Current Issues

Lockdown Dilonggarkan, Gelombang Kedua Covid-19 Semakin Nyata?

Dwiwa

Posted on June 13th 2020

Kasus Covid-19 di masih terus meningkat setiap harinya. Bahkan hingga hari ini (13/6), sudah lebih dari 7,2 juta jiwa telah terinfeksi dengan kasus kematian mencapai 413 ribu. Meski begitu, beberapa negara yang merasa telah berhasil mengatasi pandemi telah memutuskan untuk melonggarkan lockdown yang selama ini dilakukan untuk memutus rantai penularan.

Dilansir dari Reuters, keputusan pencabutan aturan lockdown di berbagai negara membuat para pejabat kesehatan di seluruh dunia merasa khawatir. Mereka menilai jika pencabutan lockdown yang dilakukan terlalu cepat. Mereka pun juga prihatin dengan semakin meluasnya protes anti-rasisme yang dapat membuat Covid-19 makin meluas.

“Kita harus siap untuk menarik kembali langkah-langkah pelonggaran jika dibutuhkan,” ujar Komisioner Kesehatan Eupean Union Stella Kywiakides setelah 27 anggotanya terus bergerak dengan melakukan tes terhadap populasi setelah mereka membuka kembali sekolah  dan aktivitas bisnis.

Di Tiongkok, tempat virus corona jenis baru ini berasal, dua kasus Covid-19 kembali muncul di Beijing. Hal ini membuat pihak berwenang menutup sebagian maupun keseluruhan dari enam pasar makanan grosis besar yang baru saja dikunjungi oleh kedua orang tersebut tetapi tidak diketahui bagaimana mereka bisa terinfeksi.

Di India, sebagian besar transportasi publik, kantor, dan mall telah dibuka kembali minggu ini setelah tutup hampir 70 hari meskipun pejabat kesehatan mengatakan jika kurva kasus masih belum datar. Bahkan, Jumat (13/6) terjadi peningkatan kasus hingga 10.956 dengan jumlah terbanyak berasal dari Delhi, Mumbai dan Chennai.

Di Turki, asosiasi medis terkemuka mengatakan jika pelonggaran pembatasan pada 1 Juni terlalu cepat, meskipun angka kematian dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan menjadi sekitar 20. “Ada pembicaraan tentang kapan gelombang kedua terjadi, tetapi kami bahkan belum berhasil mengatasi gelombang pertama,” ujar Cavit Isik Yavuz, anggota tim penelitian virus corona di Turkish Medics Association.

Sementara di sebagian besar wilayah Eropa, meskipun jumlah kasus baru melambab, para peneliti melihat adanya risiko sedang hingga tinggi jika pasca lockdown dapat memunculkan terjadinya pembatasan baru.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) memperkirakan peningkatan moderat di seluruh Eropa dalam beberapa minggu ke depan, yang dapat membuat sistem kesehatan di bawah tekanan jika tidak diperiksa dengan cepat. Langkah-langkah pengendalian pemerintah harus diperiksa dan membalikkan trend dalam dua minggu.

Direktur ECDC, Andrea Ammon, menekankan pentingnya untuk melakukan physical distancing, menjaga kebersihan tangan dan apa yang dia sebut dengan etiket pernapasan. Sementara itu gelombang protes anti rasisme setelah kematian George Floyd di tangan polisi AS membuat para pejabat merasa khawatir. “Even massal dapat menjadi rute utama penularan,” ujar Martin Seychell, pejabat kesehatan di Komisi Uni Eropa.

 

Panggilan Solidaritas

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Kamis malam jika ancaman gelombang kedua itu nyata. “Kita harus ingat jika meskipun situasi membaik di Eropa, secara global keadaannya semakin buruk. Kita memerlukan solidaritas global untuk mengatasi pandemi ini secara keseluruhan,” ujarnya.

WHO mencatat ada 5.347 kematian baru pada Kamis dengan 3.681 di antaranya berasal dari Amerika. Peningkatan kasus di Amerika yang masih cukup besar membuat orang khawatir jika dibukanya perekonomian AS akan memicu gelombang kedua.

AS mencatat ada lebih dari 113 ribu kematian akibat virus corona dan menjadi yang paling tinggi di dunia. Ashish Jha, kepala Harvard Global Health Institute, mengatakan kepada CNN jika ini bisa mencapau 200 ribu pada bulan September.

Di Indonesia sendiri, jumlah kasus Covid-19 meningkat 1.111 menjadi 36.406 pada Jumat dengan tingkat kematian mencapai 2.048. Meski begitu, pemerintah saat ini telah melakukan persiapan untuk hidup new normal setelah sempat melakukan beberapa langkah penutupan, termasuk penghentian transport dan pembatasan sosial skala besar (PSBB), untuk mencegah penularan Covid-19.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Covid-19 Global Tembus 10 Juta Kasus, Hampir 500 Ribu Penderita Meninggal Dunia

Current Issues
Lonjakan Covid-19 Seminggu Terakhir Jadi Bukti Jika Kehidupan Normal Masih Jauh

Current Issues
WHO Kirim Tim ke Tiongok untuk Investigasi Asal Virus Corona