Tech

Payfazz, Startup Fintech Indonesia, Catatkan Investasi Sebesar US$53 Juta

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 8th 2020

Perusahaan-perusahaan startup di dunia memandang Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara, tetapi juga sebagai potensi pasar yang besar dan perekonomian yang paling cepat bertumbuh. Meski demikian, sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki permasalahan finansial yang khas, yaitu minimnya akses sebagian besar penduduk suburban-nya terhadap lembaga keuangan.

Payfazz adalah salah satu perusahan startup fintech yang berusaha memberikan solusi bagi kendala tersebut. Senin (6/7) lalu, Payfazz mengumumkan bahwa nilai investasi yang mereka himpun dalam babak investasi Seri B telah mencapai US$53 juta (sekitar 765 miliar rupiah), disokong oleh B Capital dan Insignia Venture Partners.

Investor Payfazz di babak investasi sebelumnya, termasuk Tiger Global, Y Combinator dan ACE & Company kini kembali ikut serta di babak investasi berikutnya, bersamaan dengan investor baru seperti BRI Venture. Pembiayaan yang diperoleh Payfazz pada babak investasi Seri A sebelumnya bernilai sebesar US$21 juta (303 miliar rupiah) pada September 2018 lalu, dengan Tiger Global sebagai investor terbesar.

Payfazz sendiri didirikan oleh Hendra Kwik, Jefriyanto Winata dan Ricky Winata dan merupakan startup alumni program akselerator Y Combinator.

Payfazz kini bukan satu-satunya startup di Indonesia yang bercokol di pasar fintech. Ada pula Modalku, KoinWorks dan Kredivo yang semuanya berfokus pada pembiayan UMKM. Payfazz melakukan diferensiasi dalam jasa keuangan mobile mereka untuk membantu masyarakat Indonesia dalam mengorganisir urusan keuangan mereka, termasuk pelunasan tagihan dan utang tanpa memerlukan perantara lembaga perbankan. Payfazz mengklaim jika saat ini mereka memiliki 10 juta pengguna aplikasi aktif dan tengah mengembangkan produk-produk keuangan baru untuk menarik lebih banyak pengguna.

"Karena biaya operasional yang besar, banyak bank yang hanya membuka cabang di wilayah kota dan kabupaten dengan aktivitas ekonomi yang padat," ujar Kwik. "Ini menyebabkan banyak penduduk wilayah perdesaan yang kesulitan mengakses bank."

Jaringan Payfazz kini memiliki 250 ribu agen yang sebagian besar berlokasi di warung-warung kecil. Pengguna Payfazz dapat menyetorkan uang kas mereka ke agen Payfazz yang berperan sebagai pengganti bank. Pemilik akun Payfazz kemudian dapat menggunakan saldo Payfazz mereka untuk membayar tagihan telepon, listrik dan lainnya. Payfazz juga belakangan meluncurkan fitur pinjaman dan pembayaran offline untuk pedagang eceran.

Kwik mengatakan jika jaringan agen Payfazz dapat memiliki pasarnya karena banyak masyarakat Indonesia yang memiliki smartphone, tetapi tidak memiliki akun perbankan digital. Penduduk desa yang memiliki ponsel pintar dan berada jauh dari ATM atau bank dapat memanfaatkan Payfazz dengan mudah dan efisien untuk transaksi pembayaran digital mereka.

Dari segi pendapatan, Payfazz hanya mengambil keuntungan sebesar 0,5-1 persen dari setiap transaksi yang dilakukan, sementara para agen Payfazz diperbolehkan menentukan sendiri margin keuntungan mereka yang biasanya berkisar antara 5-7 persen.

Startup lain di Indonesia yang kini tengah merintis sistem fintech mereka sendiri, seperti Grab dan Gojek cepat atau lambat akan menjadi saingan Payfazz di masa mendatang. Namun Payfazz, menurut Kwik, melihat peluang yang lebih besar untuk menjadikan mereka mitra usaha.

"Payfazz selama ini fokus mengembangkan service-nya di wilayah perdesaan, dan itu dapat mereka manfaatkan untuk menjaring potensi keuntungan hingga ratusan juta rupiah dari wilayah perdesaan," tukas Kwik. (*)

Related Articles
Tech
BukuWarung, Aplikasi Startup Pembukuan untuk Warung Rumahan di Indonesia

Tech
Hadapi Masa Maturasi, Gojek Rekrut Severan Rault

Tech
Wow! Facebook dan PayPal Investasikan Dana ke Gojek