Current Issues

Ahli Sebut Masker Dapat Melindungi dari Keparahan Penyakit Akibat Covid-19

Dwiwa

Posted on July 23rd 2020

Masker telah berubah menjadi aksesoris wajib digunakan saat keluar rumah sejak pandemi Covid-19 menyebar di seluruh dunia. Keberadaan penutup wajah ini diketahui memiliki peran penting dalam menghambat penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini.

Meski para ahli kesehatan terus berkampanye tentang pentingnya menggunakan masker, masih ada saja orang yang ngeyel dan mendebat. Salah satu argumen skeptis yang sering muncul adalah: jika masker tidak bisa sepenuhnya melindungiku, apa gunanya dipakai?

Dilansir dari Los Angeles Times argumen skeptis ini ditanggapi para ilmuwan dengan menunjukkan bukti keuntungan menggunakan masker. Meski tidak bisa melindungi seratus persen, penggunaan masker dapat membantu mengurangi keparahan penyakit yang disebabkan oleh coronavirus bahkan ketika kalian terinfeksi.

Lagi pula, saat ini ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa coronavirus banyak ditularkan secara tidak sadar. Hal ini membuat penggunaan masker secara goblal penting untuk memperlambat penyebaran virus yang sangat menular ini, kata para ahli.

Inilah yang membedakan antara flu musiman dan coronavirus. Flu musiman memiliki puncak infeksi sehari setelah muncul gejala. Tetapi pada coronavirus, bahkan pada orang yang pada akhirnya mengalami sakit, puncak infeksi dapat muncul sebelum gejala muncul.

Faktanya, para ahli mengatakan jika virus dalam jumlah tertentu bisa mulai keluar dari hidung dan mulut bahkan ketika orang merasa mereka baik-baik saja. Inilah alasan utama mengapa cara mengatasi coronavirus berbeda dengan flu musiman. Jadi, memakai masker adalah kuncinya.

Lalu apa gunanya memakai masker jika tidak bisa menyaring semua virus?

Dokter Monica Gandhi, profesor kedokteran di UC San Francisco dan direktur medis dari HIV Clinic di Zuckerberg San Fransisco General Hospital mengatakan jika masker kain masih memberikan manfaat perlindungan utama. Ini dapat menyaring mayoritas partikel virus.

Banyak sedikitnya jumlah virus yang dihirup berpengaruh terhadap keparahan seseorang. Ketika hanya sedikit virus yang dihirup, bisa jadi tidak akan muncul penyakit. Jika pun ada, hanya penyakit ringan. Tetapi jika jumlah yang dihirup banyak, bisa muncul penyakit serius bahkan kematian.

“Ada teori bahwa masker dapat mengurangi (jumlah paparan virus) dan tingkat keparahan penyakit,” ujar Gandhi yang juga merupakan doktor untuk Pusat Penelitian AIDS di UC San Francisco. Gagasan ini pun sudah ada sejak lama.

Menurut Gandhi, sebuah penelitian pada 1938 menunjukkan bahwa dengan memberi tikus virus mematikan dalam dosis tinggi, mereka akan mengalami penyakit parah dan mati. Prinsip yang sama juga berlaku pada manusia.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2015 dilakukan dengan memberikan sukarelawan sehat berbagai dosis virus flu. Orang-orang yang memiliki dosis tinggi mengalami sakit dengan batuk yang lebih sering dan sesak napas.

Sebuah penelitian lain menunjukkan jika gelombang kedua dari pandemi flu 1918-19 yang paling mematikan di Amerika Serikat adalah karena kondisi kamp Angkatan Darat terlalu pada ketika Perang Dunia I berakhir.

“Pada 1918, kamp Angkatan Darat menggambarkan tingginya jumlah kontak antar orang dan tingginya tingkat fatalitas kasus. Terkadang 5 hingga 8 kali lebih tinggi dibanding tingkat fatalitas kasus pada kalangan masyarakat sipil,” jelas penelitian tersebut.

Kemudian penelitian yang dipublikasikan pada Mei lalu menunjukkan jika penyekatan dengan masker bedah secara signifikan menurunkan penularan coronavirus pada hamster. Dan bahkan meskipun hamster yang dilindungi dengan masker bedah terinfeksi, mereka mengalami sakit yang ringan.

Apa yang terjadi ketika sebuah kota secara dramatis menggunakan masker di tempat umum?

Jika Gandhi benar, ini mungkin berarti bahkan ketika infeksi coronavirus meningkat, masker mungkin membatasi dosis virus yang menginfeksi orang-orang dan menyebabkan mereka memiliki gejala penyakit yang tidak terlalu parah.

Ada banyak bukti lain yang menunjukkan masker dapat melindungi, merskipun pengguna masih mungkin terinfeksi. Dia membandingkan dengan wabah yang terjadi di pabrik makanan laut di Oregon, dimana karyawan diberi masker dan 95 persen dari yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

Dia juga mencontohkan pengalaman orang-orang yang berada dalam kapal pesial yang melakukan perjalanan dari Argentina menuju Antartika pada Maret Silam dan coronavirus menginfeksi, seperti yang didokumentasikan dalam penelitian baru-baru ini. Penumpang mendapatkan masker bedah dan kru menggunakan masker N95.

Tetapi alih-alih 40 persen dari yang terinfeksi asimptomatik, yang umumnya terjadi, 81 persen dari mereka yang positif asimptomatik, dan masker mungkin telah membantu mengurangi keparahan penyakit pada orang-orang di dalam kapal, kata Gandhi.

Apa yang terjadi di negara-negara lain yang penduduknya tertib menggunakan masker?

Efek perlindungan terlihat di negara yang telah terbiasa menggunakan masker selama bertahun-tahun seperti Taiwan, Thailand, Korea Selatan, dan Singapura. “Mereka telah melihat adanya kasus ketika membuka (kembali) lockdown, tetapi tidak ada kematian,” kata Gandhi.

Republik Ceko telah lebih dulu membuat gerakan meminta orang-orang memakai masker pada pertengahan Maret. “Ada peningkatan kasus, tetapi tingkat kematian mereka benar-benar datar. Jadi mereka tidak mendapatkan penyakit parah dengan kasus yang terus terjadi,” ujar Gandhi.

Gimana guys, sudah tahukan manfaat dari penggunaan masker? Masker kain memang tidak bisa melindungi kita sepenuhnya dari virus SARS-Cov-2. Tetapi setidaknya, ini bisa melindungi kita dan orang-orang tersayang dari keparahan yang ditimbulkan dari Covid-19.

Artikel Terkait
Current Issues
Direktur CDC: Semua Pakai Masker Selama 12 Minggu, Pandemi Bisa Dikendalikan

Current Issues
Mitos Atau Fakta? Ini Serba Serbi Masker yang Wajib Kalian Ketahui

Current Issues
Face Shield Tanpa Masker & Masker Berkatup Tak Efektif Cegah Penularan Covid-19