Tech

Jepang akan Pekerjakan Tenaga Robot di Pusat Perbelanjaan FamilyMart

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 17th 2020

Telexistence, perusahaan pembuat robot asal Jepang mulai Agustus mendatang akan mulai mengujicobakan fungsi robot pelayan di sebuah pusat perbelanjaan di Jepang. Robot ini nantinya akan bekerja mengisi sandwich, minuman dan makanan siap saji yang dijual di pusat perbelanjaan FamilyMart ke dalam rak etalase yang kosong.

Operator gudang FamilyMart mengatakan jika robot-robot tersebut rencananya akan dipekerjakan di 20 outlet yang ada di Tokyo pada 2022 mendatang. Mula-mula, robot-robot ini akan dioperasikan secara remote oleh manusia, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence) robot tersebut mempelajari gerakan manusia secara utuh dan dapat mempraktikannya sendiri tanpa dikendalikan. FamilyMart bukan satu-satunya toko ritel yang akan menggunakan pekerja robot. Saingannya, Lawson akan mulai menggunakan pekerja robot pertama mereka pada September mendatang.

Ide penggunaan robot sebagai pekerja sebenarnya sudah lama diusulkan di Jepang. Tepatnya 40 tahun lalu, seorang profesor Universitas Tokyo, Susumu Tachi menggagas ide tersebut bersama start-up yang dia bangun bersama rekannya, Telexistence.

Telexistence menerima pendanaan dari SoftBank Group dan perusahaan telepon seluler KDDI, sementara investor luar negeri berasal dari Airbus SE, perusahaan produsen pesawat penerbangan sipil asal Eropa. 

Robot yang akan diperkerjakan oleh Telexistence kelak adalah Model T. Desain robotnya sengaja dibuat tidak terlalu menyerupai manusia, mengingat manusia kerap merasa tidak nyaman dengan robot yang berbentuk terlalu mirip dengan manusia.

Meski keberadaan robot sudah lama dimanfaatkan dalam produksi barang di pabrik, pengoperasian robot untuk pekerjaan-pekerjaan ringan di ruang publik yang terbuka memilki berbagai tantangan tak terduga. Keberadaan robot di tengah masyarakat masih merupakan hal yang jarang, bahkan di Jepang sekalipun. Namun jika penggunaan robot dapat lebih dimaksimalkan, ada banyak manfaat yang diperoleh, terutama di masa pandemi Covid-19 dimana pekerja manusia dilarang berkumpul di tempat kerja dalam jumlah besar.

Tomioka mengatakan jika semenjak pandemi terjadi, Telexistence menerima banyak kontak dari perusahaan pengelola bahan bakar, hotel dan restoran.

"Agak sulit memprediksi dampak apa yang akan ditimbulkan kemunculan (pekerja) robot di restoran. Ini dapat berarti lebih sedikit orang (pekerja yang dibutuhkan) tetapi juga dapat menciptakan pekerjaan baru," tukas Niki Harada, salah seorang anggota Serikat Pekerja Restoran Jepang.

Manusia masih dapat berperan sebagai operator robot menggunakan VR goggle dan pengendali sensor-gerak untuk melatih kecerdasan buatan robot. Dibandingkan dengan programming robot secara kompleks yang dapat mengeluarkan biaya 10 kali lebih besar dan waktu pengerjaan lebih panjang, penggunaan manusia sebagai operator robot jauh lebih ekonomis.

Di masa mendatang, robot-robot buatan Telexistence juga akan digunakan di rumah sakit untuk membantu proses operasi dari jarak jauh. Demikian prediksi dari Profesor Takeo Kanade, ilmuwan AI dan robotik dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat yang kini bekerja sebagai penasihat Telexistence.

Selain itu menurut Kanade, akan dibutuhkan setidaknya 20 tahun lagi bagi robot untuk dapat mengerjakan pekerjaan rumahan manusia secara total.

"Agar robot dapat benar-benar digunakan di rumah, mereka harus dilengkapi kemampuan komunikasi." (*)

Related Articles
Tech
Microsoft Memperluas Jangkauan Xiaoice Mereka Hingga ke Indonesia

Tech
Program AI ini Dapat Menghasilkan Manga Persis Seperti Karya Osamu Tezuka!

Tech
Karena Pandemi, FedEx Kini Manfaatkan Robot untuk Sortir Paket Antaran