Current Issues

Pandemi Covid-19 Turunkan Jumlah Mahasiswa Tiongkok di AS, Inggris dan Australia

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 22nd 2020

 

Universitas-universitas di AS, Inggris dan Australia selama ini selalu dibanjiri mahasiswa baru dari wilayah Asia Timur, terutama Tiongkok. Namun peraturan baru di negara Eropa dan AS yang melarang perjalanan dari dan ke wilayah Asia Timur, plus tensi yang memanas antara Tiongkok dan negara-negara barat, kemungkinan mengubah hal itu.

Calon mahasiswa dari Tiongkok diramalkan akan "banting setir" ke universitas internasional di wilayah ASEAN, seperti di Singapura dan Malaysia.

Para pakar meramalkan jika kondisi tersebut tidak akan membentuk tren baru, alias hanya akan terjadi sementara, meskipun beberapa universitas di Singapura dan Malaysia seperti Curtin Singapore, University of Malaya dan Management Development Institute of Singapore (MDIS) melaporkan lonjakan pendaftaran mahasiswa baru dari Tiongkok. Hal yang sama tidak terjadi di Yale-NUS College dan Kaplan University Singapura.

CEO Crimson Education China, Fangzhou Jiang mengatakan jika larangan bepergian yang diberlakukan AS memaksa orang-orang Tiongkok jadi memikirkan ulang rencana pendidikan mereka yang tadinya hanya difokuskan untuk tembus di Universitas di Amerika.

Jiang mengatakan, rata-rata mahasiswa Tiongkok ingin bekerja dan berkarier di negara tempat mereka menyelesaikan studi, namun tetap menghindari gangguan selama pendidikan mereka yang berkaitan dengan keberkasan  imigrasi seperti visa dan sebagainya. Kondisi pandemi Covid-19 yang masih belum mereda pun turut mempengaruhi rencana masa depan mereka.

Jasin Tan, profesor di departemen kebijakan, kurikulum dan kepemimpinan National Institute of Education di Nanyang Technological University Singapura mengatakan bahwa terdapat hambatan yang besar terhadap pertambahan calon jumlah mahasiswa internasional.

Meski menurutnya lembaga pendidikan di Singapura dan Malaysia mengalami peningkatan jumlah mahasiswa internasional yang berasal dari Tiongkok, tren tersebut tidak akan bertahan lama setelah vaksin SARS-CoV-2 dipergunakan secara luas, terutama karena kemungkinan besar vaksin tersebut akan terlebih dahulu digunakan oleh AS dan Inggris.

Tiongkok adalah negara asal mahasiswa internasional dalam jumlah terbesar di dunia. Pada 2018, data Kementerian Pendidikan Tiongkok mencatat lebih dari 662.000 tamatan SMA Tiongkok berusaha melanjutkan studi mereka di luar negeri. Data dari Institute of International Education (IIE) juga menunjukkan jika mahasiswa Tiongkok mendominasi persentase mahasiswa asing yang berkuliah di AS.

Universitas-universitas di AS kini berusaha menekan penambahan jumlah mahasiswa Tiongkok semenjak Donald Trump memutuskan menahan visa mahasiswa Tiongkok yang kini tengah mengerjakan tugas akhir mereka di AS.

Hal tersebut diperburuk dengan mahasiswa asing di AS yang menyatakan keresahan mereka tentang dampak dari gesekan antara AS dan Tiongkok, serta aksi protes Black Lives Matter yang saat ini merebak di seluruh AS. Mahasiswa asing di AS pada 2018 hingga 2019 lalu berkontribusi sebanyak USD44,7 miliar terhadap perekonomian AS, menurut IIE.

Selain di AS, mahasiswa Tiongkok di Inggris juga ikut terdampak pandemi Covid-19.  Saat ini sudah ada 120.000 mahasiswa asal Tiongkok yang berkuliah di Inggris dan diramalkan akan ada pengurangan jumlah calon mahasiswa asal Tiongkok hingga sebesar 61%.

Isu lain yang memperburuk kondisi ini adalah hubungan bilateral Inggris - Tiongkok yang kini memanas setelah Inggris memblokir perusahaan teknologi telekomunikasi asal Tiongkok, Huawei dari jaringan 5G Inggris.

Mahasiswa Tiongkok yang berkuliah di Inggris adalah salah satu sumber pendapatan yang besar bagi Inggris yang menyumbang pendapatan sebesar £4 miliar setiap tahunnya lewat biaya kuliah, akomodasi dan pengeluaran lainnya selama mereka berkuliah di Inggris.

Inggris sendiri telah mengantisipasi pengurungan pendapatan mereka dari pengurangan mahasiswa asing yang urung berkuliah di Inggris karena isu pandemi Covid-19.

Sementara di Australia, tensi antara Beijing dan Canberra berkembang karena sebelumnya Australia memutuskan melakukan penyelidikan SARS-CoV-2 tanpa campur tangan Tiongkok dan terjadinya insiden rasisme terhadap orang Asia selama berlangsungnya pandemi. Imbasnya, kini Pemerintah Tiongkok mencegah masyarakatnya untuk bepergian ke Australia.

Ada sebanyak 150.000 orang Tiongkok yang berkuliah di universitas-universitas Australia, menurut data 2017, dan angka tersebut mencakup 11% dari total mahasiswa yang ada di Australia.

Sektor pendidikan internasional Australia berkontribusi sebesar USD23,5 miliar terhadap perekonomian Australia pada tahun lalu, menurut departemen urusan asing dan perdagangan Australia.

Meski demikian, Profesor Deborah Terry dari Curtin University mengatakan jika untuk sementara waktu, justru terdapat peningkatan jumlah pelamar mahasiswa di kampus-kampus Curtin Australia. Namun absennya kelas fisik diduga akan menjadi hambatan utama dari prospek mahasiswa asing yang ingin berkuliah di Australia.

Sebuah penelitian dari IDP Education menemukan jika 69% dari total 6.900 mahasiswa asing yang disurvei menginginkan pendidikan mereka berjalan sebagaimana rencana mereka, termasuk dengan aspek international exposure yang hanya bisa terjadi di kelas fisik.

Responden ini lebih memilih menunda perkuliahan mereka daripada melakukan kelas online. Sebanyak 47% dari responden bahkan meragukan kualitas pembelajaran secara online.

"Salah satu motivasi terbesar mahasiswa asing dalam berkuliah di luar negeri adalah untuk mendalami kebudayaan yang berbeda, dan ini kerap dipandang sebagai kesempatan sekali seumur hidup bagi mereka," ujar Terry.

"Pembelajaran secara remote menghilangkan aspek sosial tersebut dari pengalaman berkuliah mereka, sehingga kami memahami mengapa banyak mahasiswa yang lebih tertarik menunda studinya hingga mereka dapat berkuliah di kelas fisik."

Pendapat Terry tersebut senada dengan yang dikatakan oleh Tan dari National Institute of Education Singapura. "Ada banyak biaya yang dikeluarkan (untuk perkuliahan) dan jumlah tersebut sama sekal tidak masuk akal jika mahasiswa tidak belajar secara face-to-face". (*)

Related Articles
Current Issues
Mata-Mata Inggris: Teori Covid-19 Bocor dari Laboratorium di Wuhan Masuk Akal

Current Issues
Para Pemimpin Dunia Kutuk Kerusuhan di Gedung US Capitol

Current Issues
Covid-19 Global Tembus 10 Juta Kasus, Hampir 500 Ribu Penderita Meninggal Dunia