Current Issues

Covid-19 Bikin Penjualan Sepeda di Seluruh Dunia Melonjak, Termasuk Indonesia

Dwiwa

Posted on June 15th 2020

 AP News

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang terpaksa harus diam di rumah demi memutus rantai penularan. Para pecandu kebugaran tidak lagi bisa pergi ke gym, orang-orang tidak berani menggunakan transportasi umum, serta keluarga mulai menjadi gelisah karena terlalu lama berada di dalam rumah.

Energi yang ada lantas dialihkan ke olahraga lain. Salah satunya bersepeda. Kondisi ini membuat penjualan sepeda melonjak tajam.

Dilansir dari AP News, sepeda di toko-toko besar seperti Walmart dan Target di Amerika Serikat telah ludes dan toko-toko sepeda lainnya melakukan bisnis cepat dan menjual sepeda “keluarga” yang terjangkau.

Penjualan sepeda selama dua bulan menunjukkan lonjakkan terbesar di Amerika Serikat sejak krisis 1970-an. Begitu diungkapkan Jay Townley, yang menganalisis tren industri sepeda di Human Powered Solutions.

“Orang-orang jelas panik dan mereka membeli sepeda seperti tisu toilet,” jelas Townley merujuk pada perilaku orang-orang yang langsung memborong barang penting seperti kertas toilet dan lainnya pada awal masa pandemi.

Tren ini bahkan terlihat di seluruh dunia, karena kota-kota yang selalu macet karena mobil, seperti Manila dan Roma, memasang jalur sepeda untuk mengakomodasi peningkatan jumlah pengguna sepeda ketika transportasi umum menjadi terbatas.

Di London, pemerintah kota malah menyiapkan langkah lebih jauh dengan melarang mobil di beberapa jalan utama.

Pemilik toko di ibukota Filipina mengatakan permintaan melebihi saat natal. Insentif keuangan meningkatkan penjualan di Italia, dimana pemerintah memberikan stimulus pasca lockdown bulan lalu termasuk voucher 500 euro (sekitar Rp 7,9 juta) yang bisa digunakan untuk mendapatkan potongan hingga 60 persen dari harga sepeda.

Peningkatan ini menyebabkan kekurangan stok yang mungkin berlangsung berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, khususnya di Amerika Serikat yang bergantung pada Tiongkok sebagai suplier 90 persen dari total sepeda di negara tersebut, kata Townley.

Produksi di Tiongkok sendiri sebagian besar sempat ditutup akibat pandemi dan baru saja di mulai kembali.

Demam sepeda dimulai pada pertengahan Maret. Saat memasuki April penjualan sepeda rekreasi orang dewasa di AS meningkat tiga kali lipat seiring peningkatan seluruh penjualan sepeda termasuk sepeda anak dan sepeda listrik.

Hal ini berdasar laporan perusahaan riset pasar NPD Group yang melacak penjualan sepeda ritel.

Di Indonesia, demam sepeda ini juga membuat lonjakan permintaan di pasaran. Berbagai merk dan jenis sepeda banyak diburu pelanggan. Toko-toko sepeda pun memiliki antrian pelanggan yang mengular demi bisa memboyong pulang sepeda.

Dilansir dari Kontan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo), Eko Wibowo memprediksi jika pandemi Covid-19 bisa menjadi titik balik pasar sepeda yang lesu dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini dikarenakan meningkatnya animo masyarakat terhadap kegiatan bersepeda setelah banyak komunitas pesepeda yang sering membagikan konten. Masyarakat juga semakin sadar pentingnya menjaga kebugaran tubuh di tengah pandemi dan memilih sepeda sebagai sarananya.

Apalagi, distribusi kendaraan roda dua ini juga tidak begitu terganggu meski ada pandemi.

Lalu mengapa lonjakan ini bisa terjadi? Dilansir dari AP News, salah satu penyebabnya adalah para pekerja banyak yang mencari kendaraan alternatif sebagai pengganti bus dan kereta bawah tanah.

Orang-orang yang tidak bisa pergi ke gym juga mencari cara lain untuk tetap bisa berolahraga. Termasuk para keluarga yang mulai mencari cara untuk membuat anak mereka tetap aktif selama di rumah aja. (*)

Related Articles
Current Issues
Kaum Muda Pelanggar Protokol Kesehatan Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Current Issues
Dua Bukti Baru Tunjukkan Dampak Buruk Covid-19 Pada Jantung

Current Issues
Ilmuwan Identifikasi Varian Versi Siluman dari Omicron, BA.2, Apa Itu?