Current Issues

Lonjakan Covid-19 Seminggu Terakhir Jadi Bukti Jika Kehidupan Normal Masih Jauh

Dwiwa

Posted on July 19th 2020

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia telah melampui Tiongkok pada Sabtu (18/7). Penambahan kasus baru sebanyak 1.752 orang membuat jumlah total melonjak menjadi 84.882. Jumlah ini telah melebihi kasus yang dilaporkan di Tiongkok, tempat penyakit ini pertama muncul, yang berada di angka 83.644.

Tidak hanya melampaui Tiongkok, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia juga sudah menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Sementara di dunia, Indonesia telah berada di posisi 25 dari 215 negara terdampak menurut situs Worldometers.

Tidak hanya Indonesia, beberapa negara juga terus mengalami peningkatan dan mencatatkan rekor tersendiri. Di hari yang sama, Afrika Selatan juga melonjak naik dan menjadi satu dari lima negara yang paling parah terkena pandemi virus corona.

Dilansir dari AP, kasus di Afrika Selatan yang mencapai 350.879 menyumbang sekitar setengah dari seluruh infeksi yang ada di Benua Afrika. Kesulitan yang mereka hadapi pun menjadi sinyal peringatan untuk negara-negara yang memiliki sumber daya perawatan kesehatan yang sedikit.

“Fakta sederhananya adalah banyak orang Afrika Selatan hanya duduk diam karena mereka tidak dapat mematuhi protokol WHO dalam meningkatkan kebersihan dan social distancing,” jelas Desmond Tutu, peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan istrinya, Leah, dalam sebuah pernyataan.

Sementara Menteri Kesehatan Afrika Selatan Zweli Mkhize mengatakan jika hal ini sangat mendesak dan penting bagi semua orang Afrika Selatan. Pertarungan melawan Covid-19 adalah milik kita. Dia pun merasa prihatin karena tampaknya orang-orang sudah mulai “lelah” dan membiarkan penjagaan mereka menurun seiring minimnya social distancing dan masker yang ditinggalkan.

Sementara di belahan bumi lain, Amerika Serikat menghadapi pandemi yang makin parah dengan jumlah kasus baru dan kematian yang terus meningkat. Sedangkan di India infeksi sudah menembus angka satu juta. Namun menurut para ahli, jumlah ini jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya karena beberapa negara kekurangan pengujian dan juga mengalami masalah pengumpulan data.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam kuliah Tahunan Nelson Mandela mengatakan jika Covid-19 ibarat rontgen yang mengungkapkan keretakan tulang dalam kerangka masyarakat yang telah dibangun. Dia pun menambahkan jika negara berkembang gagal memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk membantu dunia melewati masa sulit ini.

HIngga Minggu (19/7) jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan telah melebihi angka 14 juta di seluruh dunia dan kematian menembus 600 ribu berdasarkan data dari John Hopkins. Negara-negara bagian di AS mengalami lonjakan kasus yang signifikan. Mayoritas karena sebagian besar warganya menolak memakai masker.

Di India, 34.884 kasus baru dilaporkan saat pemerintah berusaha melakukan lockdown di beberapa bagian negara.

Di Iran, presiden Hassan Rouhani membuat pengumuman mengejutkan jika 25 juta warganya dapat terinfeksi. Ini mengtip penelitian Kementerian Kesehatan yang belum dipublikasikan. Demikian dilaporkan kantor berita IRNA. Iran sendiri menjadi negara terburuk di Timur Tengah dalam menghadapi Covid-19 dengan lebih dari 270 ribu kasus.

Di Bangladesh, kasus yang dikonfirmasi telah melebihi 200 ribu tetapi para ahli percaya jika jumlahnya jauh lebih besar karena negara tersebut tidak memiliki laboratorium yang memadai untuk pengujian. Orang-orang di daerah pedesaan mulai meninggalkan masker dan memadati pusat perbelanjaan menjelang Idul Adha.

“Kita tidak akan kembali ke dunia dimana orang bisa bekerja dengan normal, bepergian dengan bus dan kereta, pergi liburan tanpa batasan, bertemu teman, jabat tangan, berpelukan dan lainnya dalam waktu dekat, sayangnya itu jauh sekali tanpa vaksin,” ujar epidemiologis dan anggota Scientific Advisory Group for Emergencies (SAGE) pemerintah Inggris, John Edmunds. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Covid-19 Tembus SeJuta dalam 5 Hari, WHO Peringatkan Krisis Bakal Memburuk

Current Issues
WHO: Penularan Covid-19 Lewat Airborne Jadi Perhatian, Droplet Masih Paling Umum

Current Issues
WHO Berjanji Lakukan Evaluasi Jujur Terkait Bagaimana Dunia Menangani Covid-19