Lifestyle

Kenapa Sehari Terasa Pelan Banget Tapi Seminggu Berlalu Cepat di Masa Karantina?

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 24th 2020

(Freepik)

 

Siapa nih yang merasa jenuh banget selama di rumah aja? Karena merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia, aktivitas kita yang biasanya aktif di luar rumah jadi terhambat. Nah, selama di rumah aja, merasa nggak sih kalau waktu berjalan dengan durasi yang berbeda dari biasanya? Sehari tetap 24 jam sih, tetapi terasa berjalan sangat lambat banget dibandingkan ketika kita beraktivitas di luar rumah. Eh walaupun satu hari terasa pelan, seminggu kok sudah lewat aja ya?

Kondisi ini dinamai Quarantime oleh seorang psikolog bernama Caspar Addyman. Perasaan “Sehari terasa cepat eh tahu-tahu sudah seminggu berlalu” ini punya penjelasan ilmiah yang masuk akal lho.

Ketika kita di rumah aja, kegiatan kita jadi itu-itu aja. Aktivitas yang nggak banyak variasi ini bikin waktu terasa lambat karena sebenarnya kita berharap akan ada aktivitas di luar rumah yang bisa dilakukan. Sayangnya kegiatan di luar rumah ini nggak kunjung datang juga. Sedangkan semua organ tubuh kita berfungsi normal seakan bicara, “Eh kita bisa lho kamu ajak beraktivitas ke luar, kapan keluar nih? Bosan tau!” Nah, waktu bukan melambat tapi kegiatan kita yang membosankan. Nggak berkesan gitu deh.

Tempat kita berada tetap sama, di rumah melulu. Paling variasinya hanya ke toilet atau ke dapur buat ambil camilan. Selain membosankan, kegiatan yang monoton ini nggak menghasilkan banyak memori untuk otak.

Bagi otak kita, memori adalah waktu. Otak kita nggak bisa mengenal waktu dengan satuan yang biasa kita tahu, tetapi menggunakan memori sebagai satuan lama waktu yang berlalu. Jadi, semakin sedikit kejadian atau memori yang terjadi, semakin terasa cepat pula waktu berlalu dan sebaliknya. Semacam gulungan film gitu deh!

Nah, ketika kita melihat kembali ke hari-hari yang membosankan itu, sedikit banget memori yang bisa kita ingat. Gak ada kejadian yang berkesan. Karena memori yang sedikit ini deh satu minggu terasa cepat berlalu. Tetapi karena saat menjalani hari kegiatannya monoton dan membosankan, satu hari terasa panjang.

Nah, ini bisa punya dampak buruk lho. Sebuah riset yang dilakukan Arron Heller, seorang psikolog dari Universitas Miami, menunjukkan bahwa lockdown menurunkan tingkat kebahagiaan kita lho. Tetapi sebelum lockdown, data GPS dari sampel mereka menunjukkan bahwa orang yang punya beragam aktivitas di lokasi mereka atau mengunjungi beragam lokasi dalam sehari dan menghabiskan waktu dengan porsi yang sama di tiap tempat, punya perasaan emosi positif yang lebih tinggi. Alias lebih bahagia deh.

Maka dari itu, kita perlu menambah ragam aktivitas kita walaupun di rumah aja. Jangan seharian ngegame atau marathon series terus. Selipkan aktivitas seperti memasak, olahraga, membaca buku, atau melakukan hobi lain. Atau, coba lakukan virtual holiday. Bisa dengan video 360 virtual reality video yang banyak tersedia di YouTube atau tur virtual holiday yang kini mulai bermunculan! (*)

Related Articles
Current Issues
Kesendirian dan Kesepian Itu Beda. Yuk Kenali yang Namanya Lockdown Loneliness

Lifestyle
Merasa Capek dan Jenuh, Padahal Aktivitas Berkurang? Itu Boreout, Bukan Burnout

Lifestyle
Keseringan Baca Berita Buruk Bikin Cemas? Begini Cara Mengatasinya