Hobi

7 Judul Manga Ini Diboikot di Australia Selatan. Ada Apa?

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 20th 2020

Kinokuniya, salah satu distributor manga terbesar di Australia baru-baru ini terpaksa menarik sejumlah judul manga yang mereka terbitkan di Benua Kangguru itu karena protes dari sejumlah politisi Australia Selatan.

Connie Bonaros, anggota Partai SA Best melayangkan surat protesnya kepada Kinokuniya terkait dengan beberapa konten manga terbitan mereka yang dituduhnya mengandung unsur "pornografi anak".

Hal ini dilaporkan dalam koran Advertiser Ahad (19/7) lalu. Surat protes tersebut disambut oleh Wakil Presiden Kinokuniya Kejiro Mori yang mengatakan jika mereka akan menarik tujuh judul manga yang dituntut oleh Bonaros.

"Staf kami telah memastikan sesuai dengan panduan pemesanan khsuus kami jika judul-judul (manga) tersebut kini sudah tidak tersedia lagi di toko-toko buku," demikian tulis Mori kepada Bonaros.

Mori mengonfirmasi jika buku-buku tersebut akan ditarik dari peredaran di toko buku Kinokuniya di Sidney, dan stafnya kini tengah berusaha mengatasi isu tersebut.

Judul-judul manga yang ditarik dari peredaran tersebut adalah sebagai berikut : Eromanga Sensei, Sword Art Online, Goblin Slayer, No Game No Life, Inside Mari, Parallel Paradise, Dragonar Academy.

"Kami saat ini tengah berkomunikasi dengan Dewan Klasifikasi Australia terkait isu ini, agar tercipta pemahaman yang lebih baik tentang konten seperti apa yang lolos klasifikasi," timpal Mori.

Bonaros adalah mantan kepala staf senator Australia Selatan, Stirling Griff, yang pada awal tahun ini sempat meminta Dewan Klasifikasi untuk meninjau ulang teknis klasifikasi semua manga dan anime yang beredar di Australia. Dia bahkan secara spesifik meminta Dewan Klasifikasi untuk memboikot Sword Art Online : Extra Edition karena "secara langsung menunjukkan kekerasan anak-anak".

Manga dan anime memang produk kreatif yang proses distribusinya dipenuhi berbagai tantangan, salah satunya adalah perbedaan klasifikasi dan norma dari negara asalnya, Jepang, dengan negara lain yang mengimpor dan mendistribusikannya.

Di Indonesia sendiri, meski terdapat lembaga sensor, beberapa judul manga yang menampakkan konten yang menjurus pada pornografi seperti Air Gear dapat tetap beredar dengan beberapa penyesuaian isi, namun tidak memboikot IP tersebut secara keseluruhan. Kondisi yang lebih sulit terjadi pada anime yang biasanya menampilkan adegan-adegan yang tidak layak tonton bagi anak di bawah umur.

Di Jepang, stasiun TV lokal menyesuaikan jam tayang anime sesuai dengan genre dan segmentasi penontonnya. Perspektif Jepang dan negara lain dalam memandang anime memang kerap kali berbeda.

Di negara seperti Indonesia, anime masih dipandang sama dengan kartu" pada umumnya, yang biasanya memang diproduksi untuk ditonton oleh anak-anak. Padahal genre suatu anime sangat menentukan untuk siapa anime tersebut diperuntukan.

Bias dalam bidang penyensoran tersebut dapat diatasi jika Jepang dan negara-negara importir manga dan animenya dapat menyelaraskan standar censorship mereka, sehingga manga dan anime dapat beredar dan dikonsumsi pada koridor yang sesuai. (*)

Related Articles
Hobi
Selama Pandemi Pembajakan Manga Meningkat, Kerugiannya Tembus Rp 5,57 Triliun

Hobi
Manga "The Way of House Husband" Akan Jadi Serial Live Action Oktober Nanti!

Hobi
Benarkah Manga Haikyuu!! Bakal Segera Tamat?