Current Issues

Apa yang Harus Dilakukan di Ruangan BerAC saat Pandemi? Ini Kata Ahli...

Dwiwa

Posted on August 1st 2020

Musim panas tengah berlangsung di bumi belahan utara. Indonesia pun sudah masuk musim kemarau yang membuat cuaca jadi lebih panas. Di cuaca yang panas dengan suhu udara cukup tinggi, para ahli kesehatan biasanya menganjurkan orang-orang untuk berlindung di balik ruang ber-AC. Namun di tengah pandemi Covid-19, kondisi ini agaknya kurang disarankan.

Dilansir dari ABC News, ahli penyakit menular dokter Donald Milton dari University of Maryland mengatakan jika beberapa penelitian terbaru menunjukkan kalau ventilasi udara yang buruk berperan dalam peningkatan risiko penularan Covid-19. Termasuk di dalam ruangan ber-AC.

"Setiap berada di lingkungan tertutup, kita berisiko lebih tinggi. Saya sangat khawatir dengan orang-orang yang pergi ke pusat-pusat pendinginan di mana AC tidak menyaring udara atau membawa masuk udara dari luar, dan banyak orang berdempetan di dalam ruangan tersebut," ujarnya.

Kekhawatiran Milton ini bukan tanpa dasar. Apa yang dikemukakan berdasarkan temuannya bersama tim ilmuwan internasional. Temuan itu diterbitkan awal bulan lalu. Penemuan itu terkait penyebaran virus influenza lewat udara yang sangat mengkhawatirkan. Penyebarannya lewat droplet kecil. Nah, influenza dan Covid-19 sama-sama virus pernafasan.

Milton mengatakan, temuan itu bisa diartikan bahwa berada di ruangan tertutup --yang biasa digunakan orang-orang untuk menghindari panas matahari-- menjadi tempat ideal untuk penularan virus. Apalagi jika di dalam ruangan itu orang-orang saling berdempetan.

“Ketika orang masuk ke dalam ruangan saat cuaca panas dan menghirup ulang udara yang sama, risiko infeksinya cukup dramatis,” ujar dokter Edward Nardell. Ia adalah profesor di Harvard Medical School. Prinsip ini juga berlaku di musim dingin, yang memaksa orang-orang untuk berada di dalam ruangan.

Nardell juga mengatakan jika orang-orang yang ingin berlindung dari sengatan matahari di dalam ruang harus lebih peduli dengan perlindungan pribadi. Caranya adalah dengan menggunakan masker dan menerapkan social distancing.

Bukan hanya pengunjung, Nardell dan ahli lainnya berpendapat jika pemilik gedung atau pengelola fasilitas juga dapat melakukan sesuatu untuk menurunkan risiko penularan. Misalnya saja dengan memasang lampu anti kuman yang memanfaatkan sinar UV untuk membunuh patogen mengambang saat beredar di udara.

Beberapa ahli juga menyarankan adanya penambahan sistem penyaringan yang ada di AC. Menurut dokter Erin Bromage, profesor biologi peneliti penyakit menylar di University of Massachussetts-Dartmouth, pengelola bangunan harusnya menambahkan penyaring udara. Penyaring udara ini diukur dengan kekuatan yang dikenal sebagai Minimum Efficiency Reporting Value (MERV), yang mengindikasikan seberapa kecil partikel yang dapat mereka saring.

Beberapa kota sudah melakukan ini. Di New York misalnya. Di sana sudah dikeluarkan pedoman yang mengharuskan pusat perbelanjaan besar untuk memasang filter berperingkat MERV-13. Jika tidak memasang filter tersebut, pusat perbelanjaan di sana tak boleh buka kembali. 

Lalu bagaimana dengan taksi atau kendaran berpenumpang lain di mana pelanggan tampaknya tidak memiliki kemampuan untuk mengganti filter udara?

“Mengendarai satu mobil bersama menjadi salah satu interaksi yang memiliki risiko tertinggi yang saya lihat dalam hidup,” Bromage memperingatkan.

Untuk menurunkan risikonya, Bromage menganjurkan agar penumpang meminta supir menyalakan AC, mematikan mematikan pendaur ulang udara, dan mungkin yang terpenting menurunkan jendela.

"Di dalam mobil dan kendaraan bersama, kami ingin jendela terbuka. Itu membuat segalanya lebih aman," ujar Bromage.

Selain itu, tampaknya cara lain yang cukup mudah dilakukan untuk melawan Covid-19 adalah mengikuti protokol kesehatan yang sudah lama dibuat oleh para ahli. Yakni, mengenakan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak serta rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Tak hanya itu, pastikan kalian selalu berada di tempat yang memiliki cukup udara segar. Hindari juga berada di ruang tertutup yang ramai. Hal-hal kecil yang mungkin kalian anggap sepele ini bisa membuat perbedaan.(*)

Related Articles
Current Issues
Beda Dengan Flu, Covid-19 5 Kali Lebih Mematikan Bagi Pasien yang Dirawat di RS

Current Issues
Lonjakan Kasus Covid-19 Menunjukkan Anak Muda Tak Boleh Abai

Current Issues
WHO: Enam Negara Melaporkan Virus Corona Terkait Peternakan Cerpelai