Current Issues

Today in History : Kebakaran Studio 1 Kyoto Animation

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 18th 2020

Satu tahun setelah tragedi pembakarannya, kini Studio Kyoto Animation berusaha keras kembali menapaki jalan yang sudah mereka titi selama ini sembari berusaha berdamai dengan kehilangan rekan dan anggota tim yang mereka sayangi.

Sebelum kejadian pembakaran pada tahun lalu, Kyoto Animation alias KyoAni dikenal para penggemar anime di dunia karena kualitas animasi gubahannya yang realis dan memukau. KyoAni adalah perusahaan keluarga yang dirintis oleh Hideaki Hatta pada tahun 1981 lalu.

Laki-laki 69 tahun itu sendiri tidak menyangka tragedi tersebut akan terjadi hanya 2 tahun sebelum perayaan ulangtahun KyoAni yang ke-40. Kebakaran KyoAni yang menewaskan banyak orang membuat perhatian dunia sempat terarah pada studio animasi satu ini selama beberapa lama, meski dengan cara yang tidak menyenangkan.

Jepang menyebut tragedi pembakaran tersebut sebagai pembunuhan massal terburuk dalam sejarah Jepand setelah Perang Dunia II berakhir. KyoAni kehilangan 36 tenaga kreatif mereka : produser, sutradara, color designer dan animator yang semuanya tidak tergantikan, baik sebagai profesional maupun rekan sejawat.

Sebanyak 70 orang berada di dalam gedung KyoAni saat pelaku pembakaran menyiramkan bahan bakar ke pintu masuk Studio 1 pada 18 Juli 2020. Sebanyak 33 orang berhasil menyelamatkan diri, meski sebagian di antaranya mengalami luka bakar dan patah tulang.

Sebagian besar dari mereka yang selamat tetap kembali bekerja di perusahaan tersebut. Sisa-sisa fondasi bangunan yang gosong masih dibiarkan hingga akhirnya dihancurkan pada April lalu.

Sesuai permintaan dari keluarga yang ditinggalkan para korban meninggal, KyoAni berusaha menyembunyikan nama-nama korban meninggal dari publik. Meski demikian, sebanyak 25 nama korban meninggal tetap disiarkan di media lokal tanpa izin dari KyoAni maupun ahli waris korban. Sehingga sempat memicu ketegangan antara pihak korban dengan kepolisian dan awak media yang dinilai tidak sensitif.

Hingga sekarang, keputusan untuk membangun kembali gedung studio 1 masih menggantung. Sementara para keluarga korban meminya dibangun monumen peringatan tragedi tersebut di bekas lahan studio 1.

Banyak masyarakat setempat yang tidak menginginkan lebih banyak orang berkunjung untuk menunjukkan belasungkawa di sekitar kompleks perkantoran itu, terutama di masa pandemi seperti sekarang.

KyoAni sendiri sempat memperoleh dana sumbangan sebanyak USD30 juta dari berbagai pihak karena kejadian tersebut. Tapi mereka memutuskan untuk memberikan semuanya kepada para korbans elamat dan keluarga korban daripada membangun kembali gedung studio 1.

KyoAni memiliki reputasi sebagai studio animasi yang sangat melindungi privasi para pekerjanya, sehingga bagi para penggemar anime, tidak mudah untuk menemukan siapa dan orang seperti apa yang berada di balik animasi-animasi produksi KyoAni.

Nobuyuki Tsugata, seorang peneliti animasi, ahli sejarah, dan penulis menjelaskan, media massa selama ini kerap tidak memberikan informasi yang relevan mengenai industri anime.

Sehingga muncul ketidakpercayaan antara kebanyakan studio anime di Jepang terhadap wartawan. Setelah insiden tersebut, KyoAni bahkan menjadi makin tidak percaya lagi kepada media massa karena ketidakpahaman media massa dalam memberitakan mereka.

"Kyoto Animation memiliki keyakinan kuat bahwa 'menuntaskan pekerjaan adalah segalanya' dan tidak merasa jika mereka perlu membicarakan hal-hal yang tidak penting selain itu," terang Tsugata.

Tsugata menjelaskan, setelah peristiwa pembakaran tersebut, banyak pihak yang diwawancarai memutuskan untuk tidak memberi komentar di hadapan publik, sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga korban meninggal.

Di sisi lain, memang tidak banyak yang bisa dikomentari mereka, mengingat proses kerja KyoAni yang serba rahasia, sehingga tercipta keterbatasan informasi bagi siapapun yang tidak bekerja di KyoAni.

Tragedi pembakaran tersebut berawal dari rangkaian pesan pembunuhan yang dikirim oleh seseorang yang mengklaim jika studio KyoAni telah memplagiat buku yang ia ingin terbitkan. Hal ini memunculkan kesadaran baru para pegiat industri anime untuk lebih memikirkan risiko dalam membuat karya kolaborasi dengan pihak lain.

Sebelum penyerangan, KyoAni terkenal karena kualitas pewarnaan, desain karakter dan originalitas dalam anime-anime yang mereka produksi. KyoAni juga menjadi pelopor bagi genre baru di dunia anime yang bernama "daily life", di mana segala elemen kehidupan sehari-hari ditampilkan dan diceritakan dengan apa adanya.

Salah satu anime dengan genre ini yang sukses secara komersial adalah "The Melancholy of Haruhi Suzumiya" pada 2009 lalu. KyoAni melawan stereotip industri anime yang selama ini terkesan memberikan jam kerja tidak masuk akal dan bayaran yang rendah kepada para pekerjanya.

KyoAni membayar para pekerjanya dengan gaji, bukan upah frame-by-frame, menyediakan program pelatihan khusus bagi para artist muda yang berbakat, serta mengizinkan budaya kerja yang lebih fleksibel. (*)

Related Articles
Hobi
Manga Hunter x Hunter Pecahkan Rekor Hiatus Terlamanya

Interest
One Piece Berikan Petunjuk Penerus Gol D. Roger

Hobi
Manga Kimetsu no Yaiba Tamat Pekan Depan? Bagaimana Nasib Tanjiro dan Habashira?