terhadap kehidupan di alam liar.

Walau begitu, beberapa negara di dunia seperti Brasil diketahui masih tetap melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum.

"Pandemi Covid-19 telah menciptakan ketakutan bagi masyarakat di banyak negara. Banyak lembaga kesehatan di dunia masih melakukan disinfeksi untuk membunuh virus dan menghilangkan kecemasan mereka akan terjadinya infeksi," terang Li.

Li menganjurkan, jika daripada memastikan virus di tempat umum mati, semua orang lebih baik tetap tinggal di rumah saja. (*)

Related Articles
Tech
Tak Perlu Cuci Tangan! Mesin Ini Bisa Disinfeksi Kamu Dengan Sinar Ultraviolet

Current Issues
Ilmuwan Temukan Virus Lain Mirip SARS-CoV-2 pada Kelelawar

Current Issues
Sirkulasi Udara di Pesawat Lebih Aman dari Coronavirus Dibanding di Restoran