Current Issues

Bagaimana Dampak Covid-19 pada Anak-anak dan Remaja?

Dwiwa

Posted on July 18th 2020

Tahun ajaran baru telah di mulai sejak awal minggu ini. Sekolah-sekolah, terutama yang ada di zona hijau mulai digunakan kembali untuk belajar. Meski jika dilihat lebih banyak sekolah di Indonesia yang memilih untuk tetap melanjutkan pembelajaran secara daring demi keamanan dan keselamatan siswa dari pandemi Covid-19.

Beberapa negara lain yang berhasil menekan penularan virus corona juga pernah membuka kembali sekolah untuk para siswa. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena kembali terjadi peningkatan kasus di wilayah tersebut. Lalu, bagaimana dampak Covid-19 pada anak-anak sebenarnya?

Dilansir dari AP, beberapa penelitian menunjukkan jika anak-anak memiliki kemungkinan lebih kecil terinfeksi dibanding orang dewasa dan hanya mengalami gejala ringan. Sebuah penelitian awal di Wuhan, Tiongkok, tempat pertama kali virus dilaporkan musim dingin lalu, memperlihatkan jika kurang dari dua persen kasus terjadi pada anak-anak.

Penelitian lain melaporkan lima persen dan delapan persen kasus di Amerika Serikat terjadi pada anak-anak. Di Indonesia, catatan kementerian kesehatan pada 22  Mei menuliskan 715 orang di bawah 18 tahun mengidap Covid-19.

“Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Itu adalah tantangan terbesar,” jelas Sonja Rasmussen, seorang profesor pediatri di University of Florida dan mantan ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

CDC mengatakan 175.374 kasus telah dikonfirmasi pada anak berusia di bawah 17 tahun pada Jumat, atau sekitar enam persen dari total kasus yang ada. Namun para ahli mengatakan jika jumlah anak-anak yang telah terinfeksi tetapi tidak terkonfirmasi hampir pasti jauh lebih tinggi dari itu.

Hal ini dikarenakan mereka yang memiliki gejala ringan atau tidak bergejala lebih kecil kemungkinan dites. Setidaknya ada 228 anak dan remaja hingga usia 17 telah meninggal akibat Covid-19 di AS pada Kamis, atau sekitar 0,2 persen dari total keseluruhan yang telah meninggal akibat penyakit tersebut.

Penelitian awal di rumah sakit Wuhan meneliti 171 anak yang dirawat disana di mana sebagian besar memiliki gejala yang relatif ringan. Satu anak meninggal dunia dan hanya tiga yang memerlukan perawatan intensif dan perawatan dengan ventilator. Hal yang mengkhawatirkan mungkin adalah 12 orang memiliki bukti rontgen pneumonia tetapi tidak ada gejala lain.

Sedangan penelitian CDC pada 2.500 anak yang diterbitkan di bulan yang sama, April, menemukan hal serupa. Sekitar satu dari lima anak terinfeksi dirawat di rumah sakit dibanding satu dari tiga orang dewasa. Penelitian ini tidak memiliki data lengkap untuk semua kasus, tetapi menunjukkan jika banyak anak terinfeksi tidak memiliki gejala.

"Kami berusaha mencari tahu siapa saja anak-anak itu. Kami perlu mengetahui dampaknya pada anak-anak dan komunitas lainnya, orang tua, kakek nekek mereka. Jika mereka banyak menularkan satu sama lain dan kemudian membawanya ke pada keluarga di rumah,” jelas Ramussen.

Banyak peneliti sepakat bahwa penting untuk mengetahui anak terinfeksi atau tidak agar sekolah bisa kembali dibuka dengan aman. Spesialis penyakit infeksi Columbia University, Jeffrey Shaman menyebut jika minimnya data tentang anak-anak yang terinfeksi, termasuk tanpa gejala, mempermudah penyebaran penyakit dan membuat masalah semakin rumit

CDC menyebut jika Covid-19 dapat lebih menular dan telah dikaitkan dengan banyak peristiwa penularan luar biasa dibanding flu. Ini berarti, penyakit yang disebabkan virus SARS-Cov-2 ini dapat menular dengan cepat dan menginfeksi banyak orang.

Selain itu, adanya pembekuan darah dan kerusakan organ telah ditemukan pada anak-anak dengan Covid-19, termasuk mereka yang memiki penyakit peradangan terkait. Penghitungan paling baru menunjukkan 342 anak dan remaja di AS telah mengalami kondisi yang disebut sebagai sindrom peradangan multisistem pada anak.

Kondisi ini jarang tetapi dapat terjadi pada anak yang telah mengidap Covid-19 atau yang baru terinfeksi. Gejalanya termasuk demam dan masalah pada setidaknya dua organ, di mana jantung menjadi yang paling sering. Masalah pencernaan juga umum dan beberapa kasus keliru dianggap sebagai penyakit Kawasaki dan sindrom toxic shock.

Mungkin hal terbesar yang belum diketahui saat ini adalah apakah kerusakan pada paru dan juga organ lain akibat Covid-19 akan permanen atau tidak. Virus ini masih terlalu baru untuk diketahui secara pasti. (*)

Related Articles
Current Issues
Vaksin Covid-19 Buatan Tiongkok Baru Siap untuk Publik Tahun Depan

Current Issues
Peneliti di AS Buat Laboratorium Robot yang Mampu Menguji 1000 Sampel per Hari

Current Issues
Tak Hanya Indonesia, Amerika Serikat Pun Kesulitan dengan Sekolah Daring