Current Issues

Mengenal Deksametason, Harapan Baru Untuk Pasien Covid-19 yang Kritis

Dwiwa

Posted on June 18th 2020

 

Semakin meluasnya kasus Covid-19 membuat para ilmuwan dan ahli kesehatan di seluruh dunia berlomba untuk menemukan obat dan vaksin untuk mengatasi pandemi. Meski belum ada obat pasti yang dipatenkan, tetapi beberapa yang sudah digunakan mulai memberikan harapan positif.

Paling baru adalah deksametason, obat steroid murah yang tersedia luas di pasaran. Dilansir dari Euronews, menurut hasil penelitian para ilmuwan di Oxford University, obat ini bisa menjadi salah satu solusi untuk melawan Covid-19.

Menariknya, temuan ini didapat oleh tim peneliti yang sama di Oxford yang membuktikan jika hidroksiklorokuin tidak berfungsi. Itu adalah salah satu obat yang sempat digembar-gemborkan oleh Presiden Amerika Donald Trump sebagai perawatan efektif untuk Covid-19.

Temuan ini mungkin masih berada pada masa awal, tetapi para ahli optimis mengatakan jika ini bisa menjadi game-changer dalam menyelamatkan nyawa pasien Covid-19 yang paling parah. Dalam hasil penelitian tersebut, deksametason mampu mengurangi kematian akibat virus hingga sepertiga dari pasien yang sakit parah.

“Ini adalah mimpi. Sangat mudah untuk membuatnya sehingga tidak ada alasan ini tidak dapat digunakan di seluruh dunia,” jelas Nick Cammack, seorang ahli virus di Wellcome Trust, badan amal Inggris yang mendukung penelitian tersebut.

Lalu apa sebenarnya deksametason ini?

Pada dasarnya, obat ini masuk ke dalam golongan steroid yang biasa digunakan untuk mengurangi peradangan, penyebab utama kematian pada pasien Covid-19 ketika paru-paru membengkak untuk melawan infeksi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melarang penggunaan steroid pada awal perawatan virus karena dapat menghambat proses perlawanan terhadap virus. Tetapi ketika digunakan pada tahap akhir sepertinya ini efektif.

Dokter Anthony Fauci, pakar kesehatan ternama di Amerika serikat mengatakan jika pada tahap awal penting untuk membuat sistem imun bekerja sepenuhnya. Tetapi pada tahap akhir, peradangan yang terjadi untuk melawan infeksi lebih menyakitkan dibanding membantu, karena itu temuan ini masuk akal dengan gagasan tersebut.

Apa saja keuntungan obat ini?

Pertama jelas obat ini telah terbukti menyelamatkan nyawa berdasarkan penelitian empat minggu yang dilakukan peneliti di Oxford University. Mereka menemukan jika ini dapat menurunkan kematian hingga 35 persen pasien yang memerlukan perawatan dengan mesin pernapasan dan 20 persen pada mereka yang membutuhkan oksigen tambahan.

Peneliti memperkirakan jika obat ini dapat mencegah satu dari delapan kematian pada pasien yang menggunakan mesin pernapasan dan satu dari 25 pasien yang membutuhkan oksigen tambahan saja. “Ini adalah efek besar. Ini bukan penyembuh, tetapi jelas memiliki manfaat ke depan,” ujar pemimpin penelitian dokter Martin Landray.

Keuntungan lain adalah deksametason ini murah. Seperti yang dikatakan Cammack dari Wellcome Trust, obat ini tersedia luas di pasaran dan mudah untuk memproduksi dan mendistribusikannya ke seluruh dunia.

Lalu apa kekurangannya?

Seperti yang disebutkan, obat ini hanya efektif pada pasien yang sudah dalam tahap akhir Covid-19. Namun selain itu, ada efek samping yang ditimbulkan. Sepeti jenis steroid lain, obat ini jua dapat meningkatkan berat badan, tekanan darah, retensi air, pesubahan suasana hati, masalah tidur dan peningkatan gula darah pada pengidap diabetes.

Selain itu, beberapa ahli menyarankan jika tingkat kematian selama penelitian juga tinggi, yakni 41 persen pada orang dengan mesin pernapasan dan 25 persen yang hanya membutuhkan tambahan oksigen.

“Tingkat kematian sepertinya lebih tinggi dibanding di Amerika,” jelas dokter Peter Bach, seorang pakar kesehatan di Memorial Sloan-Kettering Cancer Centre di New York. Dalam sebuah penelitian terbaru, ditemukan tingkat kematian 12 persen, meskipun itu hanya dalam dua minggu versus empat minggu dalam penelitian di Inggris.

Sementara itu dilansir dari Reuters, WHO juga menyambut baik temuan ini. Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, temuan ini menjadi “harapan hijau” untuk mengatasi pandemi. Meski begitu, negara-negara tetap harus bekerja keras dalam melakukan langkah-langkah pencegahan untuk memutus rantai penularan virus corona yang terus meningkat. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO Berjanji Lakukan Evaluasi Jujur Terkait Bagaimana Dunia Menangani Covid-19

Current Issues
Covid-19 Tembus SeJuta dalam 5 Hari, WHO Peringatkan Krisis Bakal Memburuk

Current Issues
WHO Kirim Tim ke Tiongok untuk Investigasi Asal Virus Corona