Current Issues

Anak Muda yang Positif Covid-19 Cenderung Kehilangan Indera Penciuman dan Perasa

Dwiwa

Posted on August 6th 2020

Covid-19 tidak hanya berdampak buruk bagi pasien berusia lanjut. Orang-orang berusia muda pun merasakan sakit yang sama parahnya dengan para orang tua ketika terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini. 

Bukti-bukti yang diperoleh dari penelitian menunjukkan jika anak muda yang dulu disebut “kebal” ternyata juga harus bertekuk lutut dengan penyakit ini. Sebagian bahkan masih merasakan gejala mengganggu meski hasil tes sudah negatif. (Baca juga: Please Pakai Masker! Pinta Penyintas Covid-19 yang Belum Bisa Hidup Normal)

Dalam penelitian terbaru, pasien Covid-19 berusia muda juga cenderung kehilangan indera penciuman dan kemampuan merasa.

Dilansir dari Dailymail, sebuah penelitian di Irlandia yang memeriksa 46 pasien terinfeksi, menemukan sekitar setengah dari peserta mengalami disfungsi bau dan rasa yang menjadi salah satu gejala Covid-19.

Jika orang tua lebih rentan dengan gejala lain, tampak nya orang muda lebih cenderung mengalami anosmia (kondisi ketika indra penciuman tidak berfungsi normal) dan ageusia (kondisi seseorang tidak bisa merasakan apapun dari makanan).

“Temuan ini menambah bukti tentang kehilangan kemampuan mencium dan merasakan makanan pada pasien Covid-19 dan menunjukkan frekuensi lebih tinggi pada gangguan indera ini pada orang yang lebih muda,” ujar pemimpin tulisan Colm Kerr di St James Hospital Dublin.

Penelitian ini menggunakan skala lima poin sebagai ukuran. Nilai satu untuk tidak adanya perubahan hingga 5 yang berarti perubahan sangat intens. Hasilnya, 48 persen melaporkan beberapa tingkat kehilangan indra penciuman dan 54 persen mengalami kehilangan indra perasa.

Dari jumlah tersebut, 13 di antaranya melaporkan kehilangan indra penciuman secara total. Delapan orang kehilangan indra perasa secara total. Dan, tujuh kehilangan keduanya. Usia rata-rata pasien yang mengalami gangguan pencecap ini berusia 30,5 tahun.

Penelitian ini merupakan analisis restrospektif dari sekelompok kecil pasien dengan Covid-19 ringan. Hasilnya mungkin tidak mewakili gangguan ini pada pasien dengan kasus yang lebih parah. Diperlukan eksplorasi lebih lanjut dalam kelompok lebih besar dengan keparahan yang beragam untuk bisa mendapatkan hasil yang representatif.

Penelitian terkait hubungan Covid-19 dengan kehilangan indera pencecap dan penciuman ini pun bukan yang pertama. Sebelumnya, penelitian Italia yang dipublikasikan di Clinical Infectious Disease menemukan bahwa gangguan penciuman dan rasa lebih sering terjadi pada usia muda.

Sebuah penelitian berbasis di Inggris dan dipublikasikan di Nature Medicine yang dilakukan oleh Menni et al juga melaporkan jika gangguan penciuman dan merasakan dapat memprediksikan kehadiran Covid-19.

Ketidakmampuan mencium dan merasakan mungkin merupakan gejala awal Covid-19 dan dapat terjadi dalam hitungan jam setelah terinfeksi. Gejala ini pun sudah dimasukkan National Health System (NHS) sebagai tiga gejala utama Covid-19 selain demam dan batuk secara terus menerus.

Kehilangan indra penciuman dan pencecapan ini bahkan berlangsung cukup lama. Beberapa penelitian menemukan kemampuan kedua indera tersebut bahkan belum kembali normal dalam kurun waktu sebulan.

Namun sayangnya, gejala ini terkadang tidak diikuti dengan gejala lain. Orang-orang bahkan sembuh sepenuhnya tanpa menyadari jika mereka memiliki virus corona.

Kelompok individu muda ini dianggap memiliki sistem imun yang kuat sehingga menjaga virus tetap dihidung, mencegahnya menyebar ke paru-paru yang dapat menyebabkan pneumonia fatal.

“Biasanya, ketika kalian terkenal pilek atau virus flu, hidung jadi tersumbat dan kehilangan kemampuan mencium karena tidak cukup udara (yang membawa bau) ke dalam lubang hidung. Berbeda dengan Covid-19,” ujar mantan presiden ear, nose, throat (ENT) Inggris, dr Tony Narula.

Menurut Tony, virus sepertinya menyerang langsung ke saraf penciuman yang ada di dinding atas hidung, tepat di antara mata. Salah satu alasan yang membuat begitu banyak orang menderita adalah karena saraf ini tidak tertutupi jaringan pelindung, sehingga virus dapat menyerangnya dan menyebabkan peradangan dan memutus sinyal bau menuju otak.

Presiden ENT UK saat ini, Profesor Nirmal Kumar pun menyarankan kepada orang-orang yang tidak menemukan alasan jelas terkait hilangnya kemampuan merasa dan mencium untuk melakukan isolasi mandiri setidaknya tujuh hari. Ini sebagai antisipasi kemungkinan mereka terinfeksi Covid-19.

Tuh guys, kan nggak enak banget kalo makan tapi nggak bisa nyium dan merasakan kelezatan hidangan yang tersaji. Kurang garam aja rasanya udah nggak karuan, apalagi kalau sama sekali nggak ada rasa.

So, kita cegah dan hentikan yuk penularan Covid-19. Caranya mudah kok. Cukup selalu kenakan masker minimal dua lapis saat keluar rumah, menjaga jarak setidaknya dua meter, dan selalu rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Selain itu, hindari dulu pertemuan dalam jumlah besar untuk sementara. Hindari pula pusat keramaian di dalam ruang yang ber-AC. Soalnya nih, ruang tertutup ber-AC juga punya risiko tinggi dalam menyebarkan Covid-19. (Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Ruangan BerAC saat Pandemi? Ini Kata Ahli...).(*) 

Related Articles
Current Issues
Ingin Survive Saat Pandemi, Perbanyak Diam

Current Issues
Face Shield Tanpa Masker & Masker Berkatup Tak Efektif Cegah Penularan Covid-19

Current Issues
Direktur CDC: Semua Pakai Masker Selama 12 Minggu, Pandemi Bisa Dikendalikan