Current Issues

Antibodi Covid-19 Mungkin Hilang 2-3 Minggu Setelah Orang Sembuh

Dwiwa

Posted on June 20th 2020

Antibodi terhadap virus corona telah digadang-gadang sebagai salah satu perlindungan dari pandemi Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 8,3 juta orang di dunia. Namun sayangnya, sebuah penelitian terbaru mengungkap jika antibodi ini tidak bisa bertahan lama.

Dilansir dari Business Insider sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Nature Medicine menyebutkan jika beberapa bulan setelah sembuh dari Covid-19, seseorang mungking dapat dengan cepat kehilangan antibodi, protein darah yang melawan virus dan mencegah terjadinya infeksi kedua.

Penelitian ini melibatkan 64 pasien yang telah sembuh dari Covid-19 untuk dilakukan tes antibodi. Dari jumlah tersebut, 37 diantaranya merupakan pasien yang sempat mengalami sakit dan 37 sisanya yang positif tetapi tidak bergejala.

Hasilnya, sebagian peserta memiliki antibodi yang hanya bertahan beberapa bulan. Sekitar delapan minggu setelah sembuh, antibodi turun ke tingkat yang tidak terdeteksi pada 40 persen pada orang tanpa gejala (OTG) dan 13 persen pada orang bergejala.

OTG secara keseluruhan memiliki “respon imun lemah”. Penelitian mereka ini adalah salah satu yang pertama terkait respon imun pada OTG. Penelitian sebelumnya menemukan jika sebagian besar orang yang menunjukkan gejala Covid-19 menghasilkan antibodi.

Masih belum jelas apakah antibodi pada level terendah, bahkan tidak terdeteksi, cukup untuk memberikan kekebalan. Beberapa penelitian menyebut jika jumlah antibodi yang sedikit masih cukup untuk melindungi dari infeksi berulang.

Sementara penelitian yang dilakukan di Wanzhou ini memiliki ukuran sampel yang kecil dan tes antibodi berbeda pada orang ke orang. Ada dua tipe antibodi yang diteliti dalam studi ini, yakni immunoglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM).

IgM biasanya terbentuk lebih dahulu sebagai respon dari infeksi virus sementara IgG berkembang dalam jangka waktu lama. Hal ini berarti IgG menjadi indikasi lebih baik bagi sistem kekebalan jangka panjang.

Hasilnya, hanya ada 7 orang dari kelompok OTG dan 6 orang dari kelompok sakit yang tidak memiliki IgG tiga hingga empat minggu setelah terpapar virus. Bahkan ada lebih banyak peserta yang tidak memiliki level IgM yang terdeteksi.

Setelah 8 minggu, level IgG menurun, kecuali pada tiga orang yang memiliki level terdeteksi pada awal pengecekan. Bahkan beberapa peserta tidak lagi memiliki IgG sama sekali. Menurut penelitian tersebut, orang-orang yang sebelumnya mengalami sakit memiliki level antibodi yang tinggi saat awal pengecekan.

Meski begitu, semua peserta masih memiliki jenis antibodi lain yang menetralkan lonjakan protein virus corona meskipun jumlahnya juga menurun. Meski demikian, antibodi bukan satu-satunya cara tubuh untuk melawan virus. Masih ada sel T untuk membunuh virus dan sel B yang secara cepat memproduksi antibodi baru.

Sementara itu dokter Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease pernah mengatakan sebelumnya jika respon imun terhadap virus corona tidak konsisten pada pasien yang berbeda.

“Aku memiliki contoh orang-orang yang benar-benar terinfeksi yang memiliki antibodi negatif. Ini bukan respon antibodi yang seragam,” jelas Fauci. Dia menambahkan jika orang-orang tersebut kemungkinan memiliki antibodi namun jumlahnya tidak cukup untuk dideteksi. Sementara pasien sembug menunjukkan jumlah antibodi yang tinggi.

Virus corona jenis lain, yang menyebabkan flu biasa, menghasilkan kekebalan setidaknya satu tahun dan pada beberapa kasus hanya beberapa bulan. “Ini mungkin sangat berbeda untuk virus corona jenis ini. Kita tidak tahu,” tambahnya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Mengapa Tes Antibodi Disebut Tidak Terlalu Berguna Dalam Pandemi Covid-19?

Current Issues
Ilmuwan Temukan Imunitas Terhadap Covid-19 Bisa Tahan Lama Pasca Infeksi

Current Issues
Penelitian: Kekebalan Antibodi Pasca Covid-19 Menurun dari Waktu ke Waktu