Current Issues

Dukung Antirasisime, Hilangkan Istilah Bernada Rasis Dalam Bahasa Pemrograman

Kezia Kevina Harmoko

Posted on July 5th 2020

(Wired)

 

Kampanye antirasisme yang disuarakan di Amerika Serikat (AS) terus menerus akhirnya membawa perubahan. Beberapa brand besar menarik atau memperbaiki produk mereka yang dianggap mendukung aksi rasisme. Meski begitu, upaya melawan rasisme terus digaungkan. 

Salah satunya dilakukan oleh Regynald Augustin, seorang progammer berkulit hitam di Twitter. Ia merasa penggunaan istilah bernuansa rasisme sangat mengganggu dan perlu diganti. Seperti istilah master (tuan) dan slave (budak) yang sering digunakan dalam pemrograman komputer.

Sebuah email dengan istilah “automatic slave rekick” menimbulkan gejolak bagi Regynald. Memang kata-kata tersebut tidak menuju ke pada golongan tertentu melainkan istilah dalam pemrograman. Namun baginya hal tersebut perlu diubah.

Bersama dengan kawannya yang bernama Kevin Oliver, mereka menginisiasi sebuah gerakan untuk mengganti istilah seperti master, slave, whitelist, blacklist, dan kata-kata lainnya yang bisa menuju ke kelompok tertentu untuk diganti dengan yang lebih netral.

Misalnya master dan slave diganti dengan leader dan follower atau primary dan replica. Lalu kata blacklist yang berarti daftar berisi larangan tertentu diganti dengan kata denylist. Begitu juga dengan whitelist diganti dengan allowlist.

 

(Twitter @negroprogammer)

 

Istilah ini ia harapkan bisa diaplikasikan ke kode-kode pemrograman hingga bahasa dalam pertemuan, percakapan sehari-hari, dan dokumen yang ditulis.

Gerakan yang dimulai di dalam perusahaan media sosial Twitter ini didukung oleh pihak perusahaan. “Bahasa yang netral bertujuan untuk memperlakukan semua orang dengan hormat, martabat, dan tidak berpihak pada kelompok tertentu,” seperti yang ditulis dalam email oleh Michael Montano, kepala engineering Twitter kepada semua karyawan media sosial tersebut.

“Penting untuk membangun kebersamaan dengan semua orang tanpa mengecualikan satu orang pun dan sangat esensial untuk membuat lingkungan yang menimbulkan kenyamanan bagi setiap orang,” lanjutnya.

Langkah ini memang masih terhitung kecil, namun inisiatornya berharap gerakan ini bisa mengarahkan perusahaan ke perubahan yang lebih baik lagi. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Tuai Kontroversi, Starbucks Kini Izinkan Staff Pakai Atribut Black Lives Matter

Current Issues
Dituding Dukung Rasisme, Pencerah Kulit ini Akan Berganti Nama

Current Issues
Dinilai Dukung Rasisme, Johnson & Johnson Hentikkan Produk Pencerah Kulit