Current Issues

Penelitian: Ternyata Orang Menolak Bermasker Kemampuan Kognitifnya Rendah!

Dwiwa

Posted on July 17th 2020

 

Kasus Covid-19 di seluruh dunia masih terus meningkat dan sudah menembus angka 13 juta jiwa dalam kurun waktu 7 bulan semenjak penyakit ini dilaporkan muncul di Wuhan. Di Indonesia sendiri, kasusnya juga bertambah lebih dari seribu setiap harinya.

Namun sayangnya, meski kasus Covid-19 ini belum ada kepastian kapan berakhir, beberapa orang tampaknya masih menganggap remeh penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini. Tidak perlu jauh-jauh mengintip orang-orang di Amerika Serikat yang saat ini menjadi penyumbang kasus terbesar di dunia.

Kalian cukup melihat sekeliling dan akan menemukan masih banyak orang yang abai dan melanggar protokol kesehatan yang ada. Tidak ada jaga jarak, bawa masker pun hanya digantung di leher atau bahkan disimpan di dalam kantong, bukan dipakai untuk menutupi dagu hingga hidung.

Kesal nggak sih kalian kalau melihat hal seperti itu? Jika ditegur pun, apalagi oleh orang biasa alias bukan petugas berseragam, banyak yang ngeyel dan mengungkap berbagai alasan. Tidak sedikit pula yang malah balik menasihati.  Kalau sudah begini, kita hanya bisa pasrah dan mundur alon-alon.

Tapi sebelum menuangkan rasa kesal dan ingin memaki, kalian harus tahu dulu nih alasan orang-orang tersebut abai terhadap protokol kesehatan dalam pandemi Covid-19 ini. Ternyata, sebuah studi mengungkap jika ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan kognitif yang mereka miliki.

Dilansir dari The Sun, penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of The National Academy of Sciences ini juga mengungkap jika kemampuan seseorang mengikuti aturan jaga jarak mungkin juga tergantung dari seberapa banyak informasi dapat disimpan dalam memori kerja mereka.

Memori kerja adalah proses psikologis untuk menyimpan informasi di pikiran dalam periode waktu yang singkat, biasanya hanya beberapa detik. Menurut ilmuwan, kapasitasnya merupakan prediksi dari banyak kemampuan mental seperti kecerdasan, pemahaman, dan pembelajaran.

Penelitian ini juga mengamati kepatuhan aturan social distancing pada tahap awal pandemi virus corona. Hasilnya, orang-orang yang memiliki kapasitas memori kerja lebih besar memiliki kesadaran yang meningkat terkait manfaat dari melakukan social distancing. Selain itu, mereka juga menunjukkan lebih banyak kepatuhan terhadap pedoman saat awal pandemi.

Weiwei Zhang, associate professor psychology yang juga menulis makalah mengatakan jika semakin tinggi kapasitas memori kerja, mereka tampaknya akan lebih banyak mengikuti aturan social distancing.

“Menariknya, hubungan ini berlaku bahkan setelah secara statistik kami mengontrol faktor psikologi dan sosioekonomi yang berhubungan seperti suasanya hati dan kecamasan, kepribadian, pendidikan, kecerdasan, dan pendapatan,” ujarnya merujuk pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada 850 orang di awal pandemi negara tersebut di bulan Maret silam.

Zhang juga mengungkapkan jika temuan mereka mengungkapkan akar kognitif dari kepatuhan social distancing pada awal pandemi. Kepatuhan terhadap social distancing mungkin juga didasarkan pada proses pengambilan keputusan melalui evaluasi terhadap biaya versus manfaat dari perilaku ini di memori kerja dibanding katanlah sebagai kebiasaan.

“Proses pengambilan keputusan ini bisa lebih mudah bagi orang-orang dengan kapasitas memori kerja lebih besar yang berpotensi mendorong mereka lebih banyak menerapkan social distancing,” ujarnya.

Karena itu, penelitian ini menyarankan agar pembuat kebijakan harus mempertimbangkan kemampuan kognitif orang secara umum ketika akan mempromosikan protokol kesehatan seperti mengenakan masker.

“Pesan dalam materi tersebut harus singkat, ringkas, dan jelas. Buat proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah untuk orang-orang,” tambahnya. Selain itu, mereka juga menyebut jika menerapkan social distancing sebagai norma baru membutuhkan proses pengambilan keputusan yang bergantung pada memori kerja.

Meski menggunakan masker menjadi salah satu cara yang dapat menurunkan risiko penularan Covid-19, tetapi para ahli kesehatan juga khawatir jika ini akan memberikan orang rasa aman yang salah. Dikhawatirkan mereka terlalu bergantung pada masker dan melupakan protokol kesehatan lain seperti rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Scientific Advisory Group for Emergencies (Sage) mengatakan penggunaan masker yang tidak benar, seperti penempatan yang salah (menggantung di leher atau hanya menutupi bagian mulut), sering memegang wajah dan menggunakan masker yang kotor justru akan meningkatkan penyebaran infeksi.

Tetapi harus diingat pula jika beberapa orang juga tidak diharuskan menggunakan masker dalam kondisi spesifik seperti pada orang yang mengalami disabilitas tertentu. Jadi nih, walau kesal saat melihat orang mengabaikan protokol kesehatan, seperti tidak menggunakan masker, bukan berarti kita harus mem-bully atau memarahinya ya guys.

Ajak bicara baik-baik dan nasehati dengan cara yang bijak. Siapa tahu alasan mereka tidak mengenakan masker karena mereka adalah orang disabilitas.  Tapi jika bukan, itu berarti karena kemampuan koginitif mereka rendah. Jadi, nasihatilah dengan kata-kata sederhana dan mudah dipahami ya guys. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?

Current Issues
Rahasia Selandia Baru Atasi Covid-19, Seluruh Warga Mengikuti Protokol

Current Issues
Ahli Sebut Masker Dapat Melindungi dari Keparahan Penyakit Akibat Covid-19