Tech

Program AI ini Dapat Menghasilkan Manga Persis Seperti Karya Osamu Tezuka!

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 29th 2020

 

Program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) lambat laun memang akan mengambil alih berbagai pekerjaan manusia, termasuk beberapa pekerjaan kreatif seperti penulis konten. Tapi bagaimana jadinya jika AI digunakan untuk menggambar manga?

Hal ini yang tengah digarap Kioxia, perusahaan internasional yang memproduksi memory flash dan teknologi SSD. Menggunakan teknologi AI, Kioxia mencoba membuat manga dengan memanfaatkan karya-karya terdahulu Osamu Tezuka, Bapak Manga Jepang sebagai referensinya. Teknologi AI itu dinamai GAN (Generative Adversarial Networks).

GAN dilengkapi dengan dua jaringan neural, yaitu generator dan discriminator. Kioxia mendesain GAN agar dapat menghasilkan manga dengan gaya yang persis seperti Osamu Tezuka, terutama dalam hal desain karakter.

Sebagaimana AI pada umumnya, GAN perlu mempelajari karya-karya Osamu Tezuka sebelum mereplikanya semirip mungkin, lalu menciptakan manga yang baru dengan gaya gambar semirip mungkin dengan goresan Osamu Tezuka.

Discriminator berfungsi untuk mengidentifikasi apakah data yang dihasilkan sebagai output sama dengan data input, sementara generator berfungsi untuk memproses data input secara berulang-ulang hingga kualitasnya maksimal, sehingga discriminator tidak lagi dapat mengidentifikasi perbedaan di antara data input dan data output.

Kioxia sebelumnya menggunakan teknologi AI yang serupa untuk meningkatkan kualitas produksi barang mereka. Tapi proyek kali ini berbeda, karena Kioxia menciptakan GAN semata-mata sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi Osamu Tezuka di dalam dunia manga.

Kendala utama GAN adalah AI ini kerap tidak bisa mengenali gambar wajah yang dibuat Osamu Tezuka sebagai wajah sungguhan, namun Kioxia bisa mengatasi itu dengan meningkatkan kemampuan transfer learning dengan membuat AI itu mengidentifikasi ratusan ribu wajah terlebih dahulu.

Tantangan lainnya bagi GAN adalah, AI ini belum bisa membuat cerita dan karakter dengan sempurna, dan bagian ini masih harus ditutupi oleh peran manusia.

"Sejujurnya, akan sangat sulit melakukannya hanya dengan bergantung kepada AI dengan teknologi yang kita punya sekarang. Itulah sebabnya AI dan manusia harus bekerjasama. Sejauh ini, yang kami harapkan dari teknologi AI ini sekarang hanyalah, para mangaka dapat memperoleh benih-benih inspirasi. Manga pada dasarnya membutuhkan latar cerita dan karakter untuk bisa dimulai, dan AI sudah bisa menyediakan keduanya."

Proyek tersebut sukses dan kini Kioxia merilis manga pertama yang didesain oleh AI berjudul PHAEDO yang diluncurkan dalam TEZUKA 2020, bagian awal dari kampanye #FutureMemories yang diusung Kioxia. PHAEDO sendiri bercerita tentang seorang filsuf tunawisma dan robotnya, Apollo. Mereka mencoba memecahkan berbagai kasus kejahatan di Tokyo tahun 2030.

Osamu Tezuka selama ini dijuluki sebagai Dewa Manga atau Bapak Manga di Jepang. Beberapa karya fenomenal Tezuka-sensei diproduksi di antara tahun 60-an hingga 80-an. Beberapa di antara masih awet dan diapresiasi hingga sekarang, bahkan oleh Hollywood, seperti Astro Boy, Kimba teh Wild Lion, Phoenix dan Princess Knight.

Tezuka-sensei wafat pada tahun 1989 dengan meninggalkan banyak sekali warisan yang menginspirasi para mangaka penerusnya. Manga PHAEDO dapat dibaca di situs TEZUKA 2020. (*)

 

Artikel Terkait
Hobi
Mengenal Osamu Tezuka, Kreator Astro Boy yang Dikenal Sebagai Dewa Manga

Tech
Ilmuwan Kembangkan Alat Pendeteksi Tsunami  Tercepat Berbasis AI

Tech
Microsoft Memperluas Jangkauan Xiaoice Mereka Hingga ke Indonesia