Current Issues

Straw Wars: Simbol Perlawanan Terhadap Plastik

Hening Swastika

Posted on July 12th 2018

Dua hari lalu, Starbucks resmi mengumumkan pihaknya mendukung penuh aksi boikot sedotan plastik demi kebaikan lingkungan. Sebagai gantinya, gerai kopi asal Seattle ini akan menggunakan wadah khusus yang memudahkan konsumennya untuk menikmati minuman. Sepaham dengan Starbucks, McDonald’s dan Dunkin’ Donuts pun mulai melakukan aksi sejenis.

Maraknya aksi boikot sedotan plastik di gerai-gerai tersebut, berawal dari tekanan para aktivis lingkungan yang terus berusaha menyadarkan dampak buruk plastik terhadap lingkungan. Terutama sejak ditemukannya Great Pacific Garbage Patch—‘pulau’ sampah seluas negara bagian Texas—yang mengapung di Samudera Pasifik sejak tahun 1980-an, hingga yang paling baru, sampah plastik di area terpencil Samudera Arktik.

Sebagaimana dilansir dari The Guardian, sedikitnya ada sembilan juta ton sampah plastik yang mengarungi lautan setiap harinya. Peningkatan jumlah mereka dalam 20 tahun terakhir ini, ternyata didominasi oleh jenis tas plastik (kresek), botol minum sekali pakai, dan styrofoam. Benda sekecil sedotan pun tak luput dari 11 besar sampah plastik yang selalu ditemukan dalam kegiatan bersih-bersih pantai menurut data Ocean Conservancy 2018.

Perlu kita ketahui bahwa plastik tidak bisa terurai dan hanya akan menjadi komponen toksik di alam. Sebab polypropylene dan polystyrene yang terkandung di dalamnya akan menjadi pecahan kecil yang disebut microplastic. Ia bisa menurunkan kesuburan tanah atau meracuni air. Sementara terhadap makhuk hidup, microplastic berpotensi terkonsumsi, terutama oleh makhluk laut, berpindah ke makhluk lain lewat rantai makanan. Kontaminasi microplastic ini bisa memicu gangguan reproduksi, ketidaksempurnaan janin, dan gangguan sistem saraf. Lalu sifatnya yang karsinogenik juga bisa memicu kanker.

Fakta ini membuat para aktivis lingkungan kembali mengeluarkan gerakan baru yang dimulai dari hal sangat kecil. Bukan lagi buang sampah pada tempatnya, melainkan ‘straw wars’ alias perang sedotan plastik.

Lewat bentuknya yang kecil dan terkesan sepele, sedotan plastik memang telah membuat pemakaiannya tidak terasa. Bahkan dalam sehari, Amerika Serikat sendiri telah menggunakannya sebanyak 500 juta buah. Jumlah yang bisa dipakai mengelilingi bumi sebanyak 2,5 kali! Sementara butuh 200 tahun untuk mengurai satu batang sedotan.

The Guardian menyebutkan lautan kita menghasilkan 2.000 ton sampah sedotan plastik dari total 9.000.000 ton sampah plastik. Dengan fakta bahwa sedotan plastik bukanlah benda yang bisa didaur ulang, keberadaannya yang tetap bertahan di tanah atau bahkan terbawa ke laut, kerap membahayakan kehidupan laut. Paus, burung-burung laut, hingga kura-kura hanyalah sebagian korban yang memakan, terjerat, dan tersumbat pernapasannya gara-gara sedotan.

Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata. Terlebih, ketika ia sadar bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah di laut terbesar kedua setelah Tiongkok. Lewat tangan perempuan yang juga aktivis lingkungan ini, maka lahirlah gerakan Sea Soldier untuk menyebarkan virus peduli lingkungan.

“Intinya, (pergerakan Sea Soldier) nggak pernah maksa atau nyuruh orang buat nggak nyampah. Tapi kita bikin tren lewat diri sendiri. Setelah kita terbiasa, nanti kan jadi banyak orang sekitar yang merhatiin. Syukur kalau nanti jadi ngikutin,” kisah Megawati Sriayu alias Egha, salah satu anggota Sea Soldier.

Bersama Sea Soldier, Egha dan kawan-kawan tak hanya melakukan aksi bersih-bersih pantai dan mengedukasi masyarakat setempat. Tapi juga diajak untuk membiasakan diri membawa peralatan makan dan minum sendiri.

Egha pun tak mengelak jika ia masih membutuhkan sedotan. Sadar akan dampaknya terhadap lingkungan, membuat perempuan 28 tahun ini menyiasatinya dengan menggunakan reusable straw. Baik yang berbahan bambu ataupun stainless steel.

“Pokoknya sekarang kalau pergi harus bawa ini semua (peralatan makan dan minum pribadi). Nggak masalah kalau awalnya dilihat aneh, tapi lama-lama kan orang nanyain. Eh, sekarang malah banyak teman-teman dekatku yang ngikutin. Bahkan kalau aku lupa bawa tumbler, mereka nanyain: kok nggak bawa?”

Supaya tidak terasa berat, Egha menegaskan harus ada niat besar dan pemahaman yang baik akan gaya hidup ini.

Mengurangi sedotan plastik memang tidak akan serta merta mengurangi sampah di lautan. Namun upaya ini adalah simbol pergerakan yang baik, bentuk kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan. Lantas, apa aksimu?

 

 

Artikel Terkait
Current Issues
Ilmuwan Temukan Spesies Baru 'Hiu Berjalan' di Indonesia

Current Issues
‘Eco-anxiety’, Ketakutan Kerusakan Lingkungan yang Bebani Kaum Muda

Current Issues
Perubahan Iklim Sebabkan Dua Pulau Di Sumsel Tenggelam