Current Issues

Pembuatan Vaksin Covid-19 Adalah Tantangan Terbesar Dalam Sejarah Medis

Dwiwa

Posted on June 27th 2020

Banyak hal yang telah dilakukan oleh berbagai pihak berwenang untuk menghentikan penyebaran Covid-19 di seluruh dunia. Mulai dari melakukan pembatasan perjalanan global, lockdown, hingga mengerahkan seluruh sumber daya untuk menemukan obat dari penyakit ini.

Dilansir dari Reuters, lusinan pembuat vaksin dan pendukung yang diwawancarai mengatakan jika perjalanan untuk menemukan semua itu penuh dengan tantangan berat. Halangan apapun yang ada dalam rantai pasokan, bisa membuat seluruh proses yang rumit ini tertunda.

Salah satunya adalah semua proses harus dilakukan jauh lebih cepat dari yang sudah pernah dilakukan. Menurut Kolonel Nelson Michael, direktur U.S. Army Center for Infectious Disease Research yang bekerja pada projek pemerintah “Warp Speed” untuk mengirimkan vaksin pada bulan Januari mengatakan jika biasanya perusahaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk hal ini, namun sekarang mereka harus menyelesaikan dalam hitungan minggu.

Semua mata saat ini tertuju pada para ilmuwan yang tengah berlomba untuk menemukan vaksin yang efektif. Namun dibalik layar, para ahli menghadapi kenyataan jika kita mungkin tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membuatnya, mengemas, dan mendistribusikan miliaran dosis sekaligus.

“Ini adalah tantangan logistik terbesar yang pernah dihadapi. Kita mungkin sedang membuat vaksin untuk 60 persen dari populasi,” jelas Toby Peters, ahli mesin dan teknologi di Britain Birmingham University.

Inovasi pun dilakukan oleh berbagai perusahaan maupun pemerintah untuk dapat mengatasi masalah ini. Misalnya Moderna yang tengah bereksperimen dengan tempat penyimpanan vaksin mereka yang perlu dijaga pada minus 80 derajat celcius.

Sementara pembatasan perjalanan global juga memberi masalah tersendiri. Johnson & Johnson misalnya, harus berjuang keras untuk bisa mengirim ahli vaksinnya ke luar negeri untuk mengawasi lokasi peluncuran vaksin mereka.

Proses pengembangan vaksin massal yang dilakukan untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini juga belum pernah terjadi dalam sejarah. “Belum ada sejarah yang mencatat pengembangan vaksin begitu banyak dalam satu waktu, jadi kapasitas itu tidak ada,” ujar Paul Stoffles, kepala ilmuwan J&J, yang melihat mengisi kapasitas adalah faktor penghambat utama.

Sementara Kepala Eksekutif Aliansi Vaksin GAVI, Seth Berkley, mengatakan jika pada kenyataannya dunia tidak mungkin langsung mendapatkan vaksin dalam jumlah banyak dan cukup untuk semua orang.

“Ini lebih seperti sebuah pendekatan untuk memulai. Kami ingin memiliki satu atau dua miliar dosis vaksin pada tahun pertama yang tersebar di seluruh populasi dunia,” kata Seth dalam sebuah wawancara seperti dikutip dari Reuters.

Tantangan lain adalah  terbatasnya botol untuk menyimpan vaksin. Perusahaan pun telah berencana untuk menggunakan botol besar yang dapat menampung lima hingga 20 dosis. Tetapi ini menimbulkan masalah baru kemungkinan terbuang percuma ketika tidak semua dosis digunakan.

“Kerugiannya adalah setelah seorang praktisi kesehatan membuka botol, mereka harus segera memvaksin 20 orang dalam waktu 24 jam,” ujar Prashant Yadav, pakar rantai pasokan layanan kesehatan untuk Global Development di Washington.

Sementara Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS dan Departemen Pertahanan telah menginvestasikan sekitar USD 138 juta agar ApiJect memperbarui fasilitasnya sehingga mampi membuat 100 juta jarum suntik plastik yang sudah diisi akhir tahun ini dan 600 juta pada 2021.

Perusahaan berencana menggunakan teknologi yang disebut Blow-Fill-Seal, dimana jarum suntik dikeluarkan dari plastik, diisi vaksin, dan disegel dalam hitungan detik. Namun menurut CEO perusahaan, Jay Walker, tentu saja ini akan membutuhkan persetujuan dari FDA.

Sedangkan SiO2 Material Science tengah bekerja untuk meningkatkan kapasitas botol plastik dengan lapisan kaca yang lebih stabil di suhu sangat dingin. “Kalian bisa menggunakannya hingga suhu minus 196 celcius, yang tidak dibutuhkan vaksin. Kalian bisa melemparnya ke dinding dan tidak pecah,” ujar Chief Business Officer Lawrence Ganti.(*)

Related Articles
Current Issues
Kasus Covid-19 Indonesia Tembus 100.000, Protokol Kesehatan Harus Lebih Dipatuhi

Current Issues
Kemungkinan Vaksin Covid-19 Baru Tersedia Awal 2021

Current Issues
Cara Cerdas Menghindari Corona Versi Ahli Penyakit Menular Amerika Serikat