Current Issues

Peneliti Italia: Beberapa Penyintas Covid-19 Alami Gangguan Pada Kejiwaaan

Dwiwa

Posted on August 4th 2020

Pandemi Covid-19 telah membuat lebih dari 600 ribu jiwa melayang dan menginfeksi hampir seluruh penjuru bumi. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini pun telah diketahui dapat merusak berbagai organ penting seperti paru, jantung, bahkan otak.

Tapi ternyata selain berdampak signifikan pada kesehatan manusia secara fisik, pandemi ini juga berpengaruh terhadap kesehatan mental lho. Bukan hanya bagi mereka yang kelamaan di lockdown, para penyintas Covid-19 juga mengalami gangguan pada kejiwaan mereka, tapi ini bukan berarti gila ya guys. 

Hal ini diungkapkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit San Raffaele di Milan, Italia pada Senin (3/7). Dilansir dari Reuters, lebih dari 402 pasien yang dipantau setelah perawatan akibat virus setidaknya mengalami satu dari beberapa gangguan kejiwaan sebanding dengan keparahan peradangan selama sakit.

"Jelas jika peradangan yang disebabkan oleh penyakit ini juga dapat berdampak pada level gangguan kejiwaan,” jelas profesor Francesco Benedetti, pemimpin Unit Penelitian di Psychiatry and Clinical Psychobiology di San Raffaele.

profesor Francesco Benedetti

Berdasarkan hasil wawancara klinis dan kuisioner penelitian mandiri, dokter menemukan ada 28 persen kasus mengalami stres pasca-trauma (PTSD), 31 persen depresi, 42 persen kecemasan, 40 persen insomnia, dan akhirnya gejala obsesif-kompulsif pada 20 persen kasus.

Dalam penelitian yang melibatkan 265 pasien laki-laki dan 137 perempuan ini menunjukkan jika perempuan paling banyak mengalami kecemasan dan depresi meskipun tingkat keparahan infeksi lebih rendah.

“Hipotesis kami, ini mungkin disebabkan karena sistem kekebalan tubuh berfungsi secara berbeda,” kata Profesor Benedetti. Dampak kejiwaan yang tidak terlalu serius juga ditemukan pada pasein rawat inap daripada pasien rawat jalan.

Konsekuensi psikoatrik dari Covid-19 dapat dikarenakan respon kekebalan tubuh kepada virus sendiri dan faktor stres psikologis seperti stigma, isolasi sosial, dan kekhawatiran telah tidak sengaja menginfeksi orang lain.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah Brain, Behaviour and Immunity ini menggarisbawahi kekhawatiran yang berkembang tentang dampak potensial komplikasi kesehatan bagi penyintas Covid-19. Awal bulan lalu, peneliti juga mengingatkan adanya potensi kerusakan otak pada orang-orang yang terinfeksi.

Jadi, masih mau ngeyel nggak pakai masker dan menolak jaga jarak? (*)

Related Articles
Current Issues
Ahli Sebut Masker Dapat Melindungi dari Keparahan Penyakit Akibat Covid-19

Current Issues
Mitos Atau Fakta? Ini Serba Serbi Masker yang Wajib Kalian Ketahui

Current Issues
WHO: Usia di Atas 12 Tahun Wajib Pakai Masker untuk Cegah Penularan Covid-19