Lifestyle

Merasa Capek dan Jenuh, Padahal Aktivitas Berkurang? Itu Boreout, Bukan Burnout

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 13th 2020

(Dribbble) 

Sering dengar istilah burnout? Biasanya kata ini kita pakai untuk menggambarkan keadaan lelah mental yang diakibatkan padatnya jadwal sehari-hari atau tuntutan pendidikan hingga pekerjaan yang banyak banget. Tapi ternyata, ada lho istilah yang menggambarkan keadaan yang serupa, namun dengan penyebab yang berbeda. Kondisi tersebut dinamakan boreout.

Boreout atau boreout syndrome adalah kondisi lelah psikis yang diakibatkan oleh kurangnya aktivitas yang kita lakukan. Kita bisa lihat dari kata bore yang berarti membosankan. Mungkin terdengar aneh. Nggak banyak pekerjaan kok malah jadi masalah sih, kan enak?

Misalnya di masa pandemi seperti sekarang. Kegiatan di luar rumah seperti bersekolah atau bekerja jadi nggak ada. Semua via online. Kalau sudah selesai semua urusan, kita tetap di rumah. Gak bisa ngobrol-ngobrol sama teman atau sekadar jalan-jalan sebentar. Terus, mau ngapain lagi kita?

Bingung apa lagi yang mau dikerjakan, akhirnya scrolling Instagram. Marathon drama Korea atau series. Liat-liat video TikTok. Apa lagi yang harus dilakukan? Mendadak waktu terasa terlalu banyak padahal di masa normal kita bingung kenapa satu hari cuma ada 24 jam.

Hidup terasa membosankan. Namun sebenarnya, jauh di dalam diri kita, perasaan bosan itu sebenarnya topeng dari rasa cemas (anxiety) tahap awal. Kita cemas orang lain akan menggeser posisi kita di dalam pekerjaan atau lingkungan tempat kita berada. Itu lah mengapa boreout bisa memiliki efek kesehatan mental dan fisik yang sama dengan burnout.

Seseorang yang merasakan boreout biasanya merasakan kepuasan pekerjaan yang rendah. Pegawai dengan pekerjaan yang monoton dan tidak banyak variasi punya risiko serangan jantung yang lebih tinggi.

Penelitian terhadap 7.500 pegawai pemerintahan di Inggris juga menunjukkan bahwa pegawai yang sering mengalami kebosanan punya potensi mengidap penyakit jantung atau pembuluh darah. Para peneliti berpendapat bahwa ini bisa terjadi karena adanya kemungkinan para pegawai tersebut punya kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi minuman keras sebagai "pelarian" dari rasa bosan mereka.

Seorang pekerja asal Perancis, Frederic Desnard, mengalami sindrom satu ini. Ia merasa tertekan karena bekerja jauh di bawah standar yang menjadi tanggung jawabnya. “Aku merasa malu digaji namun tidak melakukan apa-apa,” katanya dilansir dari Nzherald.co.

Ia bahkan membawa kasus ini ke ranah hukum karena menilai perusahaannya telah menimbulkan dampak buruk pada Kesehatan mental. Menurut temannya, Desnard sering mengatakan bahwa ia ingin melakukan bunuh diri karena pekerjaannya itu.

Mungkin ada yang berpikir kalau seseorang yang sedang mengalami kebosanan yang parah banget bisa menyelesaikan tugas atau kewajiban mereka dengan baik atau lebih cepat. Namun ternyata pribadi yang bored-out justru kurang mampu menyelesaikan kewajiban mereka dengan baik dan membuat lebih banyak kesalahan.

Dan, untuk menghindari hubungan dengan sumber kebosanan yang mereka rasakan, orang yang mengalami boreout sering kali absen atau menghilang dari instansi yang menaungi. Misalnya kalau bosan dengan sekolah, pasti banyak deh absennya. Kalau bosan dengan pekerjaan kantor, pasti ada aja alasan untuk izin.

Pastinya nggak ada yang mau dong untuk merasakan sindrom boreout ini. Tapi rasa bosan yang kita rasakan ini sebenarnya salah satu hal keren yang dimiliki otak kita!

Menurut Dan Cable, seorang profesor dari London Bussiness School, otak manusia memang nggak bisa diam dan menikmati satu hal secara terus-menerus. Rasa bosan menjadi sinyal kita untuk mengevaluasi kegiatan apa saja yang kita lakukan. Kalau rasa bosan menghampiri, otak kita artinya kurang merasa tertantang dengan apa yang kita lakukan sekarang. Diri kita sendiri seakan berteriak, “Ayo, kamu bisa lebih dari ini! Jangan berhenti di sini!”. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Stres Akibat Covid-19 Dapat Berdampak Pada Kebugaran Fisik

Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Current Issues
CDC: Warga AS di Bawah 30 Tahun Paling Banyak Cemas dan Depresi Selama Pandemi