Tech

BukuWarung, Aplikasi Startup Pembukuan untuk Warung Rumahan di Indonesia

Ahmad Redho Nugraha

Posted on July 4th 2020

Jauh sebelum minimarket ritel seperti Alfamart dan Indomaret merajai sudut-sudut jalan di Indonesia, warung-warung rumahan kecil sudah jauh lebih dulu ada. Hingga kini, setidaknya sudah ada sekitar 60 juta unit UMKM, termasuk warung rumahan di seluruh Indonesia. Berbeda dengan minimarket, warung-warung dan toko-toko kecil ini biasanya masih mencatat segala jenis transaksinya dengan pena pada lembaran-lembaran kertas nota. Di mata para inovator perusahaan startup, kondisi tersebut menjadi ide bagi lahirnya perusahaan startup bernama BukuWarung.

Chinmay Chauhan dan Abhinay Peddisetty adalah co-founder BukuWarung yang bertujuan untuk digitalisasi proses pencatatan keuangan usaha-usaha kecil yang ada di Indonesia. BukuWarung saat ini diikutsertakan dalam program akselerator startup Y Combinator dan didanai oleh East Ventures, AC Ventures, Golden Gate Ventures, Tanglin Venture, juga perusahaan startup lain seperti Grab, Gojek, Flipkart dan PayPal. Skema awal dari BukuWarung adalah menyediakan alat pembukuan bagi UMKM, sebelum nantinya dikembangkan lagi menjadi penawar jasa-jasa lain, termasuk pencarian modal usaha.

Chauhan dan Peddisetty mulai menjalin kerjasama sejak mereka masih bekerja di Singapura. Mereka awalnya mengembangkan produk monetisasi bagi penjual produk di marketplace Carousell. Chauhan juga bekerja untuk Grab. Ide mereka untuk membentuk BukuWarung terinspirasi dari keluarga mereka masing-masing yang menjalankan usaha warung kecil-kecilan di kampung halaman mereka.

"Kami bisa mendalami bidang ini karena pengalaman kami sebelumnya dalam memotesiasi merchant di Grab dan Carousell," ujar Chauhan. "Kami juga sadar bahwa Indonesia memiliki potensi besar, ada sekitar 60 juta pengusaha UMKM yang dapat terbantu jika mereka mendigitasi bisnis mereka secara online. Dalam level makro, kami rasa ini akan menjadi peluang besar."

Catatan keuangan dalam bentuk kertas bukan hanya membuat proses analisa keuangan menjadi lebih lama, tetapi juga menyulitkan para pnegusaha mikro untuk memperoleh pinjaman kredit. Chauhan dan Peddisetty mengatakan jika tujuan mereka adalah mengembangkan usaha mereka ke ranah jasa keuangan, seperti KhataBook dan OKCredit di India.

BukuWarung sudah diluncurkan tahun lalu, dan kini memiliki 600.000 mitra pengusaha UMKM di 750 kota dan kabupaten yang ada di Indonesia, dengan rata-rata jumlah pengguna tetap bulanan mencapai 200.000 orang. Target awal perusahaan ini adalah menghimpun hingga 60 juta mitra pengusaha UMKM di Indonesia.

Chauhan dan Peddisetty berkeliling Indonesia dan mewawancarai hampir 400 orang pengusaha UMKM sebelum mereka membangun BukuWarung. Kini, meski Indonesia tengah berada di masa penormalan baru, BukuWarung terus bertumbuh karena komoditas yang diperdagangkan mitra dagang mereka biasanya berupa kebutuhan pokok yang permintaannya selalu ada. 

Tantangan utama dari BukuWarung dan semua mitra dagangnya adalah maraknya kebiasaan berhutang di berbagai toko-toko kecil. Konsumen warung kecil biasanya membuka usaha dalam sebuah pemukiman yang ramai dan bertetangga, dan sebagian konsumen mereka biasanya memiliki kesulitan ekonomi yang mengharuskan mereka berhutang. UMKM yang menjadi mitra BukuWarung biasanya akan memberi utang mulai dar Rp.500 hingga Rp.1 juta kepada konsumennya. BukuWarung ternyata memiliki solusi untuk persoalan tersebut.

"Mereka (mitra dagang) tidak perlu mengejar-ngejar orang yang berhutang. Aplikasi kami akan secara otomatis memberikan peringatan kepada pelanggan warung yang bersangkutan, dan "peringatan ringan" tersebut sangat membantu para mitra usaha dalam bersikap lebih profesional, termasuk soal mengingatkan pelanggan mereka."

BukuWarung juga menyesuaikan aplikasi mereka agar dapat beroperasi pada smartphone dengan spesifikasi rendah, mengingat kebanyakan mitra dagang mereka hanya memiliki ponsel pintar biasa. BukuWarung pun di-setting agar tidak memakan banyak memori dan data, serta dapat diakses secara offline oleh mitra dagang BukuWarung.

Secara bertahap, Chauhan dan Peddisetty berencana membangun kerjasama dengan perusahaan fintech (financial technology) sehingga di masa mendatang, mitra dagang mereka dapat mengakses sistem pembayaran online berupa dompet digital. (*)

Related Articles
Tech
Hadapi Masa Maturasi, Gojek Rekrut Severan Rault

Tech
Payfazz, Startup Fintech Indonesia, Catatkan Investasi Sebesar US$53 Juta

Current Issues
Facebook Pay Bakal Masuk Indonesia, Ini Kelebihannya