Lifestyle

7 Langkah agar Tetap Waras di Dunia yang Serba Online

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 22nd 2020

Healthline

 

Saat ini, internet sudah jadi hal yang sangat biasa dan susah banget dilepaskan dari hidup kita. Media sosial juga menjadi cara baru untuk tetap berhubungan satu sama lain. Semua ini terhitung drastis untuk ukuran perubahan yang dirasakan manusia. Makanya nggak jarang kita sebagai manusia merasakan dampak negatif dari segala digitalisasi ini.

Mungkin dulu, kalau ada orang yang mengatakan manusia akan ‘tergantung’ pada benda bernama smartphone, kita nggak bakal percaya. Tapi kenyataannya, segala kebutuhan dan keinginan manusia bisa kita akses melalui gawai satu ini. Bahkan sepertinya susah untuk hidup tanpanya. Sudah seperti belahan jiwa kan?

Sudah banyak dampak negatif yang mungkin nggak kita sadari dari dunia yang serba online. Postingan Instagramku sudah bagus belum ya? Banyak yang ngelike atau nggak? Apa aku beli likes aja ya biar kelihatan keren? Duh, followersku kok sedikit nggak seperti dia? Dan banyak pertanyaan lain.

Perlahan-lahan dunia online yang awalnya diciptakan untuk memudahkan berubah jadi tekanan hidup tambahan untuk kita. Nah, di sini pentingnya membuat batasan antara dunia online dan dunia nyata yang kita pijak saat ini. Kira-kira gimana ya biar bisa membatasi dua dunia ini? Nih langkah-langkahnya!

 

1. Selalu ingat kalau dunia online itu bukan dunia nyata

Terdengar klise tapi ini yang paling sering kita langgar. Sosok yang kita lihat melalui media sosial mayoritas hanya menunjukkan sebagian dari hidup mereka. Yang bagus-bagus dong yang ditunjukkan. Apa lagi kalau untuk menarik perhatian.

Bisa aja yang ditampilkan bukan kondisi nyata melainkan rekayasa. Jadi, jangan bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang yang terpampang di media sosial. Kita nggak pernah tahu tantangan apa yang mereka rasakan karena yang terlihat hanya dunia indahnya aja.

 

2. Mulai dan akhiri hidup di dunia nyata, bukan dunia online

Ketika bangun tidur, usahakan hidup di dunia nyata dulu. Habiskan minimal 30 menit (kalau bisa lebih lama, bagus) berkegiatan tanpa gadget dan internet. Misalnya jalan-jalan, menulis jurnal, masak, meditasi, atau apapun yang sederhana.

Lakukan hal yang sama ketika malam menjelang akan tidur. Misalnya membaca buku, bermain dengan hewan peliharaan, atau skin care-an. Kegiatan ini bisa bikin tidur kita lebih berkualitas lho! Kalau sudah bisa melakukan kegiatan 30 menit ini, coba untuk membuat ruang tidur kita bebas dari teknologi apapun. Pasti makin terasa deh efeknya.

 

3. Selektif memilih orang untuk berinteraksi di dunia maya

Semakin lama kita berselancar di dunia maya, pasti banyak deh orang-orang yang mengeluarkan komentar negatif, menghina, menyebar fitnah, dan banyak lagi. Pengguna gadget seperti ini nih suka lupa kalau ada manusia yang bisa saja sakit hati membaca kata-kata buruk dari mereka. Biasanya orang seperti ini merasa diri mereka buruk sehingga merasa perlu untuk menjelekkan orang lain juga.

Menanggapi mereka sama aja dengan memberi energi dukungan kepada mereka lho. Mendingan abaikan aja. kalau kita menerima komentar negatif, ingat kalau si komentator itu bicara tentang mereka sendiri. Tetapi jangan bikin konten yang kontroversial terus berharap nggak dihujat juga.

 

4. Jadwalkan detox dunia online

Kita yang mengontrol hidup kita, bukan gadget. Atur waktu rutin untuk sama sekali tidak menyentuh gadget. Bisa satu hari, satu minggu, bahkan satu bulan. Nggak harus liburan kok, di hari apapun bisa kita lakukan.

Ketika kita sudah merasa oke dengan detox di waktu tertentu, perpanjang waktu detox lebih lama lagi. Ini bertujuan agar kita ingat kalau kita punya kuasa penuh terhadap apa yang kita lakukan. Kita memberikan tubuh dan mental kita istirahat agar tetap bisa bekerja dengan baik.

 

5. Batasi waktu online

Di masa pandemi seperti sekarang di mana berita buruk seakan nggak ada habisnya, penting untuk kita membatasi scrolling media sosial. Beragam media sosial bikin kita susah untuk berhenti mengklik dan bisa berujung pada kecanduan. Akhirnya frustrasi sendiri karena kita terlalu lama scrolling dan nggak produktif. Belum lagi khawatir berlebih kalau yang kita lihat kebanyakan berita buruk!

Ini juga harus dilakukan ketika kita merasa bosan atau lagi down dan memilih untuk buka media sosial. Lebih baik dengerin musik atau podcast aja. Lakukan kegiatan yang punya manfaat atau menginspirasi.

Libatkan orang di dunia nyata untuk membantu karena media sosial punya kecenderungan untuk memperburuk keadaan emosi kita, seperti merasa kehilangan harapan, stres, hingga khawatir berlebih. Hirup udara segar, nonton film favorit, atau bahkan menangis agar lega bisa jadi pilihan lebih baik daripada scrolling media sosial.

 

6. Jangan merasa terkekang oleh media sosial

Kalau punya Instagram, blog, atau media sosial apapun, ingat kalau semua media tersebut adalah milik kita. Terserah kita mau post apapun dan kapanpun. Jangan sampai orang-orang yang mengikuti media sosial kita punya hak untuk mengatur diri kita. Kita bebas untuk follow atau unfollow akun tertentu, post foto yang nggak sesuai feeds, atau bicara tentang apapun.

Tetapi ingat. Kalau kita nggak bisa bicara positif, lebih baik jangan bicara. Mungkin terdengar kasar, tetapi sering kali perang di media sosial sulit sekali dihindarkan. Berbicara negatif atau menanggapinya hanya akan memperburuk suasana. Selalu bicara hal yang membangun bahkan ketika membela korban bullying di media sosial.

 

7. Jumlah likes atau followers bukan cerminan hidupmu.

Terdengar umum tapi sering dilupakan. Jangan pernah berpikir orang yang punya jumlah likes atau followers banyak adalah orang yang lebih baik dari kita dan sebaliknya. Kita semua sama-sama manusia walaupun dengan feeds Instagram yang berbeda. Terkadang sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang tidak terlihat alias berasal dari dalam diri kita! (*)

Artikel Terkait
Entertainment
Lorde Stop Pakai Media Sosial dan Google Karena Ingin Lepas dari Layar Gawai

Lifestyle
4 Cara Menghentikan Sabotase Diri Digital biar Lebih Fokus dan Produktif

Lifestyle
3 Cara biar Gak Gampang Terpancing Emosi sama Perilaku Seseorang