Lifestyle

Virus Corona Mengubah Cara Kita Dalam Menikmati Kopi

Dwiwa

Posted on August 2nd 2020

Ada banyak hal yang berubah semenjak virus SARS-Cov-2 menyebar luas dan menginfeksi hampir seluruh penjuru bumi. Berbagai sektor industri pun mengalami pukulan berat akibat pandemi ini, termasuk kafe yang sebagian diantaranya memilih tutup sementara akibat tidak ada pelanggan.

Coffe shops sekelas Starbucks pun mengalami penurunan yang cukup signifikan secara finansial, mencapai 40 persen di kuartal yang sama dibanding tahun lalu. Beberapa tokonya tutup di musim semi akibat pandemi. Selain itu, para pelanggan setianya tidak lagi pergi ke kantor yang juga berakibat pada perilaku mereka dalam mengonsumsi kopi.

“Gangguan pada rutinitas pagi di hari kerja, terutama saat perjalanan ke tempat kerja dan sekolah, cukup menyulitkan,” ujar CEO Starbuks Kevin Johson seperti dilansir dari New York Magazine. Mereka mencatat ada perubahan waktu puncak pengunjung. Kini, puncak pengunjung berlangsung pukul 9.30 pagi dan pukul 2.00 siang.

Namun alasan lain mengapa orang semakin sedikit membeli kopi di Starbucks adalah mereka telah menyeduh kopi sendiri di rumah.

Bisa dikatakan kerugian Starbuks berarti keuntungan bagi beberapa perusahaan lain. J.M. Smucker, perusahaan yang membuat kopi Folgers, Dunkin Donuts, dan Kafe Bustelo mencatatkan kinerja cukup baik selama pandemi. Sampai Mei, mereka menjual lebih banyak kopi dalam ukuran besar ke rumah tangga untuk diseduh sendiri.

Produsen mesin pembuat kopi rumahan juga ketiban untung. Helen of Troy Ltd, produsen OXO, mengatakan jika merek tersebut mengalami peningkatan penjualan selama musim semi. Sebab banyak yang membeli produk untuk digunakan saat mereka di rumah aja. Produk paling laris adalah pembuat kue, kopi, penyimpanan dan pembersih.

Newell Brands (yang memiliki berbagai merek produk termasuk Sharpie, Yankee Candle, dan Rubbermaid), melaporkan penjualan turun secara keseluruhan di kuartal musim semi, namun mengalami peningkatan 6 persen di sektor perkakas dan peralatan masak, termasuk Mr. Coffe.

Produsen kopi ternama Nestle juga menikmati keuntungan dengan peningkatan penjualan kopi secara keseluruhan. Namun, keuntungan penjualan kopi ke konsumen rumah tangga juga diimbangi dengan kerugian yang dialami akibat penurunan permintaan dari konsumen penyedia jasa makanan dan minuman.

Pertanyaannya adalah, sampai kapan perubahan perilaku para konsumen ini akan bertahan. Sebagian mungkin akan sangat bersemangat untuk kembali memenuhi berbagai coffee shops saat kehidupan new normal alias adaptasi kebiasaan baru sudah sepenuhnya berlaku berlaku.

Tapi, sebagian mungkin menemukan jika membuat kopi sendiri di rumah lebih murah, mudah atau bahkan lebih lezat dibanding pergi ke kafe. CEO Smucker, Mark Smucker mengatakan jika lebih dari satu juta pelanggan baru pertama kali membeli produk kopi perusahaan dan mereka berencana mengembangkan strategi untuk menjadikannya pelanggan jangka panjang.

Namun agaknya, geliat dunia perkopian sudah mulai menuju normal. Kafe Starbucks yang ada di Amerika Serikat yang tetap buka selama pandemi (biasanya memiliki drive-thru) mulai kembali ke pertumbuhan penjualan yang positif meski secara keseluruhan penjualan masih menurun.

Donkin Donuts, yang melaporkan penurunan penjualan di toko yang sama pada musim semi ini mengatakan jika penjualan hampir pulih. Ini tampaknya bisa menjadi tanda jika mesin kopi baru yang dibeli oleh orang Amerika di musim semi ini akan berakhir di gudang saat mereka kembali pada kebiasaan dibuatkan kopi oleh orang lain. (*)

 

Related Articles
Interest
Pasien Corona di Indonesia Capai 27 Orang, Pantau Perkembangannya di Situs ini

Current Issues
Cara Ini Ampuh untuk Atur Ulang Jadwal Tidur Selama Karantina Mandiri

Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus